INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
Sejarah Minangkabau oleh Buya Hamka - Bahwasanya Minangkabau sudah pernah menempuh zaman kebesaran dan kejayaan semasa 500 atau 600 tahun yang lalu, tidaklah dapat dipungkiri lagi, bahwa di dalam dongeng-dongeng kuno, sebagaimana di dalam Sejarah Melayu karangan Tun Sri Lanang, telah tersebut juga bahwa nagari Minangkabau itu dahulunya suatu kerajaan besar.
Belahan raja-raja keturunan Sang Sapurba yang turun di bukit Siguntang Mahameru (Palembang) yang menurunkan raja-raja Melayu, kata Tun Sri Lanang dirajakan juga di Minangkabau. Orang tua-tua Minangkabau mengatakan, bahwa mereka keturunan Maharaja Diraja yang turun dari puncak gunung Merapi tatkala datang dari tanah besar Hindustan.
Perkara turun dari gunung atau asal daripada bangsa dewa dari kahyangan dan lain-lain itu, adalah kepercayaan yang hampir rata pada masa dahulu daripada negeri-negeri Timur. Bukankah bangsa Jepang mengatakan, bahwa mereka turun daripada dewa matahari? Orang Pasemah juga mempercayai, bahwa Si Pahit Lidah" turun dari berombong cahaya matahari?
Di dalarn penyelidikan ahli-ahli, kerajaan yang paling tua di tanah Indonesia umumnya dan Sumatera khususnya, ialah kerajaan Sriwijaya (orang Arab menyebut Syarbazah, orang Cina menyebut Sheh Li Fosheh dan lain-lain). Pendiri kerajaan itu ialah Maharaja Syailendra. Di antara rajanya yang masyhur ialah Sri Tri'Buana.
Di zaman kebesaran Sriwijaya, kota Palembang lama menjadi pusat agama Budha . yang terbesar. Dia bersahabat dengan kerajaan Cina, dan ganti-berganti mengirimkan utusan. Kita sebagai penduduk pulau Sumatera boleh berbangga, bahwa riwayat Sumatera, tegasnya Sriwijaya, telah ada 100 tahun sebelum Nabi Muhammad di1ahirkan. Di zaman pemerintahan Maharaja Hsian di negeri Cina, (memerintah 454 - 464 ), maharaja itu te1ah menerima utusan daripada Maharaja pu1au Kanda1i. Kanda1i itu ada1ah pu1au Andali, yang biasa juga ditulis dalam huruf Cina Kandalaih" atau Andalaih". ltulah pulau Andalas ini, yang oleh lbnu Bathuthah disebut Sumatera, dan berpusat di Palembang.
Di tahun 502 , tahun 519 dan tahun 520, datang juga utusan Maharaja Sriwijaya itu menjelang benua Cina. Dari pulau Sumatera itulah disiarkan agama Budha ke tanah Jawa, sampai ke negeri Jepang. Di Palembang berdiri Asrama Budha yang amat besar. Wazirnya yang masyhur ialah, Demang Lebar Daun. Melihat tahun-tahun yang tersebut, beranilah kita memastikan, bahwa Kerajaan Sriwijaya telah ada 100 tahun sebelum Nabi Muhammad lahir.
Sebab beliau 1ahir di tahun 571, di Sumatera telah berdiri suatu kerajaan yang teratur. Di tahun 671 I Tsing, seorang muarrich bangsa Cina telah melawat ke tanah Sriwijaya. Katanya kerajaan itu berdiri di tepi sungai yang bernama Mo-shi . Waktu dia datang ke sana, Maharaja tengah pergi berperang ke negeri Melayu, yaitu Inderagiri, Kampar dan Siak.
lbnu Khardizbah, pengarang AI Masalik wal Mamalik mengatakan, bahwa negeri Qilah di bawah kuasa raja Palembang. Bertemu sepucuk surat tua di India yang rupanya ditulis di tahun 1005 Masehi menyatakan, bahwa raja-raja Pa1embang itu disebut Maharaja Gunung. Masa kebesarannya, Maharaja Sriwijaya itu melebarkan pengaruhnya sampai ke Sailon. Jawa juga di bawah pengaruhnya.
Itu1ah sebabnya maka pemimpin dan presiden kita Ir.Sukarno pernah mengatakan, bahwa riwayat persatuan Indonesia sekarang ini, setelah merdeka, adalah riwayat yang ketiga Pertama persatuan di zaman Sriwijaya, kedua persatuan di zaman Majapahit, ketiga di zaman persatuan Negara Republik Indonesia ini.
