INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih




وَاللَّهُ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَسْمَعُونَ(65)وَإِنَّ لَكُمْ فِي الْأَنْعَامِ لَعِبْرَةً نُسْقِيكُمْ مِمَّا فِي بُطُونِهِ مِنْ بَيْنِ فَرْثٍ وَدَمٍ لَبَنًا خَالِصًا سَائِغًا لِلشَّارِبِينَ(66)وَمِنْ ثَمَرَاتِ النَّخِيلِ وَالْأَعْنَابِ تَتَّخِذُونَ مِنْهُ سَكَرًا وَرِزْقًا حَسَنًا إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(67)وَأَوْحَى رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ(68) ثُمَّ كُلِي مِنْ كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا يَخْرُجُ مِنْ بُطُونِهَا شَرَابٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِلنَّاسِ إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَةً لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ(69)وَاللَّهُ خَلَقَكُمْ ثُمَّ يَتَوَفَّاكُمْ وَمِنْكُمْ مَنْ يُرَدُّ إِلَى أَرْذَلِ الْعُمُرِ لِكَيْ لَا يَعْلَمَ بَعْدَ عِلْمٍ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ قَدِيرٌ(70)

Artinya : Dan Allah menurunkan dari langit air (hujan) dan dengan air itu dihidupkan-Nya bumi sesudah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang mendengarkan (pelajaran)

Dan sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar terdapat pelajaran bagi kamu. Kami memberimu minum daripada apa yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minuman yang memabukkan dan rezki yang baik. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang memikirkan. 


Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia". kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan (bagimu). Dari perut lebah itu keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi manusia. 

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan. Allah menciptakan kamu, kemudian mewafatkan kamu; dan di antara kamu ada yang dikembalikan kepada umur yang paling lemah (pikun), supaya dia tidak mengetahui lagi sesuatupun yang pernah diketahuinya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Kuasa.

Al-Baqarah ; 164 

إِنَّ فِي خَلْقِ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاخْتِلَافِ اللَّيْلِ وَالنَّهَارِ وَالْفُلْكِ الَّتِي تَجْرِي فِي الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّاسَ وَمَا أَنْزَلَ اللَّهُ مِنَ السَّمَاءِ مِنْ مَاءٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيهَا مِنْ كُلِّ دَابَّةٍ وَتَصْرِيفِ الرِّيَاحِ وَالسَّحَابِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَعْقِلُونَ(164)

Artinya : Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah mati (kering) -nya dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; Sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.

Ayat ini mengundang manusia berfikir dan merenung tentang sekian banyak hal diantaranya, yaitu : 

Pertama, berfikir dan merenungkan tentang penciptaan langit dan bumi. Kata khalq yang diterjemahkan di atas dengan penciptaan dapat juga berarti pengukuran yang teliti atau pengaturan. Karena itu di samping makna di atas ia juga berarti pengaturan sistem kerjanya sangat teliti. Yang dimaksud dengan langit adalah benda-benda angkasa seperti matahari, bulan, jutaan gugusan bintang-bintang yang kesemuanya beredar dengan sangat teliti dan teratur.

Kedua, merenungkan pergantian malam dan siang. Yaitu perputaran bumi dan porosnya yang melahirkan malam dan siang serta perbedaannya, baik dalam masa maupun dalam panjang serta pendek siang dan malam.

Ketiga, merenungkan tentang bahtera-bahtera yang berlayar di laut, membawa apa yang berguna bagi manusia. Ini mengisyaratkan sarana transportasi, baik yang digunakan masa kini dengan alat-alat canggih maupun masa lampau yang hanya mengandalkan angin dengan segala akibatnya.

Keempat, merenungkan tentang apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, baik yang cair maupun yang membeku. Yakni memperhatikan proses turunnya hujan dalam siklus yang berulang-ulang, bermula dari air laut yang menguap dan berkumpul menjadi awan, menebal, menjadi dingin dan akhirnya turun menjadi hujan serta memperhatikan pula angin dan fungsinya yang kesemuanya merupakan kebutuhan bagi kelangsungan dan kenyamanan hidup manusia, binatang dan tumbuh-tumbuhan.

