INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Hebat Falsafah Hidup Buya Hamka - Tidaklah akan didapat dua manusia yang sama jalan kehidupannya dan tidak pula sama kekuatan badan dan akalnya. Tiap orang mempunyai kekuatan sendiri, berlainan kekuatan akalnya sebagaimana berlainan bentuk badannya.

Bukanlah pada muka pada suara dan pada langkah kaki saja dapat mengenal seseorang, bahkan sejak dalam rahim ibu sudah nyata berlainan aliran hidup itu. Tiap anak lahir ke dunia mencucut jarinya, tetapi bentuknya telah dapat dibedakan dengan anak yang lain. Tentu saja otaknya pun demikian pula. 

Di dalam otak itu terdapat tidak kurang 180.000 juta sel halus yang tidak dapat dilihat satu persatu kalau tidak dengan mikroskop. Tiap-tiapnya terbagi kepada beberapa tumpukan berhubungan dengan tumpukan yang lain, dia mempunyai pusat pertemuan yang tak ubahnya dengan alat pendengar menerima suara yang ada di dalam telepon. Ada satu bagian yang menerima hubungan dari  telinga, dari mata, dari hidung dan kaki, tangan dan lain-lain. Sedang yang jadi pusatnya ialah benak itu.

Kita bekerja keras terus-menerus, tidak berhenti sejak kita dilahirkan, disudahi setelah kita mati. Padanyalah berdiri kehidupan. Kalau kejadian dan pekerjaan otak itu telah kita perhatikan, kita selidiki pula kehidupan dan pengalaman yang selalu ditempuh manusia dalam hidupnya, dapatlah kita mengerti apa sebabnya hal yang telah lama berlalu masih dapat kita ingat, karena telah ada simpanan dalam perbendaharaan yang bemama benak atau otak dalam kepala kita. 

Orang yang mempelajari otak manusia dalam ilmu kedokteran berpendapat susunan otak itu sangat rapi dan teguh. Jalan pekerjaan yang dilakukannya amat sulit dan sukar diselidiki lebih dalam. Sebab dia tidak seperti mesin yang dapat diketahui rahasianya oleh montir yang pandai, tetapi bahwa otak itu be­kerja, mereka tidak heran lagi, sebagaimana tidak syaknya akan adanya ma­tahari di pertengahan siang. Susunan itu dan pekerjaannya adalah bertali, dan berhubung aka! adalah menjadi asasnya. Menurut penyelidikan otak anak-anak sejak lahir sampai masanya betjuang menuju dewasa, yang dinamai- jaman pencaroba, kelihatan bertambah besar dan susunarinya bertambah sulit. 

Bertambah besar otak itu dan bertambah bekunya, bertambah luaslah daerah usaha dalam hidupnya, Tetapi jika di dalam menuju kebesarannya pada suatu kali tiba-tiba ditimpa oleh suatu penyakit, maka jalan otak itu pun tertahan, Di dalam kalangan keluarga kami ada terdapat seorang anak muda yang dari turunan orang yang "encer otak" dan mempunyai budi pekerti baik, tetapi apabila mempelajari ilmu-ilmu yang berkehendak kepada berpikir tidak didapatnya angka yang bagus, ilmu hitung memusingkan kepalanya, ilmu yang mesti dihafal menyebabkan dia sakit Temyata ketika berumur 4 tahun, dia pemah tetjatuh dan tempurung kepalanya terbentur dan sampai dewasa bekas benturan itu masih kelihatan. Dia mengerti segala perkara hila ditunjukkan, tetapi sukar memikirkan. Menurut penyelidikan ahli, kalau penyakit itu mengenai sebagian otak saja misalnya, sebahagian itulah pula yang lemah beketjanya. Sebab itu tidak sedikit bekas penyakit merusak akal, dan harus dijaga benar kesehatan otak itu supaya sehat pula jalan akal. 

Walaupun negeri kita masih kekurangan dokter-dokter spesialis otak, tetapi di negeri lain telah ada dokter yang sanggup mengobati penyakit yang ada dalam otak itu atau menyamaratakan petjalanan sebagian otak yang lemah, dibandingkan dengan sebagian yang lain. Sehingga seorang anak yang lemah akal, yang tolol, pandir, bisa diobati sehingga bisa berpikir. Nyatalah bahwa otak itu alat yang hidup sendiri dalam kehidupan manusia. Kekuatan otak itulah yang menimbulkan angan-angan, pikiran, kehendak, ingatan, cita-cita dan lain-lain yang timbul daripada akal dan nafsu. Kehidupan otak itu timbul dari kekuatan zat oksigen, yaitu zat yang disebut zat pembakar. 

