INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
Hidup Sekali Mesti Berarti -“Hidup ini hanya sekali. Maka selalulah meminta kepada Tuhan dan teruslah berbuat, sehingga hidup ini menjadi lebih berarti.” Begitulah salah satu pesan monumental dari salah seorang pejuang Islam, muslim negarawan, DR. Mohammad Natsir.
Berkaitan dengan ungkapan Natsir di atas, dalam surah al-Ashr Allah SWT telah mewahyukan, ”Demi masa. Sesungguhnya manusia itu dalam keadaan merugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shaleh, nasehat menasehati dalam kebenaran dan nasehat menasehati dalam kesabaran.”
Imam Syafii pernah mengungkapkan tentang keutamaan surat al-Ashr; “sekiranya Allah SWT mau menghendaki, maka satu surat ini saja sudah cukup bagi manusia untuk menjadi pedoman guna meraih keselamatan hidup dari dunia sampai ke akhirat nan abadi.”
Surah ini memang istimewa dan sarat makna. Di dalamnya termuat semua aspek universal yang dibutuhkan seorang manusia ketika menjalani misi kehidupan sebagai hamba Allah SWT. Di sini, Allah menegaskan pesanNya yang terintegrasi dan memiliki korelasi yang sangat kuat antara satu pesan dengan pesan lainnya di dalam satu surah, bahkan pada ayat yang sama. Inilah surah yang mendorong kita manusia agar bisa menjadikan hidup ini lebih berarti, baik di mata Tuhan mau pun di mata makhluk-makhlukNya.
Pada awal surah ini, Allah membuat terapi kejut dengan sumpahNya, “demi masa.” Ya, demi masa, demi waktu, demi detik yang tak henti berputar Allah menyentak manusia, hambaNya. Sebuah sumpah yang ingin mengajarkan betapa waktu teramat sangat penting dalam hidup dan kehidupan.
Lebih tajam lagi, setelah bersumpah dengan waktu, kemudian Allah mengatakan bahwa semua manusia itu dalam keadaan merugi. “Sesungguhnya -seluruh manusia- dalam keadaan merugi,” kata Allah. Sampai pada kalimat di ayat itu, tidak ada yang tidak merugi.
Dari sana terlihat jelas bagaimana Allah mengajarkan kita. Diawali dengan sumpah yang menyentakkan, kemudian dengan ungkapan yang menggetarkan, “manusia itu dalam keadaan merugi.” Belum ada pengecualian. Sangat terang dan gamblang, bahwa atas nama waktu, semua manusia itu merugi!
Barulah setelah menyentakkan itu Allah mengecualikan pada beberapa hal, yakni orang-orang yang beriman, beramal shaleh, nasehat-menasehati dengan kebenaran dan nasehat-menasehati dalam menepati kesabaran. Dan inilah pesan lengkap dalam menjalani episode kehidupan dunia agar selamat dan tidak merugi.
Kata Allah, yang tidak merugi pertamanya adalah manusia yang beriman. Inilah pesan selamat kehidupan yang pertama dan utama. Keimanan yang melambangkan ajaran tentang aqidah yang lurus dan tidak ada perserikatan di dalamnya. Keimanan yang menjadi bukti keyakinan yang bulat secara rububiyah, uluhiyah dan mulkiyah semata kepada Allah SWT. Dan juga keimanan yang bersih dari segala bentuk perselingkuhan keyakinan kepada Tuhan dan ke-MahakuasaanNya.
Inilah landasan dasar kehidupan. Pondasi yang akan memberdirikan kokoh dan menegapkan langkah selama hidup di dunia fana. Segalanya bermula dari keimanan. Perjalanan menuju kebahagiaan, keselamatan dan keuntungan berlipat, tiada langkah pertamanya, kecuali keimanan.
Akan tetapi, beriman saja tidaklah cukup. Yakin akan keberadaan Allah berikut ciptaan dan kekuasaanNYA belumlah cukup menjadi bekal untuk tidak merugi. Kata Hasan Al Banna, “Aqidah itu tidak akan berarti apa-apa sebelum mampu menuntun para penganutnya untuk berbuat menjadi amal nyata dalam kesehariannya.” Oleh sebab itu, pesan selamat kedua setelah beriman adalah melakukan amal shaleh.
Iman yang baik dan benar adalah iman yang mendorong pemiliknya untuk beramal. Sebaik-baik amal di mata Tuhan adalah amal shaleh. Adapun amal shaleh adalah amal yang memang mencapai apa yang asasi dari sasarannya, dilakukan seperti apa yang dikendekai Tuhan dan seperti apa yang diajarkan oleh RasulNya Muhammad saw. Karena setiap amal memiliki aturan dan sasaran-sasarannya tersendiri.
Tidak ada iman tanpa amal shaleh dan tidak ada amal shaleh tanpa keimanan. Jadi, yang terbaik adalah bagaimana amal shaleh itu disebar dengan berlandaskan keimanan, dan bukan atas landasan-landasan yang lain.
