INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Penjelasan aqidah pada masa Nabi MuhammadSAW dan sahabat - Aqidah pada masa Nabi Muhammad SAW tidaklah memuncukan persoalan di Kalangan kaum Muslimin, dikarenakan mereka tidak mempersoalkannya. Kalau muncul persoalan mereka selalu bertanya kepada Rasulullah. Mereka hanya menerima, memahami, dan melaksanakan apa yang disampaikan Rasulullah. Rasulullah dalam menyelesaikan masalah selalu berdasarkan pada wahyu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS. An-Najm ayat 3 – 4 :

$tBur ß,ÏÜZtƒ Ç`tã #uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd žwÎ) ÖÓórur 4ÓyrqムÇÍÈ

Artinya : Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.  Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).

http://www.ponpeshamka.com/2015/10/penjelasan-aqidah-pada-masa-nabi.html
Sepanjang masa Nabi SAW, kaum muslimin hanya mempunyai satu aqidah yang sama yaitu apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan apa yang sesuai dengan metode kitabullah tersebut. Mereka hidup di masa turunnya wahyu dan mendapat kemuliaan menjadi sahabat-sahabat Rasul. Cahaya persahabatan tersebut telah menghilangkan kegelapan, keraguan dan khayalan,kekuatan iman yang mereka miliki tidak pernah menimbulkan satu pertanyaanpun yang mengandung unsur keraguan, mereka tidak berusaha mencari ilmu yang Allah sendiri tidak mengajarkannya kepada manusia.

Merekalah yang paling baik dan tinggi matabatnya diantara umat ini. Karena jalan yang mereka tempuh dalam membahas aqidah serta penyampaiannya lebih selamat, bijaksana dan lebih mendalam  daripada metode-metode lain. Inila metode rasul yang berdasarkan metode al-Qur’an dalam membahas aqidah. Dengan metode ini orang akan mendapatkan kepuasan jiwa.

Setiap mukmin diwajibkan menaati Allah dan Rasul-Nya, memang kita diperbolehkan dan saling menyalahkan, karena kalau umat Islam telah oleh Rasulullah berbeda pendapat, selama perbedaan itu tidak mengakibatkan kita berpecah-belah saling menyalahkan akan membawa dampak yang besar terhadap persatuan umat Islam. Firman Allah QS. Al-Anfal ayat 46.

(#qãèÏÛr&ur ©!$# ¼ã&s!qßuur Ÿwur (#qããt»uZs? (#qè=t±øÿtGsù |=ydõs?ur ö/ä3çtÍ ( (#ÿrçŽÉ9ô¹$#ur 4 ¨bÎ) ©!$# yìtB šúïÎŽÉ9»¢Á9$# ÇÍÏÈ  
Artinya: Dan taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.


Setelah Rasulullah SAW wafat dan digantikan oleh khalifah Rasyidin, semasa pemerintahan Abu bakar dan Umar umat Islam tidak sempa membahas dasar-dasar aqidah, karena mereka sibuk menghadapi musuh dan berusaha mempertahankan persatuan dan kesatuan umat Islam.
Tidak pernah terjadi perbedaan di dalam bidang aqidah. Mereka membaca dan memahami Al-Qur’an tanpa mencari takwil bagi ayat-ayat yang mereka baca. Mereka mengimaninya dengan menyerahkan pena’wilannya kepada Allah sendiri.

Dimasa khalifah ketiga, akibat terjadi kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya khalifah Usman bin Affan, umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan dan aliran. Setelah itu masing-masing aliran tersebut berusaha mempertahankan pendiriannya dengan perkataan dan usaha, dan terbukalah pintu takwil bagi nash-nash al-Qur’an dan Hadits, dan terjadilah pembuatannya riwayat-riwayat palsu.

Akibat terjadina riwayat-riwayat palsu berlanjut dengan munculnya firqah  (kelompok) yang memunculka masalah baru dibidang politik dan agama, apalagi munculnya kefanatikan dalam kelompok yang satu dengan yang lainnya, bahkan muncul peperangan-peperangan.
Namun firqah-firqah yang beraneka ragam itu, secara garis besarnya hanya terdiri dari empat kelompok yaitu syi’ah, khawarij, murji’ah dan mu’tazilah 



Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa ada beberapa agama, golongan dan kepercayaan yang menolak kehadiran agama Islam, tidak mempercayai Tuhan dan kenabian Muhammad SAW. Sebagai nabi dan rasul terakhir. Mereka itu disebutkan secara nyata dalam Al-Qur’an, diantaranya:
Golongan yang mengingkari agama dan adanya Tuhan, mereka menyatakan bahwa yang menyebabkan kerusakan hanyalah waktu.
QS Al-Jatsiyah : 24

(#qä9$s%ur $tB }Ïd žwÎ) $uZè?$uŠym $u÷R9$# ßNqßJtR $uøtwUur $tBur !$uZä3Î=ökç žwÎ) ã÷d¤$!$# 4 $tBur Mçlm; y7Ï9ºxÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( ÷bÎ) öLèe žwÎ) tbqZÝàtƒ ÇËÍÈ

Artinya : Dan mereka berkata: "Kehidupan Ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.

