INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
Sumber Kekuatan adat Minang - Daerah Minangkabau sangat indah alamnya, letak nagari nya, gunungnya yang tinggi-tinggi dan tanahnya yang subur, haruslah diakui bahwasanya Minangkabau telah pernah memiliki kebudayaan yang tinggi. Tatkala Aditiawarman menjadi raja, sebagai turunan Majapahit, baginda telah mendapati juga nagari yang teratur. Tiap-tiap nagari berdiri sendiri, diperintah oleh kepala-kepala suku yaitu mamak yang cerdik dan tertua. Kumpulan penghulu-penghulu itu terikat di dalam kata mufakat.
Buya Hamka dalam bukunya Islam dan Minangkabau menjelaskan " Pemerintahan di Minangkau kabau berbentuk dua macam; bentuk Aristokrasi, yaitu Koto Piliang, dan bcntuk Demokrasi, yaitu Budi Caniago. Nama dua orang ahli adat yang masyhur yaitu Datuk Ketemanggungan dan Perpatih nan Sabatang, di alam Minangkabau adalah seumpama nama Demang Lebar Daun di dalam kerajaan Sriwijaya, Patih Gajah Mada di dalam kerajaan Majapahit dan Datuk Kinayan di dalam kerajaan Pasai.
Tatkala raja-raja Hindu Budha membawa agama dan pelajaran Budha ke tanah ini, agama tersebut telah ditelan oleh Minangkabau dan dicocokkan dengan adat-istiadatnya. Raja hanya sebagai daulat yang dipertuan, dia hanya sebagai lambang persatuan saja. Kuasa yang sebenamya terletak pada sidang kerapatan penghulu di tiap-tiap nagari itu. Yang berkuasa di atas penghulu itu ialah kata mufakat.
Setelah agama Islam dibawa masuk ke mari, agama. itu pun dicocokkan pula dengan masyarakat. ''Adat bersandi syara', syara' bersandi Kitabullah. Syara' mengatakan, adat memakai. Mesjid sebuah, balairung seruang"
Penghulu yang tadinya menerima pusaka daripada Perpatih nan Sabatang dan Datuk Ketemanggungan, sekarang memakai pusaka daripada Rasulullah : .,Menyuruh berbuat baik, mencegah berbuat jahat.
Karena timbul perhubungan dengan Malaka dan Aceh, dipersatukan pemerintahan lama dengan pemerintahan Islam. Setelah terjadi peperangan Paderi yang hebat, ninik-mamak mendapat kekuasaan penuh menghukum anak-buahnya, maka di samping hukuman adat, banyaklah dipakai cara menghukum yang tersebut di dalam agama lslam. Misalnya tentang syah dakwa berkelengkapan, batal dakwa berpelilat. Dipakai untuk pezina bagi pendakwa bersumpah atas yang ingkar.
Contoh dasar-dasar hukum akad di dalam adat Minangkabau yang semuanya diambil daripada agama Islam.
Hukum akal tiga perkara. Pertama wajib, kedua mustahil, ketiga jaiz. Pohon akal empat perkara, pertama akal, kedua tawakkal, ketiga bcrakal, keempat naqal.
Alur dan patut, rasa dan periksa, hingga dan tangga.
Adat dua macam, pertama Jahiliyah, kedua Islamiyah.
Terbagi atas empat, adat nan teradat , adat istiadat, adat nan di adatkan, dan adat isti'mal.
Cupak terbagi dua, cupak asli, cupak buatan.
Kata terbagi empat, kata pusaka, ,kata mufakat, kata dahulu bertepati, kata kemudian kata bercari.
Lembaga kata-kata:
Kata raja melimpahkan, kata penghulu bermufakat, kata nan tua menyelesai, kata manti kata penghubung,' kata dubalang kata menderas, kata banyak kata bergalau (berkacau), kata· perempuan
kata merendah.
Empat jalan ditempuh ; menurun dari yang tinggi kepada yang rendah, dari guru kepada murid, dari bapak kepada anak, dari mamak kepada kemenakan. Mendaki dari bawah ke atas, dari murid kepada guru. Mendatar, kata sama besar. Melereng, kata beripar-berbisan, berhanda-bersemanda.
Tidak tahu yang empat itu, bernama: ,.tak tahu di empat".
Lima lawannya lima : awal lawannya akhir, lahir lawannya batin, tinggi lawannya rendah, mudharat lawannya manfa'at, ada lawannya tidak ada.
Tidak tahu yang lima berlawan lima ini, bernama: .. tak tau dipuluh".
Elok nagari, dipenghulu, elok kampung di nan muda, elok tapian di orang sumando.
Jiwa demokrasi nyata benar fakta pepatah : .. Elok kata dimufakat, buruk kata di luar mufakat. Kayu berjupang tidak dapat dihentakkan "
Bulat air di pembuluh, bulat kata dimufakat".
Bulat segolong, picak setapik".
Melompat sama patah, menyeluduk, sama bungkuk".
Rumahnya yang besar, gajah mengeram, serentak kuda berlari, bergonjong empat atap ijuk, bertatah timah di tepinya, puteri bertenun di serambi. Lumbungnya tegak di halaman, pertama si Tinjau Laut, kedua si Bajo-bajo.
Sawah berjenjang berbandar buat. Kemenakan seperintah mamak, mamak seperintah tungganai, tungganai seperintah penghulu. Penghulu itulah payung-panji merawa gadang, tempat berteduh kehujanan, tempat bernaung kepanasan. Uratnya tempat bersela, pohonnya tempat bersandar, luas menyelimuti, tinggi yang melindungi. Dia bergelar Orang Kaya, bukannya kaya di emas, bukannya kaya di perak, tapi kaya kata di adat dan pusaka.
