INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Tafsir Al Azhar Surah ‘Abasa (BERMUKA MASAM) Surat 80: 42 ayat Diturunkan di MAKKAH. Surat ini menceritakan kepada kita tentang kisah Rasulullah yang bermuka masam tatkala Abdullah Ibnu Ummi Maktum berkunjung kepada Rasulullah ingin mendapatkan beberapa ayat Alqur'an. Surat ini memberikan pelajaran yang sangat berharga bagi kita dalam menghadapi tamu atau orang yang sedang membutuhkan kita.


عبس وتولى
أن جاءه الأعمى
وما يدريك لعله يزكى
أو يذكر فتنفعه الذكرى
أما من استغنى
فأنت له تصدى
وما عليك ألا يزكى
وأما من جاءك يسعى
وهو يخشى
فأنت عنه تلهى
  1. Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling,
  2. Karena telah datang seorang buta kepadanya
  3. Tahukah kamu barangkali ia ingin membersihkan dirinya (dari dosa),
  4. Atau Dia (ingin) mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya?
  5. Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup
  6. Maka kamu melayaninya.
  7. Padahal tidak ada (celaan) atasmu kalau Dia tidak membersihkan diri (beriman).
  8. Dan Adapun orang yang datang kepadamu dengan bersegera (untuk mendapatkan pengajaran),
  9. Sedang ia takut kepada (Allah)
  10. Maka kamu mengabaikannya.
Menurut sebuah riwayat yang disampaikan oleh Ibnu Jarir ath-Thabari, demikian juga riwayat dari Ibnu Abi Hatim, yang diterima dari Ibnu Abbas; "Sedang Rasulullah menghadapi beberapa orang  terkemuka Quraisy, yaitu 'Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal dan Abbas bin Abdul Muthalib dengan maksud memberi keterangan kepada mereka tentang hakikat Islam agar mereka sudi beriman, di waktu itu masuklah seorang laki- laki buta, yang dikenal namanya dengan Abdullah bin Ummi Maktum. 

http://www.ponpeshamka.com/2015/12/tafsir-al-azhar-surat-abasa.html
Dia masuk ke dalam majlis  dengan tangan meraba-raba. Sejenak  sedang Rasulullah terhenti bicara orang  buta  itu  memohon  kepada Nabi agar diajarkan kepadanya beberapa ayat al-Quran. Mungkin oleh karena terganggu sedang menghadapi pemuka-pemuka itu,kelihatanlah wajah beliau masam menerima permintaan Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga perkataannya itu seakan-akan tidak beliau dengarkan  dan beliau terus juga menghadapi pemuka-pemuka Quraisy tersebut.

Setelah  selesai semuanya  itu  dan  beliau  akan  mulai  kembali  kepada  ahlinya  turunlah ayat ini; "Dia bermuka masam dan berpaling." Setelah ayat itu turun sadarlah Rasulullah s.a.w. akan kekhilafannya itu. Lalu  segera beliau hadapilah Ibnu Ummi Maktum dan beliau perkenankan apa yang dia minta dan dia pun menjadi seorang yang sangat disayangi oleh Rasulullah s.a.w. Di mana saja bertemu dengan Ibnu Ummi Maktum beliau menunjukkan muka yang jernih berseri kepadanya dan  kadang-kadang beliau katakan; "Hai orang yang telah menjadi sebab satu kumpulan ayat turun dari langit kepadaku."

Ibnu Katsir pun meriwayatkan bahwa bukan saja Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim yang membawakan riwayat  ini,  bahkan  ada  pula  riwayat  dari Urwah bin Zubair, Mujahid, Abu Malik dan Qatadah, dan adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid dan lain-lain; bahwa yang bermuka masam itu memang Rasulullah s.a.w. sendiri dan orang buta itu memang Ibnu Ummi Maktum.

Ibnu Ummi Maktum itu pun adalah seorang sahabat Rasulullah yang terkenal.Satu-satunya orang buta yang turut hijrah dengan Nabi ke Madinah. Satu-satunya orang buta yang dua tiga kali diangkat Rasulullah s.a.w. menjadi wakilnya jadi Imam di Madinah kalau beliau bepergian. Ibu dari Ibnu Ummi Maktum itu adalah saudara kandung dari ibu yang melahirkan Siti Khadijah, isteri Rasulullah s.a.w. Dan setelah di Madinah, beliau pun menjadi  salah seorang tukang azan yang diangkat  Rasulullah s.a.w. di samping Bilal.