Golongan yang mempercayai Tuhan lebih dari satu ( syirik ), menyembah bintang, bulan, matahari, menyembah Nabi Isa AS dan ibunda Maryam, dan menyembah berhala-berhala.
QS Al-An’am : 77 – 78
                                               
$£Jn=sù #uäu tyJs)ø9$# $ZîÎ$t/ tA$s% #x»yd În1u ( !$£Jn=sù Ÿ@sùr& tA$s% ûÈõs9 öN©9 ÎTÏöku În1u žúsðqà2V{ z`ÏB ÏQöqs)ø9$# tû,Îk!!$žÒ9$# ÇÐÐÈ $£Jn=sù #uäu }§ôJ¤±9$# ZpxîÎ$t/ tA$s% #x»yd În1u !#x»yd çŽt9ò2r& ( !$£Jn=sù ôMn=sùr& tA$s% ÉQöqs)»tƒ ÎoTÎ) Öäü̍t/ $£JÏiB tbqä.ÎŽô³è@ ÇÐÑÈ
Artinya : Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku, Pastilah Aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata: "Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari apa yang kamu persekutukan.

Golongan yang tidak percaya akan Nabi dan Rasul Allah dan tidak meyakini adanya hari akhirat.
QS. Al-Isra’ : 94                                                                                                      
$tBur yìuZtB }¨$¨Z9$# br& (#þqãZÏB÷sムøŒÎ) æLèeuä!%y` #yßgø9$# HwÎ) br& (#þqä9$s% y]yèt/r& ª!$# #ZŽ|³o0 Zwqߧ ÇÒÍÈ
Artinya :  Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka: "Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?"

Golongan yang menyatakan bahwa semua yang terjadi di alam ini adalah perbuatan Allah semata, manusia tidak berdaya mempengaruhi kekuasaan-Nya.
QS. Ali-Imran : 154
                                                                                                           
§NèO tAtRr& Nä3øn=tæ .`ÏiB Ï÷èt/ ÉdOtóø9$# ZpuZtBr& $U$yèœR 4Óy´øótƒ Zpxÿͬ!$sÛ öNä3ZÏiB ( ×pxÿͬ!$sÛur ôs% öNåk÷J£Jydr& öNåkߦàÿRr& šcqZÝàtƒ «!$$Î/ uŽöxî Èd,ysø9$# £`sß Ïp§Î=Îg»yfø9$# ( šcqä9qà)tƒ @yd $oY©9 z`ÏB ̍øBF{$# `ÏB &äóÓx« 3 ö@è% ¨bÎ) tøBF{$# ¼ã&©#ä. ¬! 3 tbqàÿøƒä þÎû NÍkŦàÿRr& $¨B Ÿw tbrßö6ムšs9 ( tbqä9qà)tƒ öqs9 tb%x. $oYs9 z`ÏB ̍øBF{$# ÖäóÓx« $¨B $uZù=ÏGè% $oYßg»yd 3 @è% öq©9 ÷LäêYä. Îû öNä3Ï?qãç/ yuŽy9s9 tûïÏ%©!$# |=ÏGä. ãNÎgøŠn=tæ ã@÷Fs)ø9$# 4n<Î) öNÎgÏèÅ_$ŸÒtB ( uÍ?tFö;uŠÏ9ur ª!$# $tB Îû öNà2Írßß¹ }ÈÅcsyJãÏ9ur $tB Îû öNä3Î/qè=è% 3 ª!$#ur 7OŠÎ=tæ ÏN#xÎ/ ÍrߐÁ9$# ÇÊÎÍÈ

Artinya : Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[241], sedang segolongan lagi[242] Telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[243]. mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah". mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang Telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.

[241]  yaitu: orang-orang Islam yang Kuat keyakinannya.
[242]  yaitu: orang-orang Islam yang masih ragu-ragu.
[243]  ialah: sangkaan bahwa kalau Muhammad s.a.w. itu benar-benar nabi dan Rasul Allah, tentu dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.

Setelah Islam tersebar diberbagai belahan dunia dan kondisi masyarakat dan negara telah kondusif dan aman, umat Islam khususnya para ulama mempunyai waktu luang dan kesempatan untuk mengkaji ilmu-ilmu agama, khususnya masalah ayat-ayat mutasyabihat yang membutuhkan penafsiran sehingga pemahamannya membutuhkan akal fikiran, maka hal ini mendorong terjadinya perbedaan pendapat yang berakibat lahirnya ilmu kalam.

Pengaruh politik umat Islam, khususnya mengenai khalifah. Inilah yang sering melahirkan perselisihan dan perseteruan dikalangan umat Islam. Spt : perang jamal, perang shiffin dsb.

Banyaknya umat Islam yang sebelumnya penganut agama lain, bahkan ada yang telah menjadi ulama dalam agamanya terdahulu. Maka setelah memeluk agama Islam, mereka kembali mengingat-ingat ajaran agama lamanya danakhirnya bercampurlah ajaran agamalamanya tersebut dengan ajaran Islam.

Untuk mempertahankan ajaran Islam dari serangan filsafat dan ilmu lgika terutama tentang ketuhanan,maka umat Islam khususnya Mu’tazilah memusatkan pikirannya dibidang ilmu ketuhanan ini, dan mereka mengkajinya melalui filsafat, logika dan sebagainya.  

Posting Komentar Blogger