INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Keutamaan istiqamah dari karamah- Istiqamah memliki keutamaan tersendiri dalam islam, orang yang istiqamah adalah orang yang betul-betul sempurna imannya kepada Allah swt. Ketika seseorang telah mengetahui tentang hukum islam (baligh) berarti beban taqlif telah ada dipundaknya, maka dia harus mengamalkan ajaran islam semampunya dan menghentikan secara total semua yang merusak islam pada dirinya. Maka orang yang berbuat seperti itu telah beriman pada Allah, selanjutnya bila dia teguh pendirian untuk memegang dan mengamalkan ajaran tersebuta itulah yang dikatakan istiqamah.

Istiqamah akan menjadikan orang beriaman menjadi hamba Allah pilihan, karena dirinya mampu menjaga amanah Allah swt dan tidak semua oarng beriman mampu melakukan hal tersebut, sehingga Rasulullah saw mengatakan bahwa " Istiqamah lebih mulia dari karamah". Karena orang yang istiqamah beribadah kepada Allah swt tidak mengaharapkan apa-apa kecuali keikhlasan dan mengaharapkan wajah Allah kelak di akhirat. Sebaliknya orang beriman yang beribadah mengharapkan karamah adakalanya menjadi orang yang tidak ikhlas kepada Allah swt. Allah befirman Alquran QS. Fushshilat : 30 

 إن الذين قالوا ربنا الله ثم استقاموا تتنزل عليهم الملائكة ألا تخافوا ولا تحزنوا وأبشروا بالجنة التي كنتم توعدون

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami adalah Allah', kemudian mereka istiqamah (meneguhkan pendirian mereka), maka malaikatakan turun kepada mereka (dengan mengatakan), Janganlah kalian merasa takut dan janganlah kalian merasa sedih, dan bergembiralah kalian dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan Allah kepada kalian'." 

Selanjunya Firman Allah swt dalam QS Al-Ahqaf: 13-14

Artinya : "Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, 'Rabb kami ialah Allah', kemudian mereka tetap istiqamah, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulahpenghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.".
 فاستقم كما أمرت ومن تاب معك ولا تطغوا إنه بما تعملون بصير

Artinya : "Maka tetaplah istiqamah kamu sebagaimana yang diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kalian kerjakan." (Hud: 112).

Allah telah menjelaskan bahwa istiqamah merupakan kebalikan dari sikap yang melampaui batas. Abu Bakar Ash-Shiddiq, orang yang paling lurus dan jujur serta yang paling istiqamah dalam umat ini pernah ditanya tentang makna istiqamah. Maka dia menjawab, "Artinya, janganlah engkau menyekutukan sesuatu pun dengan Allah." Maksudnya, istiqamah adalah berada dalam tauhid yang murni.

Umar bin Al-Khaththab juga berkata, "Istiqamah artinya engkau teguh hati pada perintah dan larangan dan tidak menyimpang seperti jalannya rubah."

Utsman bin Affan berkata, "Istiqamah artinya amal yang ikhlas karena Allah."

Ali bin Abu Thalib dan Ibnu Abbas berkata, "Istiqamah artinya melaksanakan kewajiban-kewajiban."

Al-Hasan berkata, "Istiqamah pada perintah Allah artinya taat kepada Allah dan menjauhi kedurhakaan kepada-Nya."

Mujahid berkata, "Istiqamah artinya teguh hati pada syahadat bahwa tiada Ilah selain Allah hingga bersua Allah."

Saya pernah mendengar Syaikhul-Islam Ibnu Taimiyah berkata, "Istiqamah artinya teguh hati untuk mencintai dan beribadah kepada-Nya, tidak menoleh dari-Nya ke kiri atau ke kanan."
Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Sufyan bin Abdullah Radhiyallahu Anhu, dia berkata, "Aku bertanya, "Wahai Rasulullah, beritahukanlah kepadaku satu perkataan dalam Islam, sehingga aku tidak lagi bertanya lagi kepada seseorang selain engkau." Beliau menjawab, "Katakanlah, 'Aku beriman kepada Allah', kemudian istiqamahlah."
Di dalam Shahih Muslim disebutkan dari Tsauban Radhiyallahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda,

"Istiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak bisa membilangnya. Ketahuilah bahwa sebaik-baik amal kalian adalah shalat, dan tidak ada yang memelihara wudhu' kecuali orang Mukmin."

Di dalam Shahih Muslim juga disebutkan dari hadits Abu Hurairah Radhiyall ahu Anhu, dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, beliau bersabda, "Ikutilah jalan lurus dan berbuatlah apa yang mendekatinya. Ketahuilah bahwa sekali-kali salah seorang di antara kalian tidak akan selamat karena amalnya". Mereka bertanya, "Tidak pula engkau wahai Rasulullah?" Beliau menja wab, "Tidak pula aku, kecuali jika Allah melimpahiku dengan rahmat dan karunia-Nya."