"Dia bermuka masam dan berpaling." (ayat 1). "Lantaran datang kepadanya orang buta itu." (ayat 2).

"Padahal,  adakah  yang  memberitahumu,  boleh  jadi  dia  akan  jadi  orang  yang  suci." (ayat 3).

Dalam ketiga ayat ini ahli-ahli bahasa yang mendalami isi al-Quran merasakan benar- benar betapa mulia  dan tinggi  susun  bahasa  wahyu  itu  dan Allah  terhadap RasulNya.

Beliau disadarkan dengan halus supaya jangan sampai bermuka masam kepada orang yang datang bertanya; hendaklah bermuka manis terus, sehingga orang-orang yang tengah dididik itu merasa bahwa dirinya dihargai. Pada ayat 1 dan 2 kita  melihat bahwa kepada Rasulullah tidaklah dipakai bahasa berhadapan, misalnya; "Mengapa engkau bermuka masam, mentang-mentang yang datang itu orang buta?"

Dan tidak pula bersifat larangan:"Jangan engkau bermuka masam dan berpaling." Karena dengan susunan kata larangan, teguran itu menjadi lebih keras.Tidak layak dilakukan kepada orang yang Allah sendiri menghormatinya!

Tidak! Allah tidak memakai perkataan yang demikian susunnya kepada RasulNya. Melainkan dibahasakannya RasulNya sebagai orang ketiga menurut ilmu pemakaian bahasa. Allah tidak mengatakan engkau melainkan dia.Dengan sebagai orang ketiga, ucapan itu menjadi lebih halus. Apatah lagi dalam hal ini Rasulullah  tidaklah  membuat  suatu  kesalahan  yang  disengaja atau  yang mencolok mata.

Apatah lagi Ibnu Ummi Maktum anak saudara perempuan beliau, bukan  orang  lain bahkan terhitung anak beliau juga.

Di ayat 3 barulah Allah menghadapkan firmanNya terhadap Rasul sebagai orang kedua dengan ucapan  engkau atau  kamu; "Padahal, adakah yang memberitahumu, boleh jadi dia akan jadi orang yang suci?" Kita ini pun,walaupun terhadap  orang kedua, susunannya  pun halus. Memang belum ada orang yang memberitahu lebih dahulu bahwa Ibnu Ummi Maktum itu di belakang hari akan menjadi orang yang sangat penting, yang benar telah dapat mensucikan dirinya. Allah pun di dalam ayat ini memakai bahasa halus memberitahukan bahwa Ibnu Ummi Maktum itu kelak akan jadi orang yang suci, dengan membayangkan dalam kata halus bahwa terdahulu belum ada agaknya orang yang mengatakan itu kepada Nabi s.a.w.

Apakah  perbuatan  Nabi  s.a.w. bermuka masam  itu  satu  kesalahan  yang  besar, atau satu dosa Tidak! Ini adalah satu ijtihad; dan menurut ijtihad beliau orang-orang penting pemuka Quraisy itu hendaklah diseru kepada Islam dengan sungguh-sungguh. Kalau orang-orang semacam`Utbah bin Rabi'ah, Abu Jahal bin Hisyam dan Abbas bin Abdul Muthalib masuk Islam, berpuluh di belakang mereka yang akan mengikut. Payah-payah sedikit menghadapi mereka tidak mengapa. Masuknya Ibnu Ummi Maktum ke dalam majlis itu beliau rasa agak mengganggu yang sedang asyik   mengadakan da'wah. Sedang Ibnu Ummi Maktum itu orang yang sudah Islam juga. 

"Padahal,  adakah  yang memberitahumu, boleh  jadi  dia  akan  jadi  orang  yang  suci?" (ayat  3). "Atau  dia  akan  ingat, lalu  memberi  manfaat  kepadanya  ingatnya itu?"  (ayat4). Dengan kedua ayat ini Rasulullah s.a.w. diberi ingat oleh Allah bahwa Ibnu  Ummi Maktum itu lebih  besar harapan akan berkembang lagi  menjadi  seorang yang  suci, seorang yang bersih  hatinya, walaupun dia buta. Karena meskipun mata buta, kalau jiwa bersih, kebutaan tidaklah akan menghambat kemajuan iman seseorang.