Sriwijaya mundur karena pertikaian agama, di antara Mazhab Budha Hinayana dengan Mahayana. Mahayana Mazhab Budha yang terbesar di pulau Jawa. Hinayana di Palembang. Persatuan kerajaan mulai 1emah, maka masuklah Raden Wijaya raja Singasari menyerang dan mengalahkan Sriwijaya di tahun 127 5 Masehi.
Lantaran Sriwijaya tidak bangun lagi, dipindahkan pusat kerajaan arah ke hulu, yaitu diantara Jambi dan Minangkabau sekarang ini, dengan nama Darmasraya (Jiwa yang bebas). Sejak itu dia telah menjadi sebuah kerajaan kecil yang tidak lagi mempunyai kuasa yang luas sebagai Sriwijaya dahulu, sebab kebesaran telah pindah ke Jawa kcpada kerajaan Majapahit, yang berdiri sesudah Singasari.
Waktu Raden Wijaya menunjukkan, bahwa dia telah berkuasa di bumi Melayu, menaklukkan Sriwijaya dan menyatakan perlindungan atas Darmasraya, telah dipakainya adat raja-raja pada masa itu. Tandanya menang, dibawanya dua putri Melayu ke tanah Jawa, Putri yang tua bernama Dara Petak, bergelar Sri Indrahwari, dan yang muda Dara Jingga, dijadikan permaisuri oleh Maharaja Majapahit yang bernama Maharaja Sri Marmadewa, kemudian keturunan-keturunan dari Majapahit dari permaisuri Melayu itulah yang dirajakan di Minangkabau, turun-tcmurun.
Di tahun 1286 Baginda Maharaja Kertanegara mengirimkan patung Budha ke Minangkabau sebagai tanda perhubungannya dengan raja-raja keturunan Jawa itu. Sebagai alamat, bahwa Minangkabau adalah suatu kerajaan berdiri sendiri di dalam lingkungan Majapahit. Patung itu tclah dibawa ke gedung arca Jakarta tahun 1935.
Setelah raja-raja yang bertakhta kerajaan di Darmasraya itu menilik di keliling negerinya, ada lagi daerah yang lebih bagus untuk kerajaan, dipindahkanlah ke tempat yang bagus itu. Itulah dia Pagarruyung, yang dapat ditempuh dari Darmasraya dengan menelusuri sungai Batang hari. Ruyung adalah scbagai ibarat daripada keteguhan.
Memang bagus tempat itu ditilik dari letaknya, yang dilingkung oleh bukit-bukit dan gunung-gunung bcrkeliling. Namun dcmikian perhubungan dengan Jawa scbagai pcrhubungan famili, tidaklah diputuskan. Sekali-sekali berziarah-ziarahan juga. Di kaki gunung Merapi didirikan rumah tempat sembahyang Budha, bernama Parahiangan. Hiang artinya Tuhan.
Di tahun 1343 Masehi yang menjadi maharaja di Minangkabau ialah Maharaja Aditiawarman. Maharaja itu senantiasa ingat akan perhubungan keluarganya ke Majapahit. Maka baginda titahkan membuat patung nenek-moyangnya permaisuri raja Majapahit itu, diberi nama patung Manju Shri (Manja Sari), artinya yang maha suci. Patung itu sekarang di dalam gedung arca di Berlin, terbuat daripada emas.
Karena letaknya yang kokoh dipagar gunung itu, susahlah angkatan besar dari luar untuk datang menyerang ke sana. Di waktu Kerajaan Pasai di tanah Aceh telah memeluk agama Islam, di bawah perintah AI Malikus Shalih, waktu Ibnu Bathuthah datang ke Pasai dinyatakannya, bahwa raja tengah mengirimkan utusan ke Muljawa, mengajak raja di sana memeluk agama Islam.
Kalau dibandingkan tahun pengembaraan Ibnu Bathuthah dengan tahun Aditiawarman memerintah bolehlah dikatakan di dalam satu zaman. Samalah masanya AI Malikus Shalih dengan Aditiawarman. Setengah ahli aejarah Eropa berat sangkanya, bahwa yang disebut oleh lbnu Bathuthah Muljawa itu ialah Minangkabau. Barangkali asal kata dari Malayu-Jawa. upanya di zaman Aditiawarman telah mulai agama lslam dimasukkan dan dipropagandakan. Kedatangan utusan rupanya tidak disambut dengan peperangan, tetapi dengan damai saja dengan cara diplomasi kata orang sekarang. Sebab orang yang telah beragama Budha, tidak begitu susah memahamkan ajakan mei1gakui adanya Tuhan.
