INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Tafsir Al Azhar QS. Al-Infitar Ayat 1 s/d 12 - Tafsir Al Azhar Surat AL-INFITHAR (PECAH-BELAH) Surat 82: 19 ayat Diturunkan di MAKKAH. Surat ini menceritakan tentang bagaimana dahsyatnya peristiwa kiamat, pada saat itu tidak ada yang mampu bertahan untuk hidup bahkan apapun namanya makhluk dari yang kecil (mikro kosmos) maupun makhluk yang besar (makro kosmos) hancur berantakan. 

Jangankan gunung yang besar bahkan galaksi yang berisi planet dengan gugusan bintang yang tidak terhitung jumlahnya sampai pada kumpulan galaksi yang disebut nebula beserta alam jagat raya hancur terpecah belah musnah dengan seketika. Jika berbicara tentang makhluk yang bernama manusia dari tubuh sampai organ, sistem organ, jaringan, sel, organel bahkan sampai kepada ion dan atom yang ada dalam tubuh manusia terbelah hancur berantakan sampai tidak dikenali lagi bentuknya.  

Buya Hamka dengan tafsir Al-Azharnya mencoba menerangkan surat Al-Infitar bagaimana dahsyatnya peristiwa tersebut. Silahkan disimak bagaimana keterangan beliau tentang hal itu ; 

1. Apabila langit terbelah,
2. Dan apabila bintang-bintang jatuh berserakan,
3. Dan apabila lautan menjadikan meluap,
4. Dan apabila kuburan-kuburan dibongkar,
5. Maka tiap-tiap jiwa akan mengetahui apa yang telah dikerjakan dan yang dilalaikannya.
6. Hai manusia, Apakah yang telah memperdayakan kamu (berbuat durhaka) terhadap Tuhanmu yang Maha Pemurah.

Sebagai permulaan Surat at-Takwir yang telah lalu,  awal Surat al-Infithar ini pun tidaklah jauh daripada itu, yaitu menggambarkan betapa hebat betapa dahsyat ihwal hari kiamat itu kelak. "Apabila langit telah terbelah." (ayat 1). Artinya peredaran cakrawala tidak lagi teratur dengan seksama sebagaimana biasa dan lantaran itu tentu; "Dan apabila bintang-bintang telah jatuh berserak." (ayat 2).Tidak lagi terikat oleh daya tarik antara satu dengan yang lain, yang menyebabkan terdapat keseimbangan perjalanan alam ini.

"Dan apabila lautan telah meluap-luap." (ayat 3), menggelagak, mendidih karena goncangan yang ada pada seluruh permukaan jagat ini. Sebab yang satu bertali teguh dengan yang lain, yang menyebabkan rusak satu, hancur semuanya. "Dan apabila kubur-kubur telah dibongkar." (ayat 4), karena manusia yang berkubur dihidupkan kembali menghadap hari mahsyar, hari berkumpul. Di dalam saat yang demikian: "Mengetahuilah jiwa apa yang telah pernah dikerjakannya dahulu dan dia kerjakan kemudian." (ayat 5). Artinya mengertilah suatu diri, baik diri engkau ataupun diriku, pekerjaan dan perbuatan yang di masa hidup  pernah dikerjakan; baik yang segera dikerjakan dan diamalkan, atau yang dilengah dilalaikan lalu terlambat mengerjakannya, sehingga yang penting menjadi dianggap kurang penting, dan umur pun habis. 


7. Yang telah menciptakan kamu lalu menyempurnakan kejadianmu dan menjadikan (susunan tubuh) mu seimbang,
8. Dalam bentuk apa saja yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu.
9. Bukan hanya durhaka saja, bahkan kamu mendustakan hari pembalasan.
10. Padahal Sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) yang mengawasi (pekerjaanmu),
11. Yang mulia (di sisi Allah) dan mencatat (pekerjaan-pekerjaanmu itu),
12. Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.


Tadi pada ayat kelima telah diterangkan bahwa diri manusia sendiri di saat kiamat itu akan tahu sendiri dan menilai sendiri pekerjaan yang pernah mereka kerjakan tatkala masih hidup di dunia. Ada pekerjaan yang segera dikerjakan, didahulukannya dari yang lain semata-mata karena kepentingan diri, dan  ada pula yang dilalaikannya, daripada mestinya, sehingga sampai  dia mati pekerjaan yang wajib dia kerjakan itu tidak pernah jua dikerjakannya, sehingga terbengkalai sampai dia mati.  

Sekarang datanglah pertanyaan Allah pada ayat yang ke-6; "Wahai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu, terhadap Tuhan kamu yang Maha Pemurah?" (ayat 6). Begitu Allah mencurahkan kurniaNya, belas-kasihanNya, kepada kamu, namun kamu lalai jua. Yang patut segera kamu kerjakan, tidak jua kamu kerjakan. Apakah gerangan yang menyebabkan kamu lalai dan lengah dari panggilan Tuhan? Siapa yang memperdayakan kamu, hingga kamu lupa? Tentu saja yang pertama sekali memperdayakan kamu dari menghadap Tuhan ialah, musuh besarmu yang bernama Syaitan Iblis itu. 

Dialah yang menyebabkan kamu akan menyesal untuk selama-lamanya. Tidak ada yang lain yang menghambat langkah maju, menuju Tuhan melainkan Iblis! Sehingga kamu lengah dari kemuliaan Tuhan;  "Yang telah menciptakan kamu." (pangkal ayat 7). Dia ciptakan daripada air mani yang keluar dari shulbi seorang laki-laki dengan air yang keluar daripada  taraaib seorang perempuan, dikandung di dalam rahim ibu menurut ukuran hari-hari dan bulan-bulan yang tertentu; "Lalu menyempurnakan kejadian kamu. "Sejak dari segumpal air yang dinamai nuthfah, beransur menjadi segumpal darah yang dinamai 'alaqah, lanjut menjadi segumpal daging yang dinamai mudhghah. "Lalu menjadikan kamu seimbang." (ujung ayat 7). 