Bayangan yang sehalus itu dari Allah terhadap seorang yang cacat pada jasmani dalam keadaan buta, tetapi dapat lebih maju dalam iman, adalah satu pujian bagi Ibnu Ummi Maktum pada khususnya dan sekalian orang buta pada umumnya. Dan orang pun  melihat sejarah gemilang Ibnu Ummi Maktum itu, sehingga tersebut di dalam sebuah riwayat dari Qatadah, yang diterimariya dari Anas bin Malik, bahwa di zaman pemerintahan Amirul Mu'minin Umar bin Khathab, Anas melihat dengan matanya sendiri Ibnu Ummi Maktum turut dalam peperangan hebat di Qadisiyah, ketika penaklukan negeri Persia, di bawah pimpinan Sa'ad bin Abu Waqqash.

"Adapun (terhadap) orang yang merasa diri cukup." (ayat 5). Yaitu orang yang merasa dirinya sudah pintar, tidak perlu diajari lagi, atau yang merasa dirinya kaya sehingga merasa rendah kalau menerima ajaran dari orang yang dianggapnya miskin, atau merasa dirinya sedang berkuasa sehingga marah kalau mendengar kritik dari rakyat yang dipandangnya rendah; "Maka engkau menghadapkan (perhatian)  kepadanya." (ayat 6).

Itulah suatu ijtihad yang salah, meskipun maksud baik! Orang-orang yang merasa dirinya telah cukup itu memandang enteng segala nasihat. Pekerjaan besar, revolusi-revolusi besar, perjuangan perjuangan yang hebat tidaklah dimulai oleh orang-orang yang telah merasa cukup. Biasanya orang yang seperti demikian datangnya ialah kemudian sekali, setelah melihat pekerjaan orang telah berhasil.

"Padahal, apalah rugimu kalau dia tidak mau suci." (ayat 7). Padahal sebaliknyalah yang akan terjadi, sebab dengan menunggu-nunggu orang-orang seperti itu tempoh akan banyak terbuang. Karena mereka masuk ke dalam perjuangan lebih dahulu akan memperkajikan, berapa keuntungan benda yang akan didapatnya. Di dalam ayat ini Tuhan telah membayangkan,  bahwa  engkau  tidaklah akan rugi kalau orang itu tidak mau menempuh jalan kesucian. Yang akan rugi hanya  mereka sendiri,  karena  masih bertahan dalam penyembahan kepada berhala.

"Dan adapun orang yang datang kepadamu berjalan cepat." (ayat 8). Kadang-kadang datang dari tempat yang jauh-jauh, sengaja hanya hendak mengetahui hakikat ajaran agama, atau berjalan kaki karena miskin tidak mempunyai kendaraan sendiri; "Dan dia pun dalam rasa takut." (ayat 9). Yaitu rasa takut kepada Allah, khasyyah! Karena iman mulai tumbuh; "Maka engkau terhadapnya berlengah-lengah." (ayat 10).

Sejak teguran ini Rasulullah s.a.w. merobah taktiknya yang lama. Lebih-lebih terhadap orang-orang baru yang datang dari kampung-kampung yang jauh, yang disebut orang Awali, atau orang Badwi atau yang disebut A'rab. Malahan sesampai di Madinah pernah si orang  kampung yang belum tahu peradaban itu memancarkan kencingnya di dalam mesjid, sehingga sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. marah kepada  orang  itu.  Lalu dengan lemah-lembutnya  Rasulullah  bersabda:  "Jangan  dia dimarahi, cari saja air, siram baik-baik."

Maka datanglah satu ukhuwwah Islamiah dan satu penghormatan yang baik di kalangan sahabat-sahabat Rasulullah s.a.w. itu, karena teguran halus yang rupanya sudah disengaja Tuhan itu.

Al-Qasyani menulis dalam tafsirnya; "Adalah Nabi s.a.w. itu di dalam haribaan didikan Tuhannya, karena dia adalah kekasih Tuhan. Tiap-tiap timbul dari dirinya sesuatu sifat yang akan dapat menutupi cahaya kebenaran (Nurul Haqq), datanglah teguran halus Tuhan. Tepatlah apa yang beliau sendiri pemah mengatakan:

"Aku telah dididik oleh Tuhanku sendiri, maka sangatlah baiknya didikan itu.''

Sehingga budi akhlak beliau telah diteladannya dari budi akhlak Tuhan sendiri.

Tambahan kita; Dan cara Allah memberikan teguran itu, demikian halusnya kepada Nabi yang dicintaiNya, pun adalah suatu adab yang hendaklah kita teladan pula.