Masuknya agama Islam tclah merubah susunan istiadat di dalam istana. Yaitu raja dijadikan tiga sela, raja alam, raja adat dan raja ibadat. Orang besar-besar dijadikan empat balai". Dua menjaga adat-istiadat lama. (Indomo Saruaso dan Bendahara atau Titah Sungai Tarab). Dan dua pula untuk menunjukkan nagari telah Islam, untuk mengadakan perhubungan dengan nagari-nagari yang telah menerima Islam, yaitu Makhdum di Sumanik dan Tuan Qadhi di Padang Ganting.
Di tahun 1400 berdiri kerajaan Islam, Malaka. Raja-raja Islam Malaka, mulai daripada Sultan Muhammad Syah, terang-terang menjadi pembela dan pcnyiar agama Islam. Maka mana rakyat Minangkabau yang tidak merasa puas dengan susunan kebudayaan campuran Hindu - Islam itu, Srimenanti, Jehol, Naning, Lukut dan lain-lain itulah yang pindah ke tanah Malaka, membuat negeri di Rambau, masyhur dengan nama Negeri Sembilan".
Raja-raja asal Minangkabau di sana, memakai gclar yang dipertuan", dcngan singkat yamtuan". Supaya perhubungan dengan nagari asal jangan putus, ditetapkan juga daerah itu sebagai rantau dari Tuan Makhdum, yang memang tebal ke-lslamannya. Sebagai juga Kampar, Indragiri dan Siak menjadi rantau daripada Tuan Qadhi.
Malaka jatuh ke tangan Portugis pada tahun 1511 Masehi, Minangkabau masih tetap sebagai keadaannya yang dahulu. Sesudah Malaka jatuh, Aceh memulihkan kebcsarannya kembali, dan mencntang Portugis. Dari Samudera Pasai kerajaan dipindahkan ke Pidir, dari Pidir dipindahkan ke Aceh Besar.
Di sana didirikan Kota Raja, nagari dibcri nama Darussalam, scbagai pusat keteguhan Islam di Sumatera. Di antara Portugis dengan Aceh terjadi perlombaan perniagaan di pantai barat pulau Perca. Demikian juga dengan Belanda yang telah mengancam di Jawa. Pantai barat yaitu Singkil, Barus, Tiku, Pariaman, Padang, Salido sampai ke lnderapura menjadi negeri persimpangan. Aceh terpaksa menaklukkan negeri-negeri itu, sehingga terlepas dari kuasa Minangkabau. Di lnderapura sampai berdiri cabang kerajaan Aceh dikota Padang duduk gubernur Aceh.
Di Pariaman terjadi perebutan kekuasaan Portugis dengan Aceh, masyhur di dalam dongeng perlawanan raja Nan Tunggal Megat Jabang", pahlawan Aceh dcngan raja Sipatokah (Pcrtugis) mcrcbut kuasa di pantai Pariaman. Di zaman Iskandar Muda Mahkota Alam, raja Aceh yang paling masyhur dan bcsar, yang mula memerintah tahun 1604, amatlah bcsar pcrtcntangan itu. Waktu itulah
sengit perebutan pengaruh dengan Barat.
Tetapi raja-raja Minangkabau, di Gudam Balai Jingga, di Jirung Kampung Dalam, di kota Pagarruyung, tidak sanggup lagi menghadapi perjuangan orang di tepi pantainya. Namanya saja rakyat di pesisir Minangkabau, hakikatnya di bawah kuasa Acch. Bersamaan dengan serangan politik, Aceh membawa juga penyiaran agama yang di zaman Iskandar Muda Mahkota Alam telah menjadi pcmbicaraan yang tinggi mutunya di tanah Acch. Schingga Aceh diberi gelar Serambi Mekkah".
Ulama-ulama telah membicarakan agama dengan merdeka. Dua faham bertentangan pada masa itu, yaitu faham Syekh Abdur Rauf dan Nuruddin Ar Raniri yang mempertahankan faham Ahlissunnah, Wihdatussyuhud, yang menyatakan, bahwa alam itu bekas kuasa Tuhan. Dengan faham Hamzah AI Fanshuri dan Syamsuddin As Samatrani yang berfaham Wihdatul Wujud, beri'tiqad bahwa alamitu adalah sebagian daripada Tuhan, laksana buih lautan jtu sebagian daripada ombak!
Murid Abdur Rauf datang ke Minangkabau, bcrtempat di Ulakan Pariaman, bernama Burhanuddin, karcna mendengar bahwa pengikut Hamzah Fanshuri telah masuk pula ke Minangkabau dan memilih Cangking sebagai pusatnya.