Bentuk tubuh manusia benar-benar dijadikan Allah seimbang, sehingga dengan mengukur jejak kaki saja  pun orang dapat menaksir berapa luas muka, berapa panjang tangan, berapa besar kepala dan berapa pula panjang  tungkai kaki. Karena besar badan, tingginya, bidang dadanya, luas bahunya dan seluruh badan manusia adalah seimbang. Seumpama ukuran sehesta tangannya, sama persis dengan panjang kaki dari lutut sampai ke tumit. Itu jugalah yang dimaksudkan dengan menyatakan bahwa Allah menjadikan manusia dalam seindah-indah bentuk. (Surat 95, at-Tin; 4).  

"Pada bentuk apa pun yang Dia kehendaki, Dia menyusun tubuhmu." (ayat 8). Allah membuat bentuk tubuh manusia itu sesukaNya sendiri; ada yang tinggi, ada yang rendah, ada yang gemuk dan ada yang kurus. Wama kulit pun tidak sama. Sehingga 10 orang bersaudara, satu ayah satu ibu, berbeda wajahnya, berbeda suaranya dan berbeda pula masing-masing sidik jarinya; tidak ada yang sama dan tidak pula sedikit pun masuk kekuasaan manusia buat menentukan bakat atau bawaan dari masing-
masing manusia.  "Bukan itu saja!" (pangkal ayat 9). Bukan saja manusia itu telah lalai di dalam ingat kepada Allah, entah apa yang telah memperdayakannya; "Bahkan kamu dustakan pula Hari Pembalasan." (ujung ayat 9). 

Di ayat 6 Tuhan menanyakan, hai manusia, apa yang memperdayakan kamu sehingga kamu terlalai dan  terpesona ke jalan lain lalu lupa kepada Tuhan. Sekarang pada ayat 9 dijelaskan  lagi, bukan saja kamu lupa kepada Tuhan, bahkan kamu dustakan pula Hari Pembalasan. Yaitu yang disebut Yaumad Din. Yaumad Din berarti pada pokoknya Hari agama. Ad-Din mengandung dua arti. Arti pertama ialah Agama. Arti kedua ialah Hari akan dibalas segala amal manusia. 

Dan kedua arti ini dapat kita gabungkan jadi satu. Sebab kita memeluk suatu Din dan mengerjakan perintah dan menghentikan yang dilarang dalam dunia ini ialah karena satu tujuan saja, yaitu agar mendapat pembalasan yang setimpal daripada Tuhan di hari akhirat kelak. Amalan agama yang baik akan diganjari dengan baik di hari akhirat, dan amalan yang jahat akan diganjari dengan neraka. Oleh sebab itu tidaklah salah jika dikatakan bahwa Hari Akhirat itu memang Hari Agama.  

Hari Agama inilah yang mereka dustakan. "(Padahal) sesungguhnya terhadap kepada kamu ada yang memelihara." (ayat 10). Artinya, bahwasanya setiap saat kita hidup di dunia ini senantiasa ada mereka-mereka yang memelihara kita atau menjaga kita dan mengawasi kita, yang telah ditentukan Allah pekerjaannya menjaga itu;  Mereka itu ialah; "Yang mulia-mulia, para penulis." (ayat 11).  

Mereka itu ialah malaikat-malaikat yang mulia. Lantaran itu bukanlah mereka sembarang makhluk, malahan makhluk pilihan yang terdekat kepada Tuhan. Mereka itu telah ditugaskan Allah menjaga, memelihara dan mengawasi tingkah-laku manusia di dalam kehidupan. Jelaslah dalam urutan ayat ini bahwa malaikat-malaikat yang mulia-mulia itu bukan seorang, melainkan banyak. "Mereka itu tahu apa jua pun yang kamu kerjakan." (ayat 12). Sehingga tidaklah kita ini pernah terlepas dari pengawasan dan penjagaan. Maka janganlah kita menyangka ketika kita sedang berada seorang diri bahwa kita memang sepi seorang! Di kiri kanan  kita ada makhluk yang selalu mengawasi kita. 

Dia menjaga moga-moga jangan sampai kita terjatuh. Sedang di samping malaikat-malaikat yang memelihara itu ada pula makhluk yang selalu ingin agar kita jatuh masuk jurang kehinaan. Itulah musuh kita Syaitan dan Iblis. Maka kepercayaan kepada Allah yang sangat dekat kepada kita, lebih dekat dari urat leher kita sendiri, di samping itu ada pula penjagaan malaikat yang banyak atas diri kita, malaikat yang mulia-mulia, sekali-kali tidaklah orang yang beriman akan merasa sepi dalam kehidupan ini. 

Demikianlah peristiwa yang terjadi pada hari kiamat datang, dan  manusia memiliki berbagai pandangan terhadapnya ada yang percaya dengan kedatangannya dan ada pula yang mendustainya, bahkan ada pula sebahagian manusia tidak percaya dengan Allah, lalu berusaha mencari jalan lain sehingga mereka terlalaikan dengan urusan yang sangat besar tersebut. kelak mereka akan menyesalinya kata Allah swt.

Semoga tafsir QS. Al-Infitar ayat 1-12 ini bermanfat bagi kita sehingga mampu memotivasi diri kita untuk mencari bekal mempersiapkan diri menghadapi peristiwa tersebut.

Bersambung ............................

Posting Komentar Blogger