Kelima, berfikir tentang aneka binatang yang diciptakan Allah, baik binatang berakal (manusia) atau pun tidak, menyusui, bertelur, melata dan lain-lain.

Pada semua itu sungguh terdapat tanda-tanda keesaan dan kebesaran Allah bagi kaum berakal. Sayang, bahkan aneh, walau bukti-bukti itu sudah sedemikian nyata, masih ada yang mengingkari wujud dan keesaan Allah. 


وَاللَّهُ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَجَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَزْوَاجِكُمْ بَنِينَ وَحَفَدَةً وَرَزَقَكُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ أَفَبِالْبَاطِلِ يُؤْمِنُونَ وَبِنِعْمَةِ اللَّهِ هُمْ يَكْفُرُونَ(72)
Artinya : Allah menjadikan bagi kamu isteri-isteri dari jenis kamu sendiri dan menjadikan bagimu dari isteri-isteri kamu itu, anak anak dan cucu-cucu, dan memberimu rezki dari yang baik-baik. Maka mengapakah mereka beriman kepada yang bathil dan mengingkari ni`mat Allah?"

Ayat ini masih merupakan lanjutan dari uraian tentang rezeki Allah kepada manusia, dalam hal ini pasangan hidup dan buah dari keberpasangan itu. Allah menyatakan disamping anugerah yang disebutkan di atas, Allah juga menjadikan bagi kamu pasangan-pasangan dari diri yakni jenis kamu sendiri agar kamu dapat merasakan ketenangan hidup dan menjadikan kamu dari hasil hubungan kamu dengan pasangan-pasangan kamu itu anak-anak kandung dan menjadikan anak-anak kandung itu cucu-cucu baik laki-laki maupun perempuan.

Dan bukan hanya itu anugerah Allah, Dia juga memberi kamu rezeki dari aneka anugerah dan rezeki yang baik-baik yakni yang sesuai dengan kebutuhan kamu dan tidak membawa dampak negatif terhadap kamu, baik berupa harta benda, pangan dan lain-lain yang memelihara kelanjutan dan kenyamanan hidup kamu.

Maka apakah sesudah itu ada di antara kamu yang terhadap yang batil yakni berhala-berhala, keyakinan buruk, seperti meyakini anak bagi Tuhan serta ketetapan hukum yang tidak bersumber dari nilai-nilai agama mereka terus menerus beriman dan sebaliknya terhadap nikmat dan karunia Allah yang tidak dapat dihitung itu mereka terus menerus kufur yakni tidak mensyukuri nikmat-nikmat-Nya dan menempatkannya pada yang semestinya?

Kata azwaj adalah bentuk jamak dari kata zawj, yaitu sesuatu yang menjadi dua bila bergabung dengan yang lain atau dengan kata lain pasangan, baik lelaki (suami) maupun perempuan (istri). Penamaan istri dan suami sebagai zawj mengesankan bahwa keduanya tidak wajar dipisahkan, karena kalau berpisah dia tidak lagi dinamai zawj. Pasangan, sebelum berpasangan masing-masing berdiri sendiri, serta memiliki perbedaan, namun perbedaan itu, setelah berpasangan walaupun tidak lebur, menjadikan mereka saling melengkapi. Persis seperti kunci dan anak kunci atau sepasang alas kaki ; satu kiri dan satu kanan, masing-masing berbeda, tetapi jika salah satunya tidak mendampingi yang lain, maka fungsi dan alas kaki itu tidak akan terpenuhi. 

