INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Pembentukan Budi  Pekerti - Budi pekerti yang baik adalah perangai  dari  para Rasul dan orang terhormat, sifat orang  yang muttaqien  dan  hasil dari perjuangan orang yang 'abid. Sedang budi pekerti  yang jahat  adalah racun berbisa, kejahatan  dan  kebusukan yang menjauhkan diri dari Rabbil  Alamin.

Budi pekerti  jahat menyebabkan orang terusir dari jalan Tuhan, tercampak kepada jalan setan. Budi pekerti jahat adalah pintu menuju neraka yang bemyala menghanguskan hati  nurani, sedang budi pekerti yang baik adalah, laksana pintu menuju jannah ilahi. 

Budi pekerti jahat adalah penyakit jiwa, penyakit batin, penyakit hati. Penyakit ini lebih berbahaya dari penyakit jasmani. Orang yang ditimpa penyakit jiwa,  akan kehilangan makna hidup yang hakiki, hidup yang abadi. Ia lebih berbahaya dari penyakit badan. Dokter mengobati penyakit jasmani, menuruti sarat-sarat  kesehatan.

Sakit  itu  hanya kebilangan  hidup yang fana. Oleh sebab itu  hendaklah diutamakan  menjaga penyakit  yang  akan  menimpa  jiwa, penyakit  yang akan  menghilangkan  hidup  yang kekal itu. 

Ilmu kedokteran yang  telah maju harus dipelajari oleh tiap-tiap  orang  yang  berpikir karena  tidak ada  hati yang sunyi dari penyakit berbahaya  itu. Kalau dibiarkan saja  dia  akan bertambah menular, bertimpa penyakit atas penyakit. Penting sekali bagi seorang hamba mempelajari sebab-sebab penyakit itu dan mengusahakan sembuhnya, memrerbaiki jalannya kembali.  ltulah  yang dimaksud sabda Tuhan.

 

"Beroleh kemenanganlah orang yang berusaha mensucikannya."

Orang yang membiarkan dan mensia-siakan jiwa, dikenal  oleh  ayat  lawan  yang  di  atas,  yaitu; "Dan  celakalah  orang yang mensia-siakannya." 
Maka adalah  maksud  penulis di dalam buku ini menunjukkan jumlah beberapa penyakit hati, dan cara menyembuhkannya. 


Allah Swt telah bersabda memuji Nabi-nya dengan menyatakan nikmat yang telah dilimpabkan-Nya " kepadanya;

"Dan sesungguhnya adalah engkau seorang yang mempunyai  budi pekerti yang mulia." 

Siti Aisyah pernah berkata, bahwasanya  budi  pekerti Rasulullah  itu  ialah AI-Qur'an. Rasulullah pemah berkata; 
'Aku  diutus  Tuhan  hanyalah  untuk  menyempurnakan kemuIiaan  budi  pekerti." 

Di  dalam  sabda  lain ditegaskan; 
"Agama itu adalah budi pekerti yang baik. Budi pekerti baik itu,  tidak  pemarah." 
Sabda  Beliau  pula;  "Takutlah  kepada  Allah  di  mana, pun  engkau  berada,  dan  ikutilah  amalan-amalanmu  yang jahat dahulunya dengan kebaikan, supaya dapat dihapuskan  kejahatan  itu  oleh kebaikan.  Dan,  hendaklah  kalian  berbudi  kepada  manusia  dengan  budi  pekerti  yang baik.

Pernah  orang  berkata  kepada  Rasulullah;  "Ya Rasulullah,  si  Fulanah  yang  perempuan  itu, setiap hari berpuasa, tahajud  tiap malam, tetapi dia kasar budi, dia suka mengganggu  tetangganya dengan lidahnya. Berkata  Rasulullah;  "Tidak  ada  kebaikan  pada perempuan  itu,  sebenamya  dia ahli neraka. " Sabda Rasulullah  lagi; 

"Sesungguhnya Allah Taala telah membersihkan agama ini  untuk-Nya sendiri  (artinya jangan kita beragama karena yang lain). Dan  tidaklah  akan  baik  agama kamu melainkan dengan  sifat pemurah (dermawan)  dan  budi  pekerti  yang baik.  Perhiasilah  agamamu  dengan  kedua  sifat itu." 