كلا إنها تذكرة
فمن شاء ذكره
في صحف مكرمة
مرفوعة مطهرة
بأيدي سفرة
كرام بررة


11. Sekali-kali jangan (demikian)! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhan itu adalah suatu peringatan,
12. Maka Barangsiapa yang menghendaki, tentulah ia memperhatikannya,
13. Di dalam Kitab-Kitab yang dimuliakan
14. Yang ditinggikan lagi disucikan,
15. Di tangan Para penulis (malaikat),
16. Yang mulia lagi berbakti.

Peringatan!

Tidak begitu!" (pangkal ayat 11). Artinya janganlah  kamu  salah sangka, atau salah tafsir, sehingga kamu menyangka atau menafsirkan bahwa ayat-ayat yang turun ini hanya semata-mata satu teguran karena Nabi bermuka masam seketika Ibnu Ummi Maktum datang. Soalnya bukan itu! "Sesungguhnya dia itu," yaitu  ayat-ayat  yang diturunkan Tuhan itu, "adalah peringatan." (ujung ayat 11).

Artinya,  bahwasanya  ayat-ayat yang turun dari langit, yang kemudiannya tersusun menjadi Surat-surat dan semua Surat-surat itu terkumpul menjadi al-Quranul Karim, semuanya adalah  peringatan ummat manusia dan jin, tidak pandang martabat dan pangkat, kaya dan miskin; semuanya hendaklah menerima peringatan itu.

"Maka barangsiapa yang rnau, ingatlah dia  kepadanya." (ayat 12). Baik yang mau itu orang merdeka sebagai Abu Bakar, atau hambasahaya sebagai Bilal. atau orang kaya sebagai Abu Sufyan, atau orang miskin  dari desa, sebagai  Abu Zar; namun martabat mereka di sisi Allah adalah sama. Yaitu sama diterima jika beriman, sama disiksa jika mendurhaka.

"(Dia) adalah di dalam  kitab-kitab yang dimuliakan." (ayat 13). Artinya, sudah lama sebelum ayat-ayat  al-Quran  itu  diturunkan  ke  dunia ini  kepada  Nabi  Akhir Zaman Muhammad s.a.w. dia  telah  tertulis  terlebih  dahulu  di  dalam shuhuf yang di dalam tafsir  ini  kita artikan  kitab-kitab.  Shuhuf  adalah  kata  banyak  dari  shahifah. Di  dalam sebuah  Hadis yang dinyatakan  bahwa  keseratus  empat belas Surat  itu  telah tertulis lengkap dan tertahan di langit pertama, dan diturunkan ke dunia dengan teratur dalam masa 23 tahun.

Dia terletak di waktu itu di tempat yang mulia, dan tidak seorang pun dapat  menyentuhnya kecuali malaikat-malaikat yang suci-suci. Sebab itu dikatakan seterusnya;"Yang ditinggikan, yang disucikan." (ayat 14). Yang  ditinggikan,  yaitu ditinggikan kehormatannya, tidak sama dengan sembarang kitab. Yang disucikan dan dibersihkan daripada tambahan dan kekurangan, disuci-bersihkan  pula  daripada tambahan kata manusia, khusus Kalam Allah semata-mata. "Di  tangan utusan-utusan." (ayat 15)

Kalimat Safarah kita artikan di sini dengan utusan-utusan, sebab dia adalah kata banyak dari Safiir, yang pokok artinya ialah Utusan Terhormat, atau Utusan Istimewa.

Oleh sebab itu maka Utusan sebuah negara ke negara lain, yang disebut dalam bahasa asing Ambasador, di dalam bahasa Arab moden pun disebut Safiir. Dan dalam bahasa Indonesia kita sebut Duta, atau Duta Besar Istimewa. Maka bahasa yang paling tinggi pulalah  yang  layak  kita  berikan  kepada  malaikat-malaikat  pembantu  Jibril;  "Yang
mulia-mulia, yang berbakti." (ayat 16). Menyampaikan ayat-ayat sabda  Tuhan  itu kepada Manusia "Mushthafa", Pilihan Tuhan itu. Demikianlah sucinya al-Quran

قتل الإنسان ما أكفره
من أي شيء خلقه  
من نطفة خلقه فقدره   
ثم السبيل يسره    
ثم أماته فأقبره             
ثم إذا شاء أنشره                  

كلا لما يقض ما أمره                         
17. Binasalah manusia; Alangkah Amat sangat kekafirannya?
18. Dari Apakah Allah menciptakannya?
19. Dari setetes mani, Allah menciptakannya lalu menentukannya
20. Kemudian Dia memudahkan jalannya
21. Kemudian Dia mematikannya dan memasukkannya ke dalam kubur,
22. Kemudian bila Dia menghendaki, Dia membangkitkannya kembali.