Di dalam hadits ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menghimpun semua sendi agama. Beliau memerintahkan istiqamah, jalan lurus dan niat yang benar dalam perkataan dan perbuatan. Sedangkan di dalam hadits Tsauban beliau mengabarkan bahwa mereka tidak mampu melaku-kannya.

Maka beliau mengalihkannya kepada muqarabah, atau mendekati istiqamah menurut kesanggupan mereka, seperti orang yang ingin mencapai suatu tujuan. Kalau pun dia tidak mampu mencapainya, maka minimal dia mendekatinya. Sekalipun begitu beliau mengabarkan bahwa istiqamah dan apa yang mendekati istiqamah ini tidak menjamin keselamatan pada hari k iamat. Maka seseorang tidak boleh mengandalkan amalnya, tidak membanggakannya dan tidak melihat bahwa keselamatannya tergantung pada amalnya, tapi keselamatannya tergantung dari rahmat dan karunia Allah.

Istiqamah merupakan kalimat yang mengandung banyak makna, meliputi berbagai sisi agama, yaitu berdiri di hadapan Allah secara hakiki dan memenuhi janji. Istiqamah berkaitan dengan perkataan, perbuatan, keadaan dan niat. Istiqamah dalam perkara-perkara ini berarti pelaksanaannya karena Allah, beserta Allah dan berdasar kan perintah Allah. Sebagian orang arif berkata, "Jadilah orang yang memiliki istiqamah dan janganlah menjadi orang yang mencari kemuliaan, karena jiwamu bergerak untuk mencari kemuliaan, sementara Rabb-mu memintamu untuk istiqamah."

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, istiqamah merupakan ruh, yang karenanya keadaan menjadi hidup dan juga menyuburkan amal manu sia secara umum. Istiqamah merupakan penyekat antara dua hal yang ada di bawah dan yang di atas.

Dia menyerupakan istiqamah dari suatu keadaan seperti ruh bagi badan. Sebagaimana badan yang tidak memiliki ruh sama dengan mayat, maka keadaan yang tidak memiliki istiqamah tentu akan rusak. Karena kehidupan keadaan hanya dengan istiqamah, maka tambahan dan pertumbuhan amal orang-orang yang zuhud hanya dengan istiqamah. 

Istiqamah diserupakan dengan penyekat antara dua hal yang berbeda, antara yang di atas dan yang di bawah. Orang yang berada di permukaan yang tinggi tentu bisa melihat yang dekat maupun yang jauh, berbeda dengan orang yang berada di tempat yang permukaannya lebih rendah. Dengan kata lain, bahwa orang yang berjalan kepada Allah, pada mulanya dia berada di permukaan yang lebih rendah, lalu dia berjalan menuju tempat yang lebih tinggi, istiqamah dalam perjalanannya, agar dia benar-benar sampai ke puncaknya. Istiqamahnya merupakan penyekat dan batas antara tempat permulaan per jalanannya dan tempat tujuan-nya.

Menurut pengarang Manazilus-Sa'irin, ada tiga derajat ist iqamah, yaitu:
1. Istiqamah dalam usaha untuk melalui jalan tengah, tidak melampaui rancangan ilmu, tidak melanggar batasan ikhlas dan tidak menyalahi manhaj As-Sunnah. Derajat ini meliputi lima perkara:
  • Amal dan usaha yang dimungkinkan.
  • Jalan tengah, yaitu perilaku antara sisi berlebih-lebihan atau kesewenang-wenangan dan pengabaian atau penyia-nyiaan.
  • Berada pada rancangan dan gambaran ilmu, tidak berada pada tuntutan keadaan.
  • Kehendak untuk mengesakan sesembahan, yaitu ikhlas.
  • Menempatkan amal pada perintah, atau mengikuti As-Sunnah.

Lima perkara inilah yang menyempurnakan istiqamahnya orang-orang yang berada pada derajat ini. Selagi keluar dar i salah satu di antara nya, berarti mereka keluar dari istiqamah, entah keluar secara ke seluruhan ataukah sebagiannya saja. Biasanya orang-orang salaf menyebutkan dua sendi ini, yaitu jalan tengah dalam amal dan berpegang kepada As-Sunnah. Sesungguhnya syetan itu bisa mencium hati ham ba dan juga mengintainya. Jika dia melihat suatu indikasi ke bid'ah di dalamnya dan berpaling dari kesempurnaan ketundukan kepada As-Sunnah, maka ia akan mengeluarkannya agar tidak berpegang kepada As-Sunnah. 

