INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Penjelasan Pembagian Hadits Menurut sifat dan kwalitas sanadnyaHadis muttasil disebut juga Hadis Mausul  yaitu :
هو ما اتَّصل سنده سواء كان مرفوعا إليه صلى اللَّه عليه وسلم أو موقوفا"
Artinya: "Hadis muttasil adalah hadis yang sanadnya bersambung, baik hadis marfu' maupun hadis mauquf."

Hadits yang bersambung sanadnya semenjak dari Mukharrij sampai rawi pertama baik hadits yang terdapat pada hadits Marfu’ ( Hadits yang periwayatannya sampai kepada Rasulullah) maupun hadits Mauquf (Hadits yang periwayatannya hanya sampai shabat saja).

Contoh Hadis Muttasil Marfu' adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik; dari Nafi' dari Abdullah bin Umar bahwa Rasulullah SAW bersabda:

حَدَّثَنِي يَحْيَى عَنْ مَالِك عَنْ نَافِعٍ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الَّذِي تَفُوتُهُ صَلَاةُ الْعَصْرِ كَأَنَّمَا وُتِرَ أَهْلَهُ وَمَالَهُ
Artinya: "Orang yang tidak mengerjakan shalat Asar seakan-akan menimpakan bencana kepada keluarga dan hartanya"

Contoh hadis muttasil maukuf adalah hadis yang diriwayatkan oleh Malik dari Nafi' bahwa ia mendengar Abdullah bin Umar berkata:

و حَدَّثَنِي مَالِك عَنْ نَافِعٍ أَنَّهُ سَمِعَ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ يَقُولُ مَنْ أَسْلَفَ سَلَفًا فَلَا يَشْتَرِطْ إِلَّا قَضَاءَهُ  
Artinya: "Barang siapa yang mengutangi orang lain maka tidak boleh menentukan syarat lain kecuali keharusan membayarnya."


http://www.ponpeshamka.com/2015/10/penjelasan-pembagian-hadits-menurut.html
Jika bersambungnya sanad itu hanya sampai tabi’in tidak boleh dikatakan dengan hadits Muttashil secara mutlak kecuali jika diikuti oleh suatu penjelasan (qayyid) sampai persambungan itu berakhir. Misalnya : مُتَّصِلٌ اِلَى سَعِيْد ابْنِ مُسَيّبٌ هَذَا حَدِيْثٌ Said bin Musayyab adalah seorang tabi’in yang banyak meriwayatkan hadits.

Hadits Musnad. Musnad adalah isim maf’ul dari asnada ( أَسْنَدَ ) yang berarti yang disanadkan jadi hadits musnad artinya hadits telah disanadkan. Masdarnya adalah isnad yang berarti sandaran. Sedangkan musnid adalah orang yang menyandarkan. Musnid hadits artinya orang yang menyandarkan hadits. Jadi hadits yang telah diisnadkan oleh si-musnid (orang yang mengisnadkan disebut dengan Hadits Musnad. Misalnya musnad Asyihab dan musnad al-Firdaus, merupakan kumpulan hadits yang telah diisnadkan oleh Asyihab dan musnad al-Firdaus. Selain itu Musnad juga memiliki pengertian lain yaitu:
  1. Hadits yang marfu’ lagi Muttasil ( sanadnya bersambung-bersambung)
  2. Nama kitab yang menghimpun seluruh hadits yang diriwayatkan oleh para sahabat 

Dalam kitab musnad ini, nama shahabatlah yang diketengahkan sebagai maudhu’. Semua hadits yang diriwayatkan oleh seorang shahabat terhimpun dalam satu kelompok, tanpa diklasifikasika isinya dan tanpa disisihka antara hadits yang shahih dan dha’if. Dengan Musnad itu, para ulama Hadis menghimpun Hadis-hadis dengan cara mengurut nama para sahabat Nabi, baik berdasarkan senioritas dalam memeluk Islam maupun berdasarkan faktor nasab atau asal kabilah, daerah maupun dengan menyusun nama-nama sahabat.

Selain dengan kitab Musnad ini, mereka juga menulis Hadis Nabi dalam kitab yang dikelompokkan dengan bab, huruf berdasarkan kandungan matannya bukan berdasarkan nama para sahabat.Adapun salah satu kitab Musnad yang terpopuler adalah yang disusun oleh Ahmad ibn Hanbal yang dikenal dengan Musnad Ahmad.

Hadits Mu’an’an dan Hadits Muannan. Hadits Mu’an’an adalah suatu hadits yang disampaikan oleh yang mengisnadkan dengan memakai lafaz عن orang yang menyampaikan/mengisnadkan dinamakan dengan mu’an’in( مُعَنْعِنُ ) Sedangkan hadits mu’annan hadits yang diisnadkan dengan lafaz anna (أَنَّ ) bahwasanya. Orang mengisnadkan disebut dengan Mu’nin. Contoh hadits mu’an’an seperti yang dikeluarkan oleh Bukhari dari Abu Hurairah:
حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ قَالَ حَدَّثَنِى مَالِكٌ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ حُمَيْدِ بْنِ عَبْدِ الرَّحْمَنِ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - قَالَ « مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ »
Telah bercerita kepada kami Ismail, dia berkata telah menceritakan kepada saya Malik dari ibn Syihab dari Humaidi bin Abd.Rahman dari Abu Hurairah redha Allah dari padanya bahwa sesungguhnya Rasulullah Saw bersabda: Siapa yang beramadhan dengan iman dan mengharap pahala, dihapus dosa-dosa yang berlalu.