Kata anfusikum memberi kesan bahwa suami hendaknya merasa bahwa istrinya adalah dirinya sendiri, demikian pula istri sehingga sebagai pasangan walaupun berbeda, namun mereka berdua pada hakikatnya menjadi diri yang satu, yakni menyatu dalam perasaan dan fikirannya, dalam cita dan harapannya, dalam gerak dan langkahnya, bahkan dalam menarik dan menghembus nafas terakhirnya. 
Diriku dirimu, jiwaku jiwamu
Jika engkau bercakap, kata hatiku yang engkau ucapkan
Dan jika engkau berkeinginan, keinginanku yang engkau cetuskan
Demikian ucap seorang pecinta 
Kata hafadah adalah bentuk jamak dati kata hafid dari kata hafada yang bermakna bergegas melayani dan mematuhi. Mayoritas ulama memahaminya dalam arti cucu, lelaki atau perempuan. Memang cucu, diharapkan bahkan seharusnya tampil bergegas melayani dan mematuhi kakek dan neneknya. Ada juga yang memahaminya dalam arti pembantu-pembantu atau keluarga istri dan ipar-ipar. Semua makan ini dapat ditampung oleh kata tersebut walaupun makna pertama lebih sesuai.

Apabila kata hafadah dikembalikan kepada asal makna kebahasaannya dan memahaminya dalam arti pembantu-pembantu dengan sangat indah fungsi suami dan istri terhadap masing-masing. Ayat ini bagaikan berkata ;”Allah menjadikan bagi kamu (wahai suami dan istri) dari keberpasangan kamu anak-anak kandung dan menjadikan pula bagi kamu wahai suami, pembantu, yaitu istrimu dan bagi kamu wahai istri pembantu, yaitu suami kamu.

Memang demikianlah seharusnya kehidupan suami istri saling membantu. Suami tidak harus angkuh atau malu membantu istrinya dalam pekerjaan yang diduga orang pekerjaan perempuan, demikian sebaliknya. Rasul SAW membantu istrinya mengatur rumah tangga, bahkan menjahit sendiri baju beliau koyak dan memperbaiki sendiri alas kakinya.

Aya ini menggarisbawahi nikmat perkawinan dan anugerah keturunan. Betapa tidak, setiap manusia memiliki dorongan seksual yang sejak kecil menjadi naluri manusia dan ketika dewasa menjadi dorongan yang sangat sulit dibendung. Karena itu manusia mendambakan pasangan dan karena itu pula keberpasangan merupakan fitrah manusia, bahkan fitrah makhluk hidup atau bahkan semua makhluk. (lihat surat Yasin ; 36)

Ketersendirian – dan lebih hebat lagi keterasingan – sungguh dapat menghantui manusia, karena manusia pada dasarnya adalah makhluk sosial, yaitu makhluk yang membawa sifat dasar “ketergantungan dan keterikatan”. Yakni memiliki kebutuhan terikat kepada pasangan dan kelompok, kecil dan besar. Memang, sewaktu-waktu manusia bisa merasa senang dalam kesendiriannya, tetapi tidak untuk selamanya.

Manusia telah menyadari bahwa hubungan yang dalam dan dekat dengan pihak lain akan membantunya mendapatkan kekuatan dan membuatnya lebih mampu menghadapi tantangan, khususnya jika pasangan yang menyertainya dari jenisnya sendiri lagi sejiwa dengannya. Karena alasan-alasan inilah maka manusia kawin, berkeluarga, bahkan bermasyarakat dan bernegara. Allah menganugerahkan kepada manusia nikmat yang tidak terhingga dengan menciptakan pada diri setiap makhluk kecenderungan untuk berpasangan dan keterikatan pada kelompok, karena sekali lagi, kalau tidak demikian, manusia akan gelisah.

Allah Maha Mengetahui bahwa kegelisahan itu dapat dialami oleh semua manusia, pemuda atau pemudi, duda atau janda, karena itu juga al-Qur’an ketika berbicara tentang janda yang belum selesai iddah (masa berkabung/tunggu) nya menyatakan bahwa : “tidak ada dosa bagimu (hai para wali) membiarkan mereka berbuat terhadap diri mereka menurut yang ma’ruf/patut ... (al-Baqarah:234).

