INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
Penjelasan aqidah pada masa Nabi MuhammadSAW dan sahabat - Aqidah
pada masa Nabi Muhammad SAW tidaklah memuncukan persoalan di Kalangan kaum
Muslimin, dikarenakan mereka tidak mempersoalkannya. Kalau muncul persoalan
mereka selalu bertanya kepada Rasulullah. Mereka hanya menerima, memahami, dan
melaksanakan apa yang disampaikan Rasulullah. Rasulullah dalam menyelesaikan
masalah selalu berdasarkan pada wahyu. Sebagaimana firman Allah SWT dalam QS.
An-Najm ayat 3 – 4 :
$tBur ß,ÏÜZt Ç`tã #uqolù;$# ÇÌÈ ÷bÎ) uqèd wÎ) ÖÓórur 4Óyrqã ÇÍÈ
Artinya : Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa
nafsunya. Ucapannya itu tiada lain
hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).
Sepanjang masa Nabi SAW, kaum muslimin hanya
mempunyai satu aqidah yang sama yaitu apa yang terdapat di dalam al-Qur’an dan
apa yang sesuai dengan metode kitabullah tersebut. Mereka hidup di masa
turunnya wahyu dan mendapat kemuliaan menjadi sahabat-sahabat Rasul. Cahaya
persahabatan tersebut telah menghilangkan kegelapan, keraguan dan
khayalan,kekuatan iman yang mereka miliki tidak pernah menimbulkan satu
pertanyaanpun yang mengandung unsur keraguan, mereka tidak berusaha mencari
ilmu yang Allah sendiri tidak mengajarkannya kepada manusia.
Merekalah yang paling baik dan tinggi matabatnya
diantara umat ini. Karena jalan yang mereka tempuh dalam membahas aqidah serta
penyampaiannya lebih selamat, bijaksana dan lebih mendalam daripada metode-metode lain. Inila metode
rasul yang berdasarkan metode al-Qur’an dalam membahas aqidah. Dengan metode
ini orang akan mendapatkan kepuasan jiwa.
Setiap mukmin
diwajibkan menaati Allah dan Rasul-Nya, memang kita diperbolehkan dan saling
menyalahkan, karena kalau umat Islam telah oleh Rasulullah berbeda pendapat,
selama perbedaan itu tidak mengakibatkan kita berpecah-belah saling menyalahkan
akan membawa dampak yang besar terhadap persatuan umat Islam. Firman Allah QS.
Al-Anfal ayat 46.
(#qãèÏÛr&ur
©!$# ¼ã&s!qßuur
wur (#qããt»uZs?
(#qè=t±øÿtGsù |=ydõs?ur
ö/ä3çtÍ (
(#ÿrçÉ9ô¹$#ur 4
¨bÎ) ©!$#
yìtB úïÎÉ9»¢Á9$#
ÇÍÏÈ
Artinya: Dan
taatlah kepada Allah dan rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang
menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah.
Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.
Setelah Rasulullah SAW wafat dan
digantikan oleh khalifah Rasyidin, semasa pemerintahan Abu bakar dan Umar umat
Islam tidak sempa membahas dasar-dasar aqidah, karena mereka sibuk menghadapi
musuh dan berusaha mempertahankan persatuan dan kesatuan umat Islam.
Tidak pernah terjadi perbedaan di
dalam bidang aqidah. Mereka membaca dan memahami Al-Qur’an tanpa mencari takwil
bagi ayat-ayat yang mereka baca. Mereka mengimaninya dengan menyerahkan pena’wilannya
kepada Allah sendiri.
Dimasa khalifah ketiga, akibat
terjadi kekacauan politik yang diakhiri dengan terbunuhnya khalifah Usman bin
Affan, umat Islam terpecah menjadi beberapa golongan dan aliran. Setelah itu
masing-masing aliran tersebut berusaha mempertahankan pendiriannya dengan
perkataan dan usaha, dan terbukalah pintu takwil bagi nash-nash al-Qur’an dan
Hadits, dan terjadilah pembuatannya riwayat-riwayat palsu.