Cangking adalah di Padang Darat. Tentu saja faham Cangking lebih lekas tersiar daripada faham Ulakan. Pertama,karena lebih dekat kepada ajaran agama Budha yang menyatakan, bahwa di dalam diri sendiri ada Tuhan. Kedua, faham ini tidak memberatkan benar mengerjakan ibadat. Adapun di Aceh sendiri faham Hamzah Fanshuri itu tidaklah laku, dia dapat dikalahkan oleh Abdur Rauf yang besar pengaruhnya di sisi Sultan.
Demikianlah duduknya i'tiqad dan agama sampai kepada pcrmulaan abad kesembilan belas. Di permulaan abad itulah datang gerakan baru yang amat hebat, yang mula-mula menggoncangkanbatu sendi adat-istiadat, dengan datangnya kaum Paderi dari negeri Mekkah di bawah pimpinan Haji Miskin di Pandai Sikat.
Kaum Paderi atau kaum putih adalah kaum agama yang teguh dan kuat iman. Terutama lagi mereka telah melihat contoh-contoh kekcrasan beragama yang digerakkan oleh kaum Wahabi di tanah Arab.
Menurut keyakinan mereka, perjalanan agama secar~ damai sebagai selama ini, menghilangkan sifat pelajaran agama yang sejati, sehingga tercampur dengan pelajaran agama yang lain, yang bukan berasal daripada agama itu sendiri.
Orang Wahabi di tanah Arab memandang orang yang tidak sefaham dengan dia sebagai musuh, walaupun sama-sama Islam. Sebab ke-Islaman mereka -- menurut pandangan Wahabi - hanya tinggal nama saja, mereka telah memperserikatkan Tuhan dengan yang lain.
Kaum Paderi Minangkabau juga berpendirian begitu terhadap pemeluk agama Islam Minangkabau. Tidak ada di Minangkabau tanda-tanda Islam yang hidup. Raja-raja masih mencampurkan upacara Hindu dengan Islam. Guru-guru agama masih berkhidmat kepada kubur-kubur orang yang dipandang keramat. Pemuda-pemuda masih bergurau-senda mengadu ayam. Maka pada keyakinan kaum Paderi, barulah negeri akan selamat, kalau sekiranya pemerintahan yang lemah dan tidak beragama itu dihapuskan dan diganti dengan pemerintahan kaum agama semata-mata. Maka amat hebatlah pergerakan Paderi sejak bagian pertama ( 1801 ~ 1826) yaitu zaman menyusun, dan bagian kedua (1826 -1837), zaman berperang menyiarkan faham, sampai jatuhnya Bonjol ke tangan Belanda.
Dengan jatuhnya Bonjol, banyak perubahan yang telah terjadi dan Minangkabau menghadapi suasana baru. Walaupun kaum Padcri telah dapat dikalahkan, namun Islam tclah dapat mcnempuh suasana baru. Kaum adat menambah lagi memasukkan anasir Islam ke dalam adat. Sehingga timbul pepatah-pepatah, adat ;
Syara' nan mengatakan, adat nan memakai. Sudah adat ke balairung, sudah syara' ke mesjid.
Kaum agama pun mendapat kedudukan lebih bagus daripada dahulu. Di tiap-tiap nagari disusunlah Orang Empat Jenis, yaitu penghulu, manti, dubalang dan malim. Ditentukan pula pakaiannya, penghulu berpakaian hitam, manti berpakaian ungu, dubalang berpakaian merah dan malim berpakaian putih.
Pemerintah Belanda, sesudah perang Paderi itulah melakukan politik-politiknya yang baru untuk menamkan kuasanya di Minangkabau. Mula-mula ditanamnya jabatan regent pada beberapa nagari. Nagari-nagari yang telah tertanam benar pengaruh Paderi, diangkatnya orang-orang yang kuat beragama. Setelah nyata bahwa jabatan regent tidak bersetuju dengan masyarakat Minangkabau, diadakannya pula jabatan Laras. Sesudah itu dimasukkannyalah monopolistelsel.
Di dalam perjanjian Plakat Panjang yang masyhur, diakuinya derajat penghulu sebagai pengatur na.gari. Kuasanya dikembalikan dan kuasa kaum agama tidak ada lagi. Untuk membuat golongan yang akan menjadi tulang-punggungnya, diadakannyalah Sekolah Raja di Bukittinggi. Keluaran-keluaran Sekolah Raja itulah yang mulai mcnyiarkan pengaruh Bclanda, mcnjadi guru dan pegawai. Anak adik Tuanku Laras di Kota Gedang, di akhir abad kesembilas ibunya orang Empat Angkat, pusat kaum Paderi 50 tahun sebelum itu, masuk ke dalam Sekolah Raja yang baru didirikan itu.