Jika syetan melihat hasrat yang kuat terhadap As-Sunnah, maka ia tidak akan mampu mempengaruhinya untuk mengeluarkan nya dari As-Sunnah. Maka ia memerintahkannya untuk terus berusaha, lalu bersikap sewenang-wenang terhadap diri sendiri dan keluar dari jalan tengah, seraya berkata kepadanya, "Ini merupakan kebaik-an dan ketaatan. Semakin semangat dalam berusaha, semakin menyem-purnakan ketaatan itu." Begitulah yang terus dibisikkan syetan hingga dia keluar dari jalan tengah dan batasannya. Inilah keadaan golongan Khawarij yang melecehkan orang-orang yang istiqamah, dengan  membandingkan shalat, puasa dan bacaan Al-Qur'an di antara mereka. Kedua golongan ini sama-sama keluar dari As-Sunnah ke bid'ah. Yang pertama keluar ke bid'ah pengabaian dan yang kedua keluar ke bid'ah kelewat batas.

2. Istiqamah keadaan, yaitu mempersaksikan hakikat dan bukan keberun tungan, menolak bualan dan bukan ilmu, berada pada cahaya kesadaran dan bukan mewaspadainya.

Dengan kata lain, istiqamah keadaan dilakukan dengan tiga cara ini. Kaitannya dengan kesaksian hakikat, maka hakikat itu ada dua macam:
  • Hakikat alam dan hakikat agama, yang dipadukan hakikat ketiga, yaitu sumber, pembentuk dan sekaligus tujuan keduanya. Mayoritas pemerhati masalah perilaku dari muta'akhirin mengartikan hakikat ini adalah hakikat alam. Kesaksiannya merupakan kesaksian kesendirian Allah dalam perbuatan. Sedangkan selain Allah merupakan tempat obyek hukum dan perbuatan-Nya, seperti halnya tempat landai yang menja-di sasaran aliran air. Menurut mereka, kesaksian hakikat ini merupakan tujuan orang-orang yang berjalan kepada Allah. Kesaksian hakikat ini tidak bisa dilakukan dengan keberuntungan, kare-na  keberuntungan merupakan kehendak nafsu. Sementara hakikat tidak akan muncul selagi ada nafsu.
  • Perkataan, "Menolak bualan dan bukan ilmu", bualan ini berarti mengaitkan keadaan kepada dirimu dan egoismemu. Istiqamah tidak akan menjadi benar kecuali dengan meninggalkan bualan ini, entah benar entah salah. Sebab bualan yang benar bisa memadamkan cahaya ma'rifat. Lalu bagaimana jika bualan itu jelas dusta? Lalu pendorong untuk meninggalkan bualan ini bukan sekedar pengetahuan tentang keburukan bualan dan dampaknya yang bisa menghilangkan istiqamah, sehingga seseorang meninggalkannya hanya sekedar di luarnya saja dan bukan secara hakiki. Dia harus meninggalkannya secara lahir dan hakiki, sebagaimana seseorang yang meninggalkan sesuatu yang berbahaya bagi dirinya secara lahir dan hakiki. Perkataan, "Berada pada cahaya kesadaran dan bukan mewaspadainya", artinya terus-menerus sadar dan cahayanya tidak boleh padam karena kegelapan kelalaian, dan melihat bahwa dirinya seperti orang yang hendak dirampas, namun mendapat penjagaan dari Allah, dan tidak melihat bahwa hal itu merupakan kewaspadaannya sendiri.

3. Istiqamah dengan tidak melihat istiqamah, tidak lengah untuk mencari istiqamah dan keberadaannya pada kebenaran.

Melihat istiqamah diri sendiri bisa menutupi hakikat kesaksian dan melalaikan apa yang dipersaksikannya. Sedangkan tidak lengah mencari istiqamah artinya tidak lengah mencari kesaksian penegakan kebenaran. Jika seorang hamba mempersaksikan bahwa Allahlah yang menegakkan segala urusan dan istiqamahnya berasal dari Allah, bukan berasal dari dirinya dan juga bukan karena pencariannya, maka dia akan merasa bahwa bukan dirinyalah yang mendatangkan istiqamah itu. Ini merupakan konsekuensi dari kesaksian terhadap asma Allah Al-Qayyum. Artinya keyakinan bahwa hanya Allah sendirilah yang menangani segala urusan dan Dia tidak membutuhkan selain-Nya, tapi semua selain-Nya tentu membutuhkan-Nya.

Dari uraian diatas dapat kita tarik kesimpulan bahwa istiqamah merupakan salah satu bentuk ibadah yang sangat tinggi nilainya disisi Allah swt, karena Rasulullah saw telah memerintahkankan kita bahwa" setelah kita beriman maka istiqamahlah". Demikianlah uraian tentang istiqamah mudah-mudahan bermanfaat.

Maraji' 
-Kitab Madarijus Salikin Karangan  Ibnu Qayyim Al-Jauziyah

Posting Komentar Blogger