Kemudian kenapa ada syarat yang “ma’ruf/patut”? karena bila pemenuhannya secara keliru dan tidak terarah, maka ia akan membinasakan. Dari sini, adalah merupakan nikmat yang tidak terhingga ketika Allah mensyari’atkan “keberpasangan” pria dan wanita dan diarahkannya keberpasangan itu sedemikian rupa sehingga terlaksana apa yang dinamai “perkawinan” guna mengusir hantu keterasingan dan guna beralihnya kerisauan menjadi ketentraman.

Disis lain, manusia mempunyai kecenderungan untuk hidup selamanya. Menyadari bahwa tidak mungkin masing-masing secara pribadi dapat bertahan hidup selamanya, maka jalan satu-satunya untuk mempertahankan kelangsungan hidupnya itu adalah melalui anak keturunan yang merupakan perpanjangan dari kehidupan pribadi.

Allah SWT menganugerahkan kepada manusia kecenderungan itu kepada semua manusia – lebih-lebih perempuan – sehingga panggilan keibuan selalu berseru dalam hatinya. Para pakar menyatakan bahwa wanita menghasilkan dalam dirinya apa yang dinamai estrogen, yakni hormon cinta dan progesteron atau hormon keibuan. Dengan hormon pertama, ia akan terus memelihara kecantikannya dan dengan hormon yang kedua ia terdorong dan bersedia mengorbankan kecantikannya demi anak-anaknya.

Seandainya terputus hubungan anak dan ayah atau sistem perkawinan tidak lagi diakui oleh masyarakat atau terhenti keturunan manusia, niscaya sendi kehidupan bermasyarakat menjadi goyah yang pada akhirnya mengantar kepada kepunahan manusia.

Kata al-tahayyibat adalah bentuk jamak dari kata thayyib. Kata ini berfungsi sebagai adjective (sifat) dari sesuatu yang tidak disebut, yaitu kata yang diisyaratkan oleh memberi kamu rezeki. Dengan demikian kata tersebut adalah sifat dari aneka rezeki yang dianugerahkan Allah. Selanjutnya rujuklah ke ayat 32 surat ini untuk lebih memahami maksud kata thayyib. Bentuk jamak yang digunakan penggalan ayat menjadikan penulis enggan membatasi maknanya pada harta benda atau makanan yang lezat, tetapi ia mencakup aneka anugerah ilahi yang dapat dimanfaatkan, baik berupa kebutuhan pokok, pelengkap maupun kesempurnaan. 

Al-Isra ; 12 

وَجَعَلْنَا اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ ءَايَتَيْنِ فَمَحَوْنَا ءَايَةَ اللَّيْلِ وَجَعَلْنَا ءَايَةَ النَّهَارِ مُبْصِرَةً لِتَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ وَلِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ وَكُلَّ شَيْءٍ فَصَّلْنَاهُ تَفْصِيلًا(12)

Artinya : Dan Kami jadikan malam dan siang sebagai dua tanda, lalu Kami hapuskan tanda malam dan Kami jadikan tanda siang itu terang, agar kamu mencari kurnia dari Tuhanmu, dan supaya kamu mengetahui bilangan tahun-tahun dan perhitungan. Dan segala sesuatu telah Kami terangkan dengan jelas.

Setelah menjelaskan ketergesa-gesa manusia, yang menjadikan ia lupa peredaran waktu dan silih bergantinya masa senang dan susah serta masa suram gelap dengan masa cerah dan terang, kini disebut salah satu bukti kuasa Allah yang juga berkaitan dengan pergantian keadaan itu sambil menanamkan optimisme.

Menurut Thaba’thaba’i, ayat sebelum ini mengecam manusia yang tergesa-gesa berdoa dan berusaha meraih keinginannya tanpa melakukan seleksi. Ayat ini melanjutkan bagaikan berkata bahwa tidaklah wajar bagi seseorang untuk tergesa-gesa dalam meminta atau berusaha melalui jalan pintas meraih apa yang diinginkannya sehingga ia melakukan apa saja yang dapat dilakukannya dengan dalih bahwa Allah telah memberinya kemudahan dan bila Allah tidak merestui tentu ia tidak diberi kemampuan.