Kalau sekiranya berhenti oksigen itu dari peketjaannya, berhentilah otak dari beketja, sebagaimana berhentinya api yang tiada mendapat hawa udara. Itulah sebabnya sebagian ahli tidak mau mengatakan bahwa kekuatan otak itu timbul daripada pertalian zat benda dengan roh. Akan tetapi akal atau roh itu ialah bekas daripada petjalanan otak yang sehat laksana gejala api itu timbul daripada Jilin yang sedang terbakar. Tegasnya kalau otak itu kembali kepada anasimya yang tersendiri, ditinggalkail oleh kekuatan bakaran oksigen, maka berhentilah otak beketja. Artinya berhentilah yang dina111ai akal itu, Demikian keyakinan ahli kesehatan dengan mikroskop dan laboratoriumnya. Itulah sebabnya pada masa yang akhir ini terutama semenjak ada Prof Sigmund Freud, ilmu kedokteran modem mempunyai keyakinan penyakit jiwa pun bisa diobati dan bisa diselidiki sebab timbulnya, misalnya dari turunan atau penyakit ketika kecil  dan Jain sebagainya. Roh itu menurut keyakinan mereka setengah berjalan ialah pada otak. Perjalanan anggota ini hanya dari sana, tak dapat dipisahkan. 

Tetapi ahli ilmu ·yang suka menyelidiki rahasia maddah dan persambungannya dengan kekuatan batin, tidak suka menerima saja penyelidikan setengah ahli ilmu kedokteran itu. Menurut mereka otak itu  adalah suatu zat kasar yang menjadi perkakas daripada kekuatan yang batin, yaitu roh. Adapun roh itu - kata mereka - berbeda antara satu sama yang lain, laksana perbedaan suara musik pada gitar yang sedang dibunyikan. Pendapat ini menjadi tafsir daripada i'tikad ulama rohani, karena ahli rohani beri'tikad roh atau akal itu datang dari alam Jain yang tidak dikenal, hingga kepada jasmani manusia, lalu terjadilah hidup. Maka tubuh itulah yang diambilnya menjadi sarang sampai kepada suatu waktu yang telah tertentu, setelah itu pun diceraikannya dan ditinggalkannya. Waktu itu terjadilah maut, dim ia pun kembali ke alam yang tiada dikerial tadi.

Di sini nyatalah perbedaan antara kedua pendapat tadi. Ahli yang hanya memperhatikan kehidupan dari segi kebendaan mendahulukan tubuh dan Jilin daripada roh dan nyala. Ahli yang memperhatikan hidup dari segi rohani mendahulukan roh dan nyala daripada tubuh dan Jilin. 

Kehidupan itu laksana tenunan yang bersambung menjadi kain. Sekalian  makhluk di muka bumi ini seakan-akan tidak kelihatan di dalam tenunan ini, karena sangat kecil. Maka tenunan hayat yang kita Iihat ini adalah ujung daripada pangkal kain yang telah lalu, yang bersambung, tiada putus, sejak dari awal yang tiada diketahui kapankah sampai kepada akhir yang belum diketahui. 

Setelah waktu yang telah ditentukan itu dilaluinya, maka kehidupan itu pun berhenti pada suatu perhentian yang bernama "el maut". Yaitu berhentinya perjalanan darah 'yang mengandung oksigen mengelilingi badan; bersamaan dengan itu sel yang kecil-kecil tadi pun berhenti perjalanannya dengan tidak diharap akan kembali Jagi. 

Menurut penyelidikan ahli ilmu kedokteran, kadang-kadang sesudah otak mati bekerja, jantung masih bergerak, sampai dua jam di belakangnya atau lebih. Kadang-kadang ada orang yang mencoba mengambil jantung mayat itu, dicobanya menghidupkan kembali dengan perkakas, artinya hidup menurut kehendak "ilmu". Maka ia pun hidup, serupa seolah-olah jantung itu masih didalam dada yang punya, yang telah masuk kubur ltu. Urat-urat yang berada di dalarnnya kelihatan hidup, sampai 40 jam di belakang. Sel yang kita katakan tadi pun telah dicoba juga oleh dokter-dokter itu memisahkannya daripada tubuh yang telah mati. Diberinya tempat yang khusus dalam laboratorium.