Musalsal Menurut bahasa adalah bersambungnya sesuatu dengan sesuatu yang lainnya. Sedangkan menurut istilah adalah beruntunnya para rawi sanad pada suatu sifat tertentu atau keadaan terrtentu, baik pada para rawinya atau pada hadits yang diriwayatkannya.

Macam-macamnya
1.   Musalsal keadaan rawinya. Contonya adalah hadits Anas secara marfu’ :
لا يجد العبد حلاوة الإيمان حتى يؤمن بالقدر خيره وشره حلوه ومره)) وقبض رسول لله على لحيته وقال آمنت بالقدر خيره وشره حلوه ومره  
Seorang hamba itu tidak dapat menemukan manisnya iman, sampai dia beriman kepada takdir, baik yang baik maupun yang buruk dan yang manis maupun yang pahit”. Dia berkata : “Dan Rasululullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam memegang jenggotnya sambil berkata : “Aku beriman kepada takdir baik yang baik maupun yang buruk dan yang manis maupun yang pahit”.
Hadits ini adalah musalsal, karena para rawinya memegang jenggotnya masing-masing sambil berkata : “Aku beriman kepada takdir”.
2.    Musalsal sifat rawinya. Hadits musalsal pada ahi fiqih. Bukhari meriwayatkan dari jalur Hammad bin Zaid, Ayyub bercerita kepada kami dari Nafi’ dari Ibnu Umar secara marfu’ : “Dua orang penjual dan pembeli itu boleh melakukan khiyar (memilih) selama keduanya belum berpisah atau salah satu dari keduanya berkata kepada yang lainnya : “Pilihlah”.

3.    Musalsal sifat hadits yang diriwayatkannya. Seperti musalsal setiap hadits itu didengar langsung di mana setiap rawinya berkata : “Aku mendengar fulan berkata : “Aku mendengar fulan berkata : “Aku mendengar fulan berkata “. Demikian sampai akhir sanad. Dan seperti jika hadits musalsal diceritakan atau diberitakan

4.    Hadits ‘Aliy dan Nazil (hadits yang bersanad tinggi dan rendah). Sebuah hadits kadang-kadang diisnadkan kepada Nabi Muhammad saw melalui sanad-sanad yang banyak dan kadang-kadang melalui sanad-sanad yang sedikit.

Maka hadits yang diriwayatkan melalui sanad sedikit dinamakan hadits ‘Aliy. Sedangkan hadits yang diriwayatkan dengan sanad-sanad yang banyak dinamakan Hadits Nazil. Hadits ‘Ali  lebih tinggi derjatnya dibandingkan Hadits Nazil. Karena pada hadits ‘Ali karena  sanad-sanadnya  sedikit,  kemungkinan kurangnya kecacatan  rawi lebih sedikit pula dibandingkan dengan hadits Nazil yang rawi lebih banyak. Contoh hadits ‘ali dan Nazil :

حَدَّثَنِى عَبْدُ الْعَزِيزِ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا إِبْرَاهِيمُ بْنُ سَعْدٍ عَنِ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ أَبِى سَلَمَةَ عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ - رضى الله عنه - قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ - صلى الله عليه وسلم - « مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا ، أَوْ لِيَصْمُتْ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلاَ يُؤْذِ جَارَهُ ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ »

Memberitakan kepada saya Abdul Aziz bin Abdullah  memberitakan kepada kami Ibrahim bin Sa’ad dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah dari Abu Hurairah Ra. Dia berkata; Telah bersabda Rasulullah Saw”Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari Akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam dan barang Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari Akhir maka ia menyakiti tetangganya dan Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya” (Hadits diriwayatkan oleh Bukhari)

حدثني حرملة بن يحيى أنبأنا ابن وهب قال أخبرني يونس عن ابن شهاب عن أبي سلمة بن عبدالرحمن عن أبي هريرة عن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال  : من كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليقل خيرا أو ليصمت ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم جاره ومن كان يؤمن بالله واليوم الآخر فليكرم ضيفه

Menghaditskan kepada saya Harmalah bin Yahya memberitakan kepada kami Ibnu Wahab dia berkata memberitakan kepada saya Yunus dari Ibnu Syihab dari Abu Salamah bin Abdurrahman dari Abu Hurairah dari Rasulullaj saw beliau bersabda :”Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari Akhir maka hendaklah ia berkata yang baik atau diam dan barang Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tetangganya dan Siapa yang beriman kepada Allah dan kepada hari Akhir maka hendaklah ia memuliakan tamunya


Hadits pertama yang diriwayatkan oleh Imam bukhari sanadnya dari Mukharrij sampai kepada Nabi berjumlah hanya 5 orang sedangkan hadits yang diriwayatkan oleh Muslim sanadnya dari Mukharrij sampai kepada Nabi berjumlah 6 orang. Maka hadits Bukhari di atas dinamakan dengan hadits ‘Ali sedangkan Hadits Muslim dinamakan hadits Nazil

Posting Komentar Blogger