Dalih ini sangat salah. Lihatlah kepada malam dan siang yang merupakan dua ayat ilahi, keduanya tidak sama. Ayat malam terhapus, gerak ketika itu terhenti, mata menjadi tenang, berbeda dengan siangyang demikian terang, membangkitkan semangat dan kekuatan manusia saat itu berusaha meraih karunia Allah. Nah, demikian juga dengan pekerjaan-pekerjaan buruk dan baik, semuanya terjadi atas izin Allah.

Manusia diberi-Nya kemampuan, tetapi itu bukan bukti bolehnya melakukan apa saja – yang baik atau buruk atau tergesa meminta apa saja yang dikehendaki atau melakukan kedurhakaan sebagaimana melakukan kebaikan. Tidak! Amal keburukan harus terhapus dengan tidak mengerjakannya dan amal kebaikan harus dinampakkan sehingga menjadi terang benderang. Itu dilakukan untuk meraih kebahagiaan ukhrawi dan rezeki ilahi. Hal tersebut demikian karena amal manusia akan “tergantung dilehernya, tidak berpisah dengannya dan tidak pula dapat dipikul oleh selainnya.

Apapun hubungan ayat ini dengan ayat yang lalu, yang jelas disini Allah menyatakan bahwa di jadikan malam dan siang dengan segala bentuk perputaran silih berganti antara keduanya sebagai dua tanda yang menunjukkan keesaan dan kekuasaan Allah. Di hapusnya malam dengan mengusik terang sehingga manusia dapat beristirahat dan dijadikan tanda siang melihat, yaitu terang benderang agar dapat mencari karunia Allah.

Demikianlah juga hidup didunia ini silih berganti, karena itu tidak perlu tergesa-gesa karena semua ada waktunya dan semua harus dipikirkan dan dipilih yang terbaik untuk masa depan yang cerah. Ayat di atas dapat diambil manfaat dan pelajaran dari kehadiaran malam dan siang, yaitu suapay manusia dapat mengetahui bilangan tahun dan perhitungan bulan, hari serta masa transaksi dan segala sesuatu yang mendatangkan manfaat.

Kata ayatain (اَيَتَيْنِ) adalah bentuk dual dari ayah (اَيَةُ) yakni tanda. Ada yang memahami kata tersebut menunjuk kepada malam dan siang. Menghapus tanda malam, difahami dalam arti menghapus cahaya, sehingga malam kehilangan cahaya, gelap, apa yang tadinya nampak bagaikan tersembunyi. Di sisi lain, tanda yang merupakan siang itu dijadikan Allah sedemikian terang, sehingga seakan-akan siang itu sendiri yang melihat.

Ada juga ulama yang memahami kata ayatain dalam arti matahari dan bulan, karena menilai bahwa ada kata yang sengaja tidak disebut dalam rangkaian kalimat ayat. Penganut pendapat ini menyatakan bahwa ayat ini bagaikan menyatakan ; kami jadikan penerang di waktu malam dan siang, penerang malam adalah bulan dan penerang siang adalah matahari.

Keduanya sebagai tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Lalu Allah menghapus tanda malam dalam hal ini bulan, yakni hilangnya cahaya dan tidak dijadikannya matahari. Tanda siang, yaitu matahari terus menerus bercahaya dan bersinar sehingga siapapun dapat melihat di siang hari. Atau dapat juga dikatakan bahwa matahari yang merupakan tanda siang itu terus menerus bercahaya karena sinar atau cahayanya bersumber dari dirinya sendiri sehingga tidak pernah mengalami kegelapan, berbeda dengan bulan yang bercahaya buka dari dirinya sendiri, tetapi pantulan cahaya matahari.

Walau kedua makna di atas benar, namun pendapat pertama seperti terbaca di atas dapat difahami tanpa penyisipan kata, berbeda dengan pendapat kedua yang mengharuskan adanya sisipan kata. Di sisi lain pendapat pertama sejalan juga dengan sekian banyak ayat al-Qur’an antara lain seperti surat al-Fushilat ayat 37. 

Al-Anbiya' ; 30

أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلَا يُؤْمِنُونَ(30)

Artinya : Dan apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. Dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka mengapakah mereka tiada juga beriman?