Padahal tubuh itu sendiri berada dalam tanah. Kematian itu datang tidaklah pula secepat kilat, tetapi berangsur-angsur, adakalanya seperti lampu dinding yang kehabisan minyak. Atau laksana sebuah negeri yang ditimpa kelaparan, penduduknya mati , tetapi tidak sekaligus, melainkan hanya yang lemah dahulu, berturut-turut sampai kepada yang lebih kuat menahan lapar. Raha·sia kejadian itu ialah lantaran asas kehidupan memberi manusia bekal dengan beberapa alat yang perlu seperti udara, air dan makanan untuk memelihara hidup. Itulah pendirian orang yang memperhatikan kehidupan manusia dari segi yang lahir. Mereka berpendapat mannusia perlu makan. Jika makan teratur, pikirannya terbuka, bila makanan sehat, akal bertarnbah.

Manusia perlu vitamin supaya dia cerdas. Kekurangan akal anak Indonesia bergantung kepada kehidupan mereka yang amat morat-marit. Oleh sebab itu, kehidupan akal itu tidak dapat dipisahkan dengan stof-stof atau bekal hidupnya. 

Baru satu abad manusia menemukan bahwa manusia berasal daripada "telur putih" yang ada dalam air mani. Mani itu ada masa hidupnya dan ada masa matinya, sehingga sudah dapat ditentukan orang, bila masa dia "menetas" yaitu terkumpul menjadi "bekal anak" yang kemudian akan menjadi seorang  laki-laki atau perempuan. Orang tidak habis pikir bagaimana telur laki-laki yang mempunyai belalai halus; menyatukan diri dengan telur perempuan pada suatu waktu di dalarn rahim, kemudian menjadi satu dan lama-lama jadi darah, dari darah menjadi daging lalu berupa dan berbentuk. Orang sangat takjub memikirkan masa yang ditempuhnya itu, masa yang sulit dan penuh kekayaan Tuhan. Mulanya · hanya sel yang teramat kecil lagi putih, hampir tidak kelihatan dalarn teropong ketika dilihat. Lantas diberi berbentuk Sampai kepada soal yang lebih kecil, seperti sebab telinga mendengar dan mata melihat, di dalamnya kelihatan pula sel tadi, yang masih akan lahir dan yang telah mulai mati dan setengahnya sedang berjalan. Sehingga setelah melihat itu timbulah pikiran kita bahwasanya manusia ini tiap hari lahir dan tiap hari mati, sampai datang mati yang besar itu. Tiap hari pula kelihatan semangat kehidupan atau kekusutan hidup, bekerja baik atau jahat.

Bagaimanakah akal kita akan dapat memutuskan perkara ajaib ini? Bagaimana dari satu makhluk yang amat hal us, dan hidup dapat jadi satu manusia, berakal dan berpikir?  Orang bertanya: Apakah manusia yang meniupkan hidup kepada tubuh halus itu? Ahli ilmu memberinya nama AI Atsier, "Ether" atau bekas Dialah yang menyuruh menempuh evolusi dari kecilnya kepada besamya. Tetapi  tidak pula dapat diputuskan orang apakah ether itu sebetulnya. 

Maka teori lama telah berganti dengan teori baru. Sesudah bertemu dengan sel halus yang ada menaruh hidup itu, orang bertemu dengan ether. Ether itu pun hanya dapat diberi nama sekedar nama itu saja. Di sana terhenti perkara ini dan belum juga bertemu ujungnya, yaitu ether dari mana datangnya dan dari mana asalnya atau pokok kejadiannya. Kita merasa seolah-olah berada di hadapan pintu setengah terkunci, pada kebingungan yang sangat, karena tidak bertemu lagi dan pintu itu teguh buat selama-lamanya. Waktu itulah kita menyadari bahwasanya ada lagi suatu kekuasaan yang mengatur segala sesuatuu dengan bijaksana. 

Siapakah sebenarnya Dia? Kita tidak tahu dan tidak dapat mengetahui apa zatNya, cuma kita dapat mengetahui Dia ada, ialah dari melihat dan mengetahui bekas perbuatanNya. Kita tidak tahu, kita tidak mendapat. "Sebab kita tidak mendapat, maka telah mendapatlah kita" 

Nyatalah kita manusia sejak dari pertemuan telur ibu dengan telur ayah, dierami oleh ibu di dalam perutnya sampai menetas, sampai jadi anak, dan manusia, sampai hidup, berjuang dan mati semuanya melalui jalan yang telah terentang. 