Shalat, puasa, zakat, bersedekah dan amal-amal lainnya mesti dilakukan atas landasan keimanan dan diupayakan sampai kepada apa yang menjadi sasarannya. Itulah amal shaleh. Jika di antara sasaran dari shalat adalah untuk mencegah perbuatan keji dan mungkar serta untuk melakukan wisata spiritual bertemu Tuhan, maka shalat akan menjadi amal shaleh ketika memang shalat itu mampu mencegah pelakunya dari berbuat keji dan mungkar. Jika tidak demikian, shalat itu belumlah menjadi amal shaleh di mata Tuhan, dan mungkin baru pada tataran menggugurkan kewajiban semata. Hal ini hanya satu pemisalan saja yang oleh karenanya hal itu pun tentu berlaku pada ibadah-ibadah lainnya.
Agar hidup tak berbuah kerugian, lebih lanjut Allah mengatakan, setelah beriman dan beramal shaleh dengan keimanan itu, juga belum cukup untuk tidak merugi. Selanjutnya ada lagi kewajiban untuk saling manasehati dengan kebenaran.
Inilah kunci ketiga. Di sini Allah nampaknya ingin memesankan bahwa bagaimana keimanan dan keshalehan yang dimiliki seseorang tidak sekedar menjadi keimanan dan keshalehan pribadi, tetapi lebih penting dari itu adalah bagaimana semua itu bisa menjadi kesahalehan sosial.
Bagi Allah, sendiri saja beriman dan sendiri saja beramal shaleh tidaklah cukup. Tetapi yang Allah inginkan adalah bagaimana keshalehan yang ada dalam setiap pribadi itu bisa ditularkan ke pribadi-pribadi lain di luar diri. Oleh sebab itu, Dia memerintahkan untuk saling menasehati dalam kebenaran. Dengan demikian pula, tidak akan bernilai keimanan dan amal shaleh tanpa ada saling menasehati dengan kebenaran.
Inilah seruan mulia itu. Inilah pekerjaan mulia dan akan memuliakan siapa pun yang menyerukan dan menyambutnya. Inilah dakwah yang menjadi fardhu ain bagi siapa pun yang mengaku telah beriman kepada Allah. Sebuah pekerjaan yang akan membuat keimanan dan keshalehan tidak hanya terpahat di dalam diri semata. Tapi merupakan kewajiban untuk mengantarkan cahaya-cahaya benderang Ilahiyah ke seluruh pelosok bumi. Sebuah pekerjaan yang telah dibuktikan Rasulullah mampu menyalakan setiap keredupan dan kegelapan jiwa dan bumi seisinya.
Inilah bekal keselamatan yang mesti dilakukan dengan membangunkan mereka yang tertidur, mengingatkan yang lupa, memperbaiki kesalahan dan meluruskan setiap kebengkokan. Kata Allah dalam ayat lain, “Serulah manusia itu ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” Inilah jalan dakwah!
Syekh Mustafa Masyhur mengatakan, “Sunnatullah kehidupan ini tidak akan pernah lepas dari pertempuran antara yang haq dengan yang bathil. Oleh sebab itu, kita hanya punya satu pilihan diantara dua; apakah kita akan bersama dengan kebenaran atau akan bersama dengan kebathilan. Apakah kita akan memilih menjadi ahlul haq ataukah akan memilih sebagai ahlul bathil. Maka selalulah perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain kepada kebaikan.”
Selanjutnya, setelah masuk kepada kunci ketiga, ternyata juga belumlah cukup sampai di situ. Lebih dalam lagi, setelah beriman, beramal shaleh dan saling menasehati dalam kebenaran, agar tidak merugi manusia dituntut untuk saling menasehati dalam menepati kesebaran.
Iman, amal shaleh, dakwah dan pekerjaan menyeru kebaikan adalah jalan panjang nan berliku yang tak kenal sudah. Di sana banyak onak dan duri, ujiannya bertaburan, didukung oleh orang yang tidaklah banyak, sedangkan penentangnya selalu ada. Oleh sebab itulah Allah mensyaratkan lagi untuk menepati kesabaran dalam upaya menyampaikan kebenaran itu. Sebuah pesan yang ingin menjadikan kita orang yang bersabar dalam keimanan, bersabar dalam beramal shaleh dan bersabar dalam memegang kebenaran dan menyampaikannya. Inilah kunci kelima.
Begitulah Allah berpesan dalam firman yang singkat namun padat. Pesan lengkap yang tidak bisa dipisahkan satu sama lainnya, atau hanya diambil salah satunya saja. Artinya, dalam hidup dan kehidupan ini, kita tidaklah bisa hanya beriman saja tapi tidak beramal shaleh dan menyampaikan kebenaran. Atau beramal shaleh saja tanpa beriman. Atau saling menasehati saja tanpa ada iman dan amal shaleh. Atau hanya mampu bersabar saja tanpa ada iman dan amal shaleh. Semuanya mesti diambil dan dijalankan dalam sebuah irama sinergi.
Waktu adalah kehidupan. Oleh karenanya, setiap helaan nafas, setiap jantung yang berdetak, setiap darah yang mengalir dan setiap langkah yang terayunkan mesti dipastikan dalam iman, beramal shaleh, saling berwasiat dan bersungguh-sungguh dalam menepati kesabaran. Semoga saja dengannya kita akan menemukan hidup yang tidak berbuah kerugian dan waktu demi waktu yang kita lalui, selalu akan menjadikan hidup ini lebih berarti, Insyaallah. Wallahu’alam.
By. Mamanto Fani, S.Pt
dari Buku "Hidup Sekali Mesti Berarti"
Posting Komentar Blogger Facebook