Setelah ayat-ayat yang lalu mengemukakan aneka argumen tentang keesaan Allah SWT, baik yang bersifat aqli, yakni yang dapat dicerna oleh akal, maupun naqli yaitu yang bersumber dari kitab-kitab suci, maka kini kaum musyrik di ajak untuk menggunakan nalar mereka guna sampai kepada kesimpulan yang sama denganapa yang dikemukakan itu.

Nalar mereka digugah oleh ayat di atas yang menyatakan “apakah orang kafir belum juga menyadari apa yang telah dijelaskan pada ayat-ayat yang lalu dan tidak melihat, yakni menyaksikan dengan mata hati dan pikiran sejelas pandangan mata bahwa langit dan bumi keduanya dahulu adalah suatu yang padu kemudian dipisahkan Allah keduanya. Begitu juga air yang tercurah dari langit yang terdapat dalam bumi dan yang terpancar dalam bentuk sperma segala sesuatu hidup.

Maka apakah mereka buta sehingga mereka tidak beriman tentang keesaan dan kekuasaan Allah atau belum juga percaya bahwa tidak ada satu pun dari makhluk yang terdapat di langit dan di bumi yang wajar dipertuhankan ?

Kata ratqan, dari segi bahasa berarti terpadu, sedangkan fafataqnahuma terambil dari kata fataqa yang berarti terbelah/terpisah. Berbeda pendapat ulama tentang maksud kata itu. Ada yang memahaminya dalam arti langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan yang terpadu. Hujan tidak turun dan bumipun tidak ditumbuhi pepohonan., kemudian Allah membelah langit dan bumi dengan jalan menurunkan hujan dari langit dan menumbuhkan tumbuh-tumbuhan di bumi.

Ada lagi yang berpendapat bahwa bumi dan langit tadinya merupakan sesuatu yang utuh tidak terpisah, kemudian Allah pisahkan dengan mengangkat langit ke atas dan membiarkannya bumi tetap ditempatnya berada di bawah lalu memisahkan keduanya dengan udara.

Thaba’tabai memahami kandungan ayat ini sebagai bantahan terhadap para penyembah berhala yang memisahkan antara penciptaan dan pengaturan alam raya. Menurut mereka, Allah adalah Pencipta, sedang tuhan-tuhan yang mereka sembah adalah pengatur. Nah ayat ini menyatukan penciptaan dan pengatur di bawah satu kendali, yakni kendali Allah SWT. “sampai sekarang lanjut Thaba’tabai kita masih terus menyaksikan pemisahan bagian-bagian bumi di darat dan di udara pemisahan aneka jenis tumbuhan dari bumi, aneka binatang dari binatang, manusia dari manusia dan nampak bagi kita yang terpisah itu, lahir dalam bentuk yang baru serta ciri-ciri yang berbeda setelah terjadinya pemisahan.

Langit dengan segala benda-benda angkasa yang terdapat di sana, keduanya pun seperti keadaan satuan-satuan yang disebut di atas. Benda-benda langit dan bumi tempat kita berpijak demikian juga halnya. Hanya saja karena keterbatasan usia kita, maka kita tidak dapat menyaksikan keadaan langit dan bumi seperti apa yang kita saksikan pada bagian-bagian kecilnya. Kita tidak dapat menyaksikan pembentukan dan kehancurannya, tetapi betapa pun demikian harus diakui bahwa baik planet-planet di langit maupun dibumi serta bagian-bagiannya yang terkecil, semuanya adalah materi, sehingga semua yang kecil atau yang besar secara umum sama dalam hukum-hukumnya.

Kemudian kesimpulan bahwa terulangnya berkali-kali apa yang kita lihat pada rincian benda-benda atau kehidupan dan kematian apa yang terdapat dibumi dan dilangit, menunjukkan bahwa suatu ketika langit dan bumi pernah merupakan satu kesatuan (gumpalan) tanpa pemisahan bumi dari langit, kemudian atas kehendak Allah keduanya dipisahkan.

