INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
MemahamiAyat Tentang Pendayagunaan Akal Pikiran - Pengembangan Ilmu Pengetahuan Dan
Pemanfaatan Alam Semesta
Bagi Kehidupan Manusia perlu adanya pemikiran yang cerdas dan bermanfaat, jika manusia tidak bisa mengunakan pikirannya dengan benar terutama dalam memanfaatkan sumberdaya alam yang tersedia bisa jadi manusia dengan pikiran yang ada padanya akan merusak alam yang telah Allah sediakan bagi kehidupannya. Dalam Alqu'an Surat Al-Fathir
27-28 Allah swt telah menerangkan bahwa :
أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ
السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا وَمِنَ الْجِبَالِ
جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ(27)وَمِنَ النَّاسِ
وَالدَّوَابِّ وَالْأَنْعَامِ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ كَذَلِكَ إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ
مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ إِنَّ اللَّهَ عَزِيزٌ غَفُورٌ(28)
Artinya
: Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu
Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di
antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam
warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. Dan demikian (pula) di antara
manusia, binatang-binatang melata dan binatang-binatang ternak ada yang
bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara
hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama. Sesungguhnya Allah Maha perkasa lagi
Maha Pengampun.
Al-'Alaq
1-5
اقْرَأْ
بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ(1)خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ(2)اقْرَأْ وَرَبُّكَ
الْأَكْرَمُ(3)الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ(4)عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ(5)
Artinya : Bacalah dengan
(menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari
segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar
(manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang
tidak diketahuinya.
Ayat di atas
memerintahkan Nabi Muhammad SAW untuk membaca guna lebih memantapkan lagi hati
beliau. Ayat di atas bagaikan menyatakan “bacalah wahyu-wahyu Ilahi yang
sebentar lagio akan banyak engkau terima dan baca juga alam dan masyarakatmu,
bacalah agar engkau membekali dirimu dengan kekuatan pengetahuan. Bacalah semua
itu, tetapi dengan syarat hal tersebut engkau lakukan dengan atau demi Tuhan
yang selalu memelihara dan membimbingmu dan yang mencipta semua makhluk kapan
dan dimanapun”.
Kata iqra’
terambil dari kata kerja qara’a yang pada mulanya berarti menghimpun. Apabila
kita merangkai huruf atau kata kemudian kita mengucapkan rangkaian tersebut,
maka kita telah menghimpun menghimpunnya yakni membacanya. Dengan demikian,
realisasi perintah tersebut tidak mengharuskan adanya suatu teks sebagai objek
bacaan, tidak pula harus diucapkan sehingga terdengar oleh orang lain.
Karenanya, dalam kamus-kamus ditemukan aneka ragam arti dari kata tersebut.
Antara lain ; menyampaikan, menelaah, membaca, mendalami, meneliti, mengetahui
ciri-ciri sesuatu dan sebagainya yang kesemuanya bermuara pada arti menghimpun.
Ayat di atas tidak menyebutkan objek bacaan – dan Jibril as ketika itu tidak juga membaca satu teks tertulis dan karena itu dalam satu riwayat dinyatakan bahwa Nabi SAW bertanya “ما أقرأ؟” apakah yang harus saya baca?.
Beraneka ragam pendapat ahli tafsir tentang objek bacaan yang dimaksud. Ada yang berpendapat wahyu-wahyu al-Qur’an, sehingga perintah itu dalam arti “bacalah wahyu-wahyu al-Qur’an ketika dia turun nanti”. Ada juga yang berpendapat objeknya adalah “Ismi Rabbika” sambil menilai huruf “ba” yang menyertai kata “isim” adalah sisipan sehingga ia berarti bacalah nama tuhanmu atau berzikirlah. Tapi jika demikian, kenapa Nabi SAW menjawab “saya tidak dapat membaca”. Seandainya yang dimaksud adalah perintah berzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena jauh sebelum datang wahyu beliau telah senantiasa melaksanakannya.
Muhammad Abduh
memahami perintah membaca disini bukan sebagai beban tugas yang harus
dilaksanakan (amar taklifi) sehingga membutuhkan objek, tetapi ia adalah “amar
takwini” yang mewujudkan kemampuan membaca secara aktual pada diri pribadi Nabi
Muhammad SAW. Pendapat ini dihadang oleh kenyataan bahwa setelah turunnya perintah
ini pun Nabi Muhammad SAW masih tetap dinamai al-Qur’an sebagai seorang “ummy”
(tidak pandai membaca dan menulis), disisi lain jawaban Nabi kepada Jibril
ketika itu, tidak mendukung pemahaman tersebut.
Kaidah
kebahasaan menyatakan, “apabila suatu kata kerja yang membutuhkan objek tetapi
tidak disebutkan objeknya, maka objek yang dimaksud bersifat umum, mencakup segala
sesuatu yang dapat dijangkau oleh kata tersebut”. Dari sini dapat
ditarikmkesimpulan bahwa karena kata ‘iqra digunakan dalam arti membaca,
menelaah, menyampaikan dan sebagainya dan karena objeknya bersifat umum, maka
objek kata tersebut mencakup segala yang dapat terjangkau, baik ia merupakan
bacaan suci yang bersimber dari tuhan maupun bukan, baik ia menyangkut
ayat-ayat yang tertulis maupun tidak tertulis. Alhasil perintah iqra’ mencakup
telaah alam raya, masyarakat, diri sendiri serta bacaan tertulis maupun tidak
tertulis.
Al-Fushilat
; 53-54
سَنُرِيهِمْ ءَايَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّى
يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَى كُلِّ
شَيْءٍ شَهِيدٌ(53)أَلَا إِنَّهُمْ فِي مِرْيَةٍ مِنْ لِقَاءِ رَبِّهِمْ أَلَا إِنَّهُ
بِكُلِّ شَيْءٍ مُحِيطٌ(54)
Artinya : Kami akan memperlihatkan kepada
mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka
sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al Qur'an itu adalah benar. Dan
apakah Tuhanmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan
segala sesuatu? Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka adalah dalam keraguan
tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha
Meliputi segala sesuatu.
Al-Baqarah
; 29
هُوَ
الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ
فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ(29)
Artinya : Dia-lah Allah, yang
menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju
langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.
Al-Jatsiyah
; 12
اللَّهُ الَّذِي
سَخَّرَ لَكُمُ الْبَحْرَ لِتَجْرِيَ الْفُلْكُ فِيهِ بِأَمْرِهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ
فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ(12)
Artinya : Allahlah yang
menundukkan lautan untukmu supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan
seizin-Nya, dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya dan
mudah-mudahan kamu bersyukur.
Posting Komentar Blogger Facebook