23. Sekali-kali jangan; manusia itu belum melaksanakan apa yang diperintahkan Allah kepadanya,

"Celakalah Insan!" (pangkal ayat 17). Satu ungkapan sesalan dari Tuhan kepada manusia; "Alangkah sangat kufurnya." (ujung  ayat 17). Adakah patut manusia itu masih juga kufur kepada Tuhan.  Masih juga tidak mau menerima kebenaran yang dibawa Rasul.Insan masih saja  menyombong: "Daripada apa Dia menjadikannya?" (ayat 18). Daripada apa Allah menjadikan  atau  menciptakan  manusia?  "Dari  nuthfah Dia telah menjadikannya (pangkal ayat 19). Nuthfah ialah segumpalan air yang telah menjadi kental, gabungan yang keluar dari shulbi ayah dengan yang keluar dari taraib ibu. Dari itu asal mula manusia dijadikan; "Dan Dia mengaturnya." (ujung ayat 19).

Dari sanalah asal kejadian itu; yakni dipertemukan air bapa dengan air ibu, bertemu di dalam rahim ibu, lalu berpadu jadi satu, menjadi satu nuthfah, yang berarti  segumpal air. Setelah 40 hari pula sesudah itu dia pun menjelma menjadi segumpal daging.

Hal yang demikian diperingatkan kepada manusia untuk difikirkannya bahwa kekufuran tidaklah  patut,  tidaklah  pantas.  Di  ayat  pertama  dari  Surat  76,  al-Insan Manusia) pun telah  diperingatkan bahwa  jika  direnungkan benar-benar, tidaklah ada arti manusia itu bilamana  dibandingkan  dengan  alam  lain  sekelilingnya.  (Ingat  lagi ayat 27 dari Surat an-Nazi'at (79) yang baru lalu). Maka tidaklah patut manusia kufur.

Tidaklah patut manusia ingkar dari kebesaran Tuhan, kalau manusia mengingat betapa di waktu dahulu dia terkurung di dalam rahim ibu yang sempit itu dan dipelihara menurut belas kasihan Allah di tempat itu.

"Kemudian Dia mudahkan jalan keluarnya." (ayat 20). Dimudahkan jalan keluar buat hidup dan datang ke  dunia.  Dimudahkan  pintu  keluar  dari  rahim  itu sampai terlancar dan terluncur keluar. Dimudahkan terus persediaan buat hidup dengan adanya air susu yang disediakan pada ibu di waktu kecil. Dibimbing dengan cinta kasih sampai mudah tegak sendiri di  dalam  hidup melalui  masa  kecil, masa dewasa, masa mencari jodoh teman hidup,  masa  jadi  ayah,  masa  jadi  nenek atau datuk;  "Kemudian  Dia matikan dia."(pangkal   ayat   21).   Karena   akhir   daripada   hidup   itu   pastilah   mati.

Mustahil ada  hidup yang tidak diujungi  mati, kecuali bagi  Pencipta  hidup itu  sendiri. "Dan Dia  suruh  kuburkan." (ujung ayat  21). Tidak  dibiarkan  tercampak  saja  tergolek di muka bumi  dengan tidak berkubur. Melainkan selekasnya seputus nyawa, segera diperintahkan Allah kepada manusia yang hidup supaya segera dikuburkan. "Kemudian, apabila dikehendakiNya, akan Dia bangkitkan dia." (ayat 22).

Disebut  di   pangkal  ayat  apabila   Dia   kehendaki,  insan   itu   pun   akan   dibangkitkan kembali. Mengapa apabila Dia kehendaki? Karena dengan memakai kata-kata apabila (idza)  Dia  kehendaki,  maklumlah  kita  karena  yang  demikian  itu  bergantung  kepada kata-kata mataa? Artinya: "Bilakah masa akan dibangkitkan itu?"

Dibangkitkan  sudah  pasti,  tetapi  masa  apabila  akan  dibangkitkan,  hanya  Allah  yang Maha Tahu. Itu adalah terserah mutlak kepada kekuasaan Allah. "Belum! Sekali-kali belumlah dia menunaikan apa yang Dia perintahkan kepadanya." (ayat 23).