Setamat dari sckolah dia pun mclanjutkan pclajarannya ke negeri Mekkah. Anak ini bernama Ahmad, anak daripada Abdul Lathif. Sesampai di Mekkah berkat kesungguhan hatinya mempelajari agama, apalagi dasar-dasar ilmu umum telah ada pula karena bersekolah, dia telah 'menjadi salah seorang Ulama yang mempunyai riwayat dan cita-cita luar biasa. Ilmunya mendapat penghargaan tinggi, sampai dia mendapat jabatan imam dan khatib mazhab Syafi'i di dalam Masjidil Haram, termasuk orang-orang yang sangat terkemuka di negeri Mekkah, turut duduk di dalam majelis Syarif-syarif. Murid-murid pun datanglah berduyun-duyun terutama dari tanah Minangkabau
Hatinya kecewa, sebab itu dia tidak hendak pulang lagi ke negerinya. Hanya murid-muridnya yang disuruhnya pulang. Maka murid-murid Syekh Ahmad Khatib itulah yang pulang ke kampung menyiarkan ajaran gurunya. Di antara murid-murid bcliau di Minangkabau ialah Syekh Muhammad Jamil Jambck, Almarhum DR. Abdul Karim Amrullah, Almarhum Dr. Abdullah Ahmad. Almarhum Syekh Jamil Jaho, Almarhum Syekh Muhammad Zein Simabur Almarhum Syekh Muhammad Zein Lantai Batu, Almarhum Syekh Thaib Sungayang, Almarhum Syekh Abbas Padang Jepang, Almarhum Syekh Abdul Lathif Panambatan, Almarhum Syekh Hasan Ma'sum Mufti Kerajaan Deli.
Almarhum Syekh Muhammad Nur Mufti Kerajaan Langkat. Di Mandahiling Syckh Abdul Qadir Al Mandili. Di Malaya Almarhum Syekh Thahir Jalaluddin dan Almarhum Syekh Abdullah Shalih bekas Mufti kerajaan Johor. Di Jawa Kiyai H. Ahmad Dahlan pcndiri Muhammadiyah dan Kiyahi H. Adnan di Solo. Maka besarlah penibahan-perubahan di dalam scmangat agama, lantaran murid-murid Syckh Ahmad Khatib itu. Di dalam tahun 1911 Syekh Abdullah Ahmad mengeluarkan surat kabar AI Munir dan Al Akbar. Dalam tahun 1912 beliau mendirikan sekolah Adabiyah di Padang.
Tahun 1916 Zainuddin Labai mendirikan seko1ah agama di Padang Panjang. Tahun 1918 Syekh Abdul Karim Amrullah mendirikan Sumatera Thawalib. Tahun 1920 Haji Datuk Batuah membawa faham Komunis ke Sumatera Barat. Tahun 1922 Ahmadiyah Qadian mencoba-coba mengacau faham Islam Sumatera Barat, tetapi tidak berhasil. Tahun 1925 Syekh Abdul Karim Amrullah membawa gerakan Muhammadiyah dari Jawa. Tahun 1928 Belanda mencoba memasukkan Guru Ordonansi, tetapi tidak bcrhasil, karena kctcguhan hati Ulama-ulama menolaknya, terutama Syekh Abdul Karim Amrullah.
Tahun 1930 Muhammadiyah mengadakan kongres di Bukittinggi. Sesudah Kongrcs Muhammadiyah itu, Islam kcmbali mcncmpuh zaman gcmilang di Sumatera Barat. Sejak itulah Sumatera Thawalib berganti menjadi Persatuan Muslimin Indonesia dan memasuki gerakan politik. Sejak itu pula perkumpulan Attarbiyatu1 Is1amiyah diperbaiki organisasinya. Tal1Un 1941, karena dipandang amat berbahaya bagi Bclanda, DR. Abdul Karim Amrullah dibuang ke tanah Jawa. Tanggal 21 bulan Jumadil Akhir 1364 - 2 Juli 1945, beliau mcninggal di tanah pembuangannya, tetapi ajarannya telah hidup di dalam masyarakat ! Tiap-tiap orang Minangkabau yang insyaf, merasai kehidupan itu.
luar biasa
BalasHapusterima kasih
Terima kasih, begitulah Minangkabau menurut buya Hamka, mudah-mudahn bisa memberi manfaat bagi kita semua.
HapusTerima kasih, begitulah Minangkabau menurut buya Hamka, mudah-mudahn bisa memberi manfaat bagi kita semua.
Hapus