Akibat terjadina riwayat-riwayat
palsu berlanjut dengan munculnya firqah (kelompok)
yang memunculka masalah baru dibidang politik dan agama, apalagi munculnya
kefanatikan dalam kelompok yang satu dengan yang lainnya, bahkan muncul
peperangan-peperangan.
Namun firqah-firqah yang beraneka
ragam itu, secara garis besarnya hanya terdiri dari empat kelompok yaitu syi’ah,
khawarij, murji’ah dan mu’tazilah
Al-Qur’an sendiri menjelaskan
bahwa ada beberapa agama, golongan dan kepercayaan yang menolak kehadiran agama
Islam, tidak mempercayai Tuhan dan kenabian Muhammad SAW. Sebagai nabi dan
rasul terakhir. Mereka itu disebutkan secara nyata dalam Al-Qur’an,
diantaranya:
Golongan yang mengingkari agama
dan adanya Tuhan, mereka menyatakan bahwa yang menyebabkan kerusakan hanyalah waktu.
QS Al-Jatsiyah : 24
(#qä9$s%ur $tB }Ïd wÎ) $uZè?$uym $u÷R9$# ßNqßJtR $uøtwUur $tBur !$uZä3Î=ökç wÎ) ã÷d¤$!$# 4 $tBur Mçlm; y7Ï9ºxÎ/ ô`ÏB AOù=Ïæ ( ÷bÎ) öLèe wÎ) tbqZÝàt ÇËÍÈ
Artinya : Dan mereka berkata: "Kehidupan Ini tidak lain hanyalah
kehidupan di dunia saja, kita mati dan kita hidup dan tidak ada yang akan
membinasakan kita selain masa", dan mereka sekali-kali tidak mempunyai
pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah menduga-duga saja.
Golongan yang mempercayai Tuhan
lebih dari satu ( syirik ), menyembah bintang, bulan, matahari, menyembah Nabi
Isa AS dan ibunda Maryam, dan menyembah berhala-berhala.
QS Al-An’am : 77 – 78
$£Jn=sù
#uäu
tyJs)ø9$#
$ZîÎ$t/
tA$s%
#x»yd
În1u
( !$£Jn=sù
@sùr&
tA$s%
ûÈõs9
öN©9
ÎTÏöku
În1u
úsðqà2V{
z`ÏB
ÏQöqs)ø9$#
tû,Îk!!$Ò9$#
ÇÐÐÈ
$£Jn=sù
#uäu
}§ôJ¤±9$#
ZpxîÎ$t/
tA$s%
#x»yd
În1u
!#x»yd
çt9ò2r&
( !$£Jn=sù
ôMn=sùr&
tA$s%
ÉQöqs)»t
ÎoTÎ)
ÖäüÌt/
$£JÏiB
tbqä.Îô³è@
ÇÐÑÈ
Artinya : Kemudian tatkala dia melihat bulan terbit dia
berkata: "Inilah Tuhanku". tetapi setelah bulan itu terbenam, dia
berkata: "Sesungguhnya jika Tuhanku tidak memberi petunjuk kepadaku,
Pastilah Aku termasuk orang yang sesat." Kemudian tatkala ia melihat matahari terbit, dia berkata:
"Inilah Tuhanku, Ini yang lebih besar". Maka tatkala matahari itu
terbenam, dia berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku berlepas diri dari
apa yang kamu persekutukan.
Golongan yang tidak percaya akan
Nabi dan Rasul Allah dan tidak meyakini adanya hari akhirat.
QS. Al-Isra’ : 94
$tBur yìuZtB }¨$¨Z9$# br&
(#þqãZÏB÷sã øÎ) æLèeuä!%y` #yßgø9$# HwÎ) br&
(#þqä9$s%
y]yèt/r& ª!$# #Z|³o0
Zwqߧ
ÇÒÍÈ
Artinya : Dan tidak ada sesuatu yang menghalangi manusia untuk
beriman tatkala datang petunjuk kepadanya, kecuali perkataan mereka:
"Adakah Allah mengutus seorang manusia menjadi rasuI?"
Golongan yang menyatakan bahwa
semua yang terjadi di alam ini adalah perbuatan Allah semata, manusia tidak
berdaya mempengaruhi kekuasaan-Nya.