Ayat ini difahami sementara ilmuwan sebagai salah satu mikjizat al-Qur’an yang mengungkap peristiwa penciptaan planet-planet. Banyak teori ilmiah yang dikemukakan oleh para pakar dengan bukti-bukti yang cukup kuat yang menyatakan bahwa langit dan bumi tadinya merupakan satu gumpalan atau yang diistilahkan oleh ayat ini dengan “ratqan” lalu gumpalan itu berpisah sehingga terjadilah pemisahan antara bumi dan langit. Memang kita tidak bisa mengatasnamakan al-Qur’an mendukung teori tersebut namun agaknya tidak ada salahnya teori-teori itu memperkaya pemikiran kita untuk memahami maksud firman Allah tersebut.

Dalam tafsir al-muntakhab dikemukakan dua diantara sekian banyak teori tersebut, pertama berkaitan dengan terciptanya tata surya. Di sini disebutkan bahwa kabut di sekitar matahari menyebar dan melebar paa ruangan yang dingin. Butir-butir kecil gas yang membentuk kabut bertambah tebal pada atom-atom debu yang bergerak amat cepat. Atam-otom itu kemudian mengumpul, akibat terjadinya benturan dan akumulasi dengan membawa kandungan sejumlah gas berat.

Seiring dengan berjalannya waktu, akumulasi itu semakin bertambah besar hingga membentuk planet-planet, bulan dan bumi dengan jarak yang sesuai. Penumpukkan itu sendiri, mengakibatkan bertambah kuatnya tekanan yang pada gilirannya membuat temperatur bertambah tinggi. Pada saat kulit bumi mengkristal karena dingin dan melalui proses sejumlah letusan larva yang terjadi setelah itu, bumi memperoleh sejumlah besar uap air dan karbondioksida akibat surplus larva yang mengalir. Salah satu faktor yang membantu terbentuknya oksigen yang segar di udara setelah itu adalah aktivitas dan interaksi sinar matahari melalui asimilasi sinar bersama tumbuhan generasi awal dan rumput-rumputan.

Teori kedua menyatakan bahwa bumi dan langit pada dasarnya bergabung secara koheren sehingga tampak seolah satu masa. Hal ini sesuai dengan penemuan terakhir mengenai teori terjadinya alam raya. Menurut penemuan itu, sebelum terbentuk saat sekarang ini, bumi merupakan kumpulan sejumlah besar kekuatan atom-atom yang saling berkaitan dan di bawah tekanan sangat luas yang hampir tidak dapat dibayangkan oleh akal. Selain itu penemuan mutakhir itu juga menyebutkan bahwa semua benda langit sekarang beserta kandungannya termasuk dalam tata surya dan bumi, sebelumnya terakumulasi sangat kuat dalam bentuk bola jari-jarinya tidak lebih dari 3 juta mil.

Kata “fafataqnahuma” merupakan isyarat tentang apa yang terjadi pada cairan atom pertamanya berupa ledakan dahsyat yang mengakibatkan tersebarnya benda-benda alam raya ke seluruh penjuru yang berakhir dengan terciptanya berbagai benda langit yang terpisah, termasuk tata surya dan bumi.

Kata “wa ja’alna min al-ma’i kulli syai’in hayyi” diperselisihkan juga maknanya. Ada yang memahaminya dalam arti segala yang hidup membutuhkan air atau pemeliharaan kehidupan segala sesuatu adalah dengan air atau kami jadikan dari cairan yang terpancar dari shulbi (sperma) segala yang hidup yakni dari jenis binatang. Para pengarang tafsir al-muntakhab berkomentar bahwa ayat ini telah dibuktikan kebenarannya melalui penemuan lebih dari stu cabang ilmu pengetahuan. Sitologi (ilmu tentang susunan dan fungsi sel), misalnya menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dalam pembentukan sel yang merupakan satuan bangunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan.

Sedangkan biokimia menyatakan bahwa air adalah unsur yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air dapat berfungsi sebagai media, faktor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik, hilangnya fungsi itu akan berarti kematian

Posting Komentar Blogger