Demikianlah tenunan hidup yang kita lihat itu, dan demikian pulalah hidup pada yang lain menurut takdir dan ketentuannya masing-masing. kehidupan manusia dari segi yang lahir. Mereka berpendapat man.usia perlu makan. Jika makan teratur, pikirannya terbuka, bila makanan sehat, akal bertarnbah. Kalau oksigen tidak kedalam membantu otak, buah pendapat akal yang waras tidak akan keluar. Manusia perlu vitamin supaya dia cerdas.

Kekurangan akal anak Indonesia bergantung kepada kehidupan mereka yang amat morat-marit. Oleh sebab itu, kehidupan akal itu tidak dapat dipisahkan dengan stof-stof atau bekal hidupnya.

Baru satu abad manusia menemukan bahwa manusia berasal daripada "telur putih" yang ada dalam air mani. Mani itu ada masa hidupnya dan ada masa matinya, sehingga sudah dapat ditentukan orang, bila masa dia "menetas" yaitu terkumpul menjadi "bekal anak" yang kemudian akan menjadi seorang laki-laki atau perempuan. Orang tidak habis pikir bagaimana telur laki-laki yang mempunyai belalai halus; menyatukan diri dengan telur perempuan pada suatu waktu di dalarn rahim, kemudian menjadi satu dan lama-lama jadi darah, dari darah menjadi daging lalu berupa dan berbentuk. Orang sangat takjub memikirkan masa yang ditempuhnya itu, masa yang sulit dan penuh kekayaan Tuhan.

Mulanya hanya sel yang teramat kecil lagi putih, hampir tidak kelihatan dalarn teropong ketika dilihat. Lantas diberi berbentuk Sampai kepada soal yang lebih kecil, seperti sebab telinga mendengar dan mata melihat, di dalamnya kelihatan pula sel tadi, yang masih akan lahir dan yang telah mulai mati dan setengahnya sedang berjalan. Sehingga setelah melihat itu timbulah pikiran kita bahwasanya manusia ini tiap hari lahir dan tiap hari mati, sampai datang mati yang besar itu. Tiap hari pula kelihatan semangat kehidupan atau kekusutan hidup, bekerja baik atau jahat.

Bagaimanakah akal kita akan dapat memutuskan perkara ajaib ini? Bagaimana dari satu makhluk yang amat hal us, dan hidup dapat jadi satu manusia, berakal dan berpikir?

Orang bertanya: Apakah manusia yang meniupkan hidup kepada tubuh halus itu? Ahli ilmu memberinya nama AI Atsier, "Ether" atau bekas Dialah yang menyuruh menempuh evolusi dari kecilnya kepada besamya. Tetapi tidak pula dapat diputuskan orang apakah ether itu sebetulnya.

Maka teori lama telah berganti dengan teori baru. Sesudah bertemu dengan sel halus yang ada menaruh hidup itu, orang bertemu dengan ether. Ether itu  pun hanya dapat diberi nama sekedar nama itu saja. Di sana terhenti perkara ini dan belum juga bertemu ujungnya, yaitu ether dari mana datangnya dan dari mana asalnya atau pokok kejadiannya. Kita merasa seolah-olah berada di hadapan pintu setengah terkunci, pada kebingungan yang sangat, karena tidak bertemu lagi dan pintu itu teguh buat selama-lamanya. Waktu itulah kita menyadari bahwasanya ada lagi suatu kekuasaan yang mengatur segala sesuatu itu dengan bijaksana.

Siapakah sebenarnya Dia? Kita tidak tahu dan tidak dapat mengetahui apa zatNya, cuma kita dapat mengetahui Dia ada, ialah dari melihat dan mengetahui bekas perbuatanNya. Kita tidak tahu, kita tidak mendapat. "Sebab kita tidak mendapat, maka telah mendapatlah kita"

Nyatalah kita manusia sejak dari pertemuan telur ibu dengan telur ayah, dierami oleh ibu di dalam perutnya sampai menetas, sampai jadi anak, dan manusia, sampai hidup, berjuang dan mati semuanya melalui jalan yang telah terentang.

Demikianlah tenunan hidup yang kita lihat itu, dan demikian pulalah hidup pada yang lain menurut takdir dan ketentuannya masing-masing.

Posting Komentar Blogger