Seorang  bertanya  pada  Rasulullah;  "Di  antara  orang-orang Mukmin  itu,  siapakah  yang  paling utama  imannya  : 
Jawab  Rasulullah,  yang  baik  budi  pekertinya." Dan  bersabda  pula Beliau; 

"Sesungguhnya kamu tidaklah akan dapat bergaul di antara  rnanusia  lantaran' pengaruh  hartarnu. Sebab itu bergaulah  di  antab  rnereka  dengan  rnuka  jernih dan  budi rnulia."  ' 

Berkata  pula  Rasulullah; "Hai, Abu  Dzaar,  tidak  ada akal  yang  lebih  dari  takdir,  tidak  ada kernuliaan  turunan yang  rnelebihi  baik perangai." 

Berkata Hassan; "Barangsiapa yang  jahat perangainya, adalah dia  rnenyiksa  dirinya  sendiri." 
Berkata Wahab; 'Perurnpamaan budi  pekerti  yang jahat itu  ialah  seuqlpama  belanga  pecah, ditambal tak  bisa, kerna  bali  jadi  tanah  pun  tak dapat  lagi." 

Berkata AI-Fudhail bin "Ayad;  "Bahwasanya, berteman dengan  seorang  yang  Fajir,  tetapi  baik budi pekertinya lebih kusukai  daripada  berteman dengan  seorang yang kuat beribadat,  tetapi  jahat perangainya." 

Ketahuilah  olehmu,  bahwasanya  budi pekerti  itu  telah dibagi-bagi  oleh  ulama  Salaf pada  dua bagian,  yaitu  buah dan  tujuan  (stamarah  dan  ghayah). 
Hasan  Basri  r.a.  telah berkata; "Kebaikan budi  pekerti itu ialah  : jemih rnuka, mudah pergaulan dan menahan hati dari  menganiaya." 

Berkata  AI-Washithi;  "Yaitu  tidak  berkesumat (bennusuhan)  dengan  orang  lain,  tidak  pula dikesumati orang,  karena  sangat ma'rifatnya  pada Allah. Kata  Beliau  lagi;  "Ridha  menerima  nasib diwaktu senang dan di waktu  susah." Kata lain dari  itu, tetapi  isinya hampir sama saja  yaitu  buah dari  kebaikan  perangai. 

Adapun  hakikat  budi  itu,  ialah  suatu  persediaan  yang telah  ada  di  dalam  batin, telah terhunjam, telah  rasikh. 

Dialah, yang  menimbulkan  perangai  dengan  mudahnya, sehingga  tak  berhajat  kepada  berpikir lama  lagi.  Kalau persediaan  itu  dapat  menimbulkan  perangai  yang  terpuji, perangai  yang mulia (mulia menurut  akal  dan syara')  itulah yang  dinamai  budi  pekerti  yang  baik.  Tetapi,  kalau  yang tumbuh  perangai  yang  tercela  menurut  akal  dan  syara', dinarnai  pula  budi  pekerti  yang  jahat. 

Dikatakan,  bahwa budi  pekerti  itu  ialah perangai yang  terhujam dalarn  batin, karena  ada  pula orang  yang  sudi  menafkahkan  hartanya dengan  ringan  saja,  tetapi  tidak bersumber  dari  budinya yang terhujam,  hanya  semata-mata lantaran ada  "maksud" yang  "terselip" di  dalamnya.

Yang  dinarnai  budi  pekerti  yang  baik.  Tetapi,  kalau  yang tumbuh  perangai  yang  tercela menurut akal  dan  syara', dinarnai  pula  budi  pekerti  yang  jahat.  Dikatakan,  bahwa budi  pekerti itu  ialah perangai yang  temunjarn dalarn  batin, karena  ada  pula  orang  yang  sudi  menafkahkan hartanya dengan  ringan  saja,  tetapi  tidak  bersumber  dari  budinya yang  terhunjarn,  hanya semata-mata lantaran ada  "maksud" yang  "terselip"  di  dalamnya. 