Dari teratak menjadi dusun, dari dusun menjadi nagari, nagari menjadi kota. Penghulu berpakaian istimewa, terutama keris, keris sempana ganja-iras, keris bertikam kendirinya, bertuah bukan alang kepalang.
Kata pusaka dan timbangai akal budi yang telah mendalam itu menimbulkan beberapa ratus kata-kata adat yang dalam-dalam, menunjukkan telah tingginya cara berfikir. Berjalan selangkah menghadap surut, berkata sepatah difikirkan. Berlayar menentang pulau, berkata menuju benar.
Teracung kaki inai pengobat, terlanjur mulut emas penebus. Meresek terasa di tangan, berkata terasa di hati. Api padam puntung berasap, rumah sudah, pahat berbunyi. Ayam menang, kampung tergadai. Arang habis besi binasa, tukang penghembus payah saja.
Ilmu pakai akan dipakai, kian berisi kian tunduk. Jangan bagai lonjak labu dibenam, bagai kacang direbus sebuah. Lembaga jadi orang dagang, berkata di bawah-bawah, menyauk di hilir-hilir, ranting orang dipatah, sumur orang digali, adatnya diisi. Ibu cari dunsanak cari, induk-semang cari dahulu.
Tidak ada perang yang tak damai, tak ada sengketa yang tak habis. Robek-robek bulu ayam, habis robek bertaut juga.
Sebab itu maka menjadi kebiasaan bagi orang,Minangkabau, tak boleh berkata terus-terang, tak boleh memakuk dengan matanya, dengan kata-kata sindiran saja cukup. Dua orang ahli-ahli berkata berjawab-jawaban mulut, kita tidak tahu bahwa yang seorang sudah kalah dan keluar keringatnya, padahal mereka berkata-kata dengan manis. Haruslah arif bijaksana dan cerdik-cendekia.
Sampai kepada permainan yaitu pencak, yang amat disukai orang Minangkabau, bila pendekar sama pendekar telah bertemu dan beradu kepandaian, kadang-kadang tidak kena-mengena, padahal mereka telah bermain dengan sungguh-sungguh.
Sampai kepada hidup dalam rumahtangga, di antara suami dan isteri, di antara mertua dengan menantu. Hidup itu di dalam ,seni" juga, mengadu perbasaan yang halus. Apalagi di antara orang semanda dengan mamak rumah. Sebab yang menjadi puncak, didalam rumah ialah perempuan, sehingga si perempuan tidak boleh berkata terus-terang kepada suami, dan suami tidak boleh memandang rumah itu rumahnya.
Gerangan oleh karena adat yang telah tinggi ini dan demokrasi yang telah mencapai kedudukan yang mulia, maka di Minangkabau sendiri orang duduk sama rendah, tegak sama tinggi. Orang cerdik tidak bisa menjual, orang bingung tidak bisa dijual".
Urusan yang penting-penting telah habis di dalam kata-kata saja.
Maka bila ada yang pergi ke tempat lain, ke luar daerahnya, dapatlah dia menciptakan pekerjaan yang besar-besar, untuk ini marilah saya terangkan beberapa contoh. ·
Pertama raja Malewar di abad keenam belas. Dari Minangkabau dia berangkat ke Negeri Sembilan, dia pancang negeri di situ. Sampai sekarang kerajaan yang didirikannya itu masih tegak.
Di permulaan abad ketujuh belas, tiga orang pahlawan telah berangkat ke tanah Mengkasar, yaitu pahlawan agama. Seorang bernarna Datu Ri Bandang, seorang Datu Patimang, seorang Datu Ri Tiro, yaitu menurut nama-nama tempat tinggalnya di Mengkasar.
Yang pertama mengajak Raja Goa masuk Islam, yang seorang mengajak Raja Bone, yang seorang mengajak Raja Wajo. Akhirnya raja-raja itu telah menjadi pemeluk-pemeluk Islam yang setia, karena ajakan dari ahli-ahli agama dari Minangkabau itu. Menurut orang Mengkasar, pahlawan agama itu dinamai ,Datu", padahal ketika itu di nagari mereka sendiri agama Islam itu masih belum maju benar.
Di awal abad kedelapan belas, seorang pahlawan muda, bernama Raja Abdul Jalil, bergelar Raja Kecil", dengan gagah beraninya pula menjadi pahlawan perang, menaklukkan Siak, Johor, Pahang, Lingga dan pulau Riau. Ditaklukkannya pula Raja Deli, dan didirikannya pula suku-suku Minangkabau di Batu Bara. Raja Kecil itu masyhur sebagai pahlawan Melayu Minangkaba.
Di awal abad kesembilan belas masyhur pahlawan Datuk Naning yang bernama Dol Said, melawan Inggeris di Malaka.
Di awal abad kesembilan belas itu juga masyhur Haji Miskin, Haji Piabang dan Haji Sumanik sebagai pembawa faham baru, faham Wahabi dari Mekkah.
Di awal abad kedua puluh Syekh Ahmad Khatib orang Empat Angkat, menjadi guru besar, menjadi Imam dan Khatib di dalam Masjidil Haram di Mekkah.
Di awal abad kedua puluh itu pula Abdur Riva'i menerbitkan surat kabar Bintang Hindia di negeri Belanda. Maka kalau dia tinggal di negerinya, dia sama saja .dengan yang lain-lain, tetapi kalau di luar, ia bercahaya, karena dialah batu akik di antara batu-batu yang banyak.
Semoga bermanfaat........
Semoga bermanfaat........
Posting Komentar Blogger Facebook