Artinya menurut  keterangan Ibnu Jarir dalam tafsirnya; "Belumlah manusia itu menunaikan tugas dan kewajiban yang diperintahkan Tuhan ke atas dirinya sebagaimana mestinya. Masih banyak perintah Allah yang mereka  lalaikan.  Masih banyak mereka memperturutkan kehendak hawa nafsu.

Terlalu  sangat  banyak  nikmat  yang  dianugerahkan  Allah  kepada  Insan  dan  masih terlalu   banyak   perintah   Ilahi   yang   dilalaikan   oleh   manusia.   Jika   manusia  merasa bahwa dia telah bekerja dengan baik, belumlah seimbang, belumlah dengan sepatutnya  jua dan  belumlah  sewajarnya  Insan  mengingat  Tuhannya.  Artinya  masih
sangat lalai manusia dari mengingat Tuhan.

Sesuailah intisari ayat ini dengan apa yang pernah dikatakan oleh seorang Shufi yang besar,   yaitu   Muhammad   Abu   Madyan;   "Janganlah   engkau   mengharapkan   dengan amalan  yang  engkau  kerjakan,  engkau  akan  mendapat  ganjaran  dari  Allah.  Kurnia Allah  kepadamu  kelak  hanyalah  belas  kasihan  saja.  Tidak  sepadan  kecilnya  amalmu dengan besar ganjaran Allah."


Pada  ayat  18  sampai  ayat  22  manusia  diberi  ingat  bahwa  mereka  dijadikan  dari  air nuthfah,  lalu  ditakdir  dan  dijangkakan,  ditentukan  takaran  hidup,  sesudah  itu  mati. Dan   jika   datang   masanya,   jika   Tuhan   menghendaki,   mereka   pun   dibangkitkan kembali daripada alam kubur itu.

فلينظر الإنسان إلى طعامه    
أنا صببنا الماء صبا           
ثم شققنا الأرض شقا           
فأنبتنا فيها حبا                      
وعنبا وقضبا               
وزيتونا ونخلا                 
وحدائق غلبا                   
وفاكهة وأبا               
متاعا لكم ولأنعامكم                


24. Maka hendaklah manusia itu memperhatikan makanannya.
25. Sesungguhnya Kami benar-benar telah mencurahkan air (dari langit),
26. Kemudian Kami belah bumi dengan sebaik-baiknya,
27. Lalu Kami tumbuhkan biji-bijian di bumi itu,
28. Anggur dan sayur-sayuran,
29. Zaitun dan kurma,
30. Kebun-kebun (yang) lebat,
31. Dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
32. Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

Hal itu telah mereka dengar beritanya; sekarang manusia disuruh  melihat dan menyaksikan sendiri  bagaimana pertalian  hidupnya dengan bumi tempat dia  berdiam ini; "Maka cobalah memandang manusia kepada makanannya." (ayat 24).Perhatikanlah dari mana datangnya makanan itu dan bagaimana tingkat-tingkat pertumbuhannya sehingga makanan itu telah ada saja dalam piring terhidang di hadapannya. Asal mulanya  ialah: "Sesungguhnya  telah Kami  curahkan  air  securah- curahnya." (ayat 25).

Asal  mulanya  ialah  bahwa  bumi  itu  kering,  maka  turunlah  hujan.  Hujan  lebat  sekali yang  turun  laksana  dicurahkan  dari  langit.  Maka  bumi  yang  laksana  telah  mati  itu hiduplah   kembali. "Kemudian   Kami   lunakkan   bumi   seluluk-luluknya.' (ayat  26). Bum yang  tadinya  kering  dan  keras  sehingga  tidak  ada  yang  dapat  tumbuh,  dengan turunnya  hujan  maka  Iunaklah  tanah  tadi,  menjadi  luluk,  menjadi  lumpur.  Di atas tanah   yang   telah   lunak   jadi   lumpur   atau   luluk   itulah   kelak   sesuatu   akan   dapat ditanamkan; "Maka Kami tumbuhkan padanya benih-benih makanan." (ayat 27).

Pada  negeri-negeri  yang  makanan  pokoknya  ialah  padi,  tafsir  ayat  ini  sangat  lekas dapat  difahamkan.  Memang  sawah  itu  dilulukkan  lebih  dahulu  baru  dapat  ditanami benih.  Yaitu  benih  padi,  benih  gandum,  benih  kacang  dan  jagung;  'Dan  anggur  dan sayur-sayuran.' ayat 28).