Sumber dari  budi  pekerti  itu  empat perkara  1.  Hikmat. 2.  Syuja'ah.  3.  'lffah.  4.  Adalah (bersikap adil). Yang  dimaksud  dengan  Hikmat  ialah  keadaan  nafs (batin)  yang  dengan  hikmat dapat mengetahui mana yang benar dan mana yang salah segala perbuatannya yang berhubungan dengan ikhtiar. 

Syujaah,  ialah  kekuatan  ghadhab  (marah)  itu  dituntut oleh  akal,  baik  majunya  dan  mundumya. 'lffah  ialah mengekang  kehendak  nafsu  dengan  akal  dan  syara'. 

Sedangkan yang dimaksud dengan  'Adl  (adil) ialah keadaan nais, yaitu  : suatu  . kekuatan batin yang dapat mengendalikan diri  ketika marah  atau  ketika syahwat naik.

Barangsiapa yang dapat menimbang sama berat  di antara segala  sifat yang empat perkara ini, maka akan,  timbul budi pekerti  yang  baik dan mulia. Keempat  sifat  ini  tersimpul  di  dalarn  satu  ayat yang menerangkan sifat-sifat  orang Mu'min,  demikian;


"Sesungguhnya, orang yang disebut  Mu'min  itu, hanyalah orang-orang yang beriman pada Allah dan RasulNya. Kemudian, mereka tidak ragu-ragu  lagi.  Mereka berjihad dengan haria benda mereka dan diri mereka sendiri pada  jalan  Allah.  Itulah  orang-orang  yang  benar pengakuannya  (Imannya). 

Beriman  kepada  Allah  dan  Rasulnya,  dengan  tidak dicampuri  oleh  keragu-raguan  (irtiaab), itulah kepercayaan yang  timbul  dari  keyakinan. Keyakinan  itu  ialah;  buah dari akal  yang  waras. Akal yang  waras itulah  tujuan  hikmah. 

Berjihad  dengan  harta  benda,  timbul  daripada  sifat dermawan.  Sifat  dermawan,  timbul  dari kesanggupan mengekang  syahwat.  ltulah  tujuan Adil. 

Kesanggupan  berjihad dengan  diri jiwaraga), timbul dari kepandaian  menimbang  nafsu  marah yang, dituntun dengan akal. Allah Ta'ala menggambarkan dalam Al-Qur'an sifat-sifat  sahabat Nabi dengan  Firman-Nya  : 

"Mereka  bersikap  tegas  terhadap  orang-orang  yang ingkar  (kafir)  dan  bersayang-sayangan  di 
antara  mereka sendiri." 

Di dalam ayat itu tersembunyi hikmah paling besar,yaitu  sikap keras  itu  ada tempatnya. Sebaliknya, bersayang-sayang  itu  ada  pula  tempatnya.  Tidak  selalu  orang  mesti keras,  dan tidak selalu  pula mesti menaruh  sayang. 

Kita  teringat  perkataan  beberapa  ulama  ketika  Hajjaj Yusuf,  seorang  Amir  yang  sangat  kejam, membaca  do'a menjelang  sakaratul  maut. Dia memohon kepada  Tuhan supaya dosanya yang begitu banyak diampuni, karena Allah pengasih dan penyayang. Kata ulama-ulama yang mendengar doanya
"Benar Allah pengasih dan penyayang,  tetapi  kalau dosa yang demikian banyak diampuni juga oleh Allah, tidak dilakukan-hukuman, manakah  lagi keadilan? Padahal Allah itu  selain daripada pengasih penyayang  juga  adil  dalam memberi  hukuman."

Demikianlah bagaimana cara membentuk budi pekerti menurut Buya Hamka. Semoga bermanfaat.
Bersambung................

Posting Komentar Blogger