Dengan mensejajarkan anggur sebagai buah-buahan yang  dapat  dimakan langsung dengan sayur-sayuran lain yang sangat diperlukan vitamin dan kalorinya bagi manusia, nampaklah bahwa keduanya itu sama pentingnya sebagai zat makanan. "Dan buah  zaitun dan  korma."  (ayat  29). Zaitun  selain  dapat  dimakan,  dapat  pula  diambil minyaknya. 'Dan  kebun-kebun yang subur." (ayat  30).  Dengan  menyebutkan  kebun- kebun  yang subur  maka  tercakuplah  di  dalamnya  buah-buahan  yang  lain  yang  sejak zaman dahulu  telah  diperkebunkan orang, sebagai  diceriterakan  di  dalam  Surat  34, Saba' ayat 15,  sehingga  kesuburan tanah  menimbulkan  syukur  kepada  Tuhan,  dan kesyukuran, menyebabkan  baldatun thayyibatun  wa  rabbun  ghafuur  (Negeri  yang makmur dan Tuhan yang memberi ampun).

Dan buah-buahan dan rumput-rumputan." (ayat 31). "Akan bekal bagi kamu dan bagi ternak-ternak  kamu." (ayat  32). Artinya  berpuluh  macam  buah-buahan segar yang dapat dimakan oleh manusia; sejak dari delima, anggur, epal, berjenis pisang, berjenis mangga dan berbagai buah-buahan yang hanya tumbuh di daerah beriklim dingin dan yang tumbuh di daerah beriklim panas; sebagai pepaya, nenas, rambutan, durian, duku dan langsat  dan  buah  sawo  dan  lain-lain  dan  berbagai  macam  rumput-rumputan  pula untuk makanan binatang ternak yang dipelihara oleh manusia tadi.

Pokok  pangkal semuanya  itu ialah dari air hujan yang dicurahkan Allah dengan lebatnya dari langit sampai tanah jadi luluk, membawa apa yang dinamai bunga tanah.

Maka  kalau  kita  simpulkan  di  antara  kedua  peringatan  itu,  pertama  tentang  asal  usul kejadian manusia dari nuthfah sampai dapat hidup di atas permukaan bumi ini. Kedua setelah hidup di bumi jaminan untuk melanjutkan hidup itu pun selalu tersedia selama langit masih  terkembang  dan  lautan  masih  berombak  bergelombang,  dan  air  laut  itu akan menguap  ke  udara  menjadi  awan,  menjadi  mega  dan  mengumpul  hujan,  lalu hujan, selama itu pula jaminan Allah masih ada atas kehidupan ini.

Setelah demikian halnya mengapalah manusia akan lupa juga kepada Tuhannya? Mengapa juga manusia akan lupa dari mana dia, siapa menjamin hidupnya di sini dan ke mana dia akan pergi.?


فإذا جاءت الصاخة            
يوم يفر المرء من أخيه                  
وأمه وأبيه                        
وصاحبته وبنيه                        
لكل امرئ منهم يومئذ شأن يغنيه                    
وجوه يومئذ مسفرة                      
ضاحكة مستبشرة                       
ووجوه يومئذ عليها غبرة                       
ترهقها قترة                  
أولئك هم الكفرة الفجرة                         


33. Dan apabila datang suara yang memekakkan (tiupan sangkakala yang kedua),
34. Pada hari ketika manusia lari dari saudaranya,
35. Dari ibu dan bapaknya,
36. Dari istri dan anak-anaknya.
37.Setiap orang dari mereka pada hari itu mempunyai urusan yang cukup menyibukkannya.
38. Banyak muka pada hari itu berseri-seri,
39. Tertawa dan bergembira ria,
40. Dan banyak (pula) muka pada hari itu tertutup debu,
41. Dan ditutup lagi oleh kegelapan
42. Mereka Itulah orang-orang kafir lagi durhaka.

Setelah diperingatkan bagaimana jalannya jaminan makan yang diberikan Allah karena tercurahnya air hujan yang menyuburkan  bumi  lalu  menimbulkan  tumbuh-tumbuhan yang diperlukan buat hidup, pada  akhirnya  Allah  memberikan  peringatan bahwa hidup itu berbatas adanya. Hidup dibatasi oleh mati. Dan sesudah mati ada lagi hidup yang kekal.

"Maka (ingatlah) apabila datang suara yang sangat keras itu." (ayat 33).

Di dalam ayat ini disebut ash-Shakhkhah! Yang berarti  suara yang sangat  keras. saking kerasnya  akan pecahlah anak telinga  bila suara itu terdengar. Ini adalah salah satu dari nama-nama hari kiamat yang tersebut dalam al-Quran. Ada disebut al-Haqqah, atau al-Qari'ah  yang  artinya  hampir sama; suara  sangat  keras, suara pekik yang menyeramkan bulu roma, atau kegoncangan yang tiada terpermanai dahsyatnya, yang masing-masing kelak akan bertemu dalam Suratnya sendiri-sendiri.

Demikian  hebatnya  hari  itu,  sehingga; "(Yaitu)  pada  hari  yang  setiap  orang lari dari saudaranya." (ayat 34). "Dan dari  ibunya dan dari ayahnya.'' (ayat  35). "Dan  dari isterinya dan anak-anaknya." (ayat 36). Di dalam ketiga ayat ini didahulukan menyebut saudara yang seibu-sebapa atau seibu saja  atau  sebapa  saja,  sebagai  orang yang  terdekat. Dan lebih dekat lagi dari itu ialah ibu dan ayah. Tetapi  isteri  adalah orang yang lebih dekat lagi, teman hidup setiap hari bilamana orang telah dikawinkan oleh ayah-bundanya dan telah menegakkan rumahtangga  sendiri.  Kemudian  itu, anak kandung lebih dekat lagi  daripada isteri,  lebih  dekat  dari  ayah  dan  bunda  dan  lebih dekat lagi dari saudara kandung.

Sebab anak adalah penyambung turunan diri, laksana darah daging sendiri. Maka bila tiba hari perhitungan di hari kiamat itu segala saudara, ibu dan ayah, isteri dan anak itu tidak teringat lagi. Bagaimanapun kasih dan rapat kita dengan mereka, namun di hari perhitungan itu kita  tidak akan  mengingat mereka lagi, betapa pun karibnya. Sebab masing-masing kita telah menghadapi masalahnya sendiri-sendiri. Itulah  yang dengan tepat dikatakan dalam   ayat  yang selanjutnya; "Bagi  setiap orang dari  mereka  itu,  di  hari  itu,  ada  satu  perkara  yang dihadapinya." (ayat 37).

Bagaimana   orang   akan   mengingat   anaknya   dan   isterinya,   ayahnya   atau   ibunya, saudara  kandung  atau  tirinya,  kalau  dia  sendiri  di  waktu  itu  sedang  terlibat  dengan pertanyaan-pertanyaan  yang  tidak  dapat  dijawabnya  dengan  berdusta?  Dan  saudara, ayah dan ibu, dan isteri dan anak-anak itu pun terlibat pula dalam soal mereka sendiri- sendiri.

Orang  lainkah yang akan terkenang, padahal masalah yang dihadapi demikian beratnya dan keputusan belum jelas?

"Beberapa wajah di hari itu berseri-seri." (ayat 38). "Tertawa-tawa, bersukacita." (ayat 39).

Mengapa  wajah mereka berseri-seri? Mengapa mereka tertawa-tawa bersukacita?Tentu saja kegembiraan itu timbul setelah mendapat keputusan yang baik dari Hakim Yang  Maha Tinggi, Allah Subhanahu wa Ta'ala, karena timbangan amal  lebih  berat kepada  kebajikan; maka syurgalah tempat  yang  ditentukan  untuknya. Baru di sana kelak akan bertemu dengan saudara, ayahbunda, isteri dan anak, kalau memang sama- sama ada amal kebajikan.

Dan  beberapa wajah  di  hari  itu,  padanya  ada  kemuraman." (ayat  40). "Ditekan  oleh kegelapan." (ayat 41).

Mengapa wajah jadi muram dan kegelapan menekan sehingga tak ada cahaya harapan sama-sekali?

"Mereka  itu  ialah  orang-orang  yang  kafir."  (pangkal  ayat  42).  Tidak  mau  menerima kebenaran,  bahkan  menolaknya.  "Yang  durhaka.''  (ujung  ayat  42).  Maka  begitulah nasib orang yang kafir dan durhaka; muram suram karena telah salah menempuh jalan sejak semula.

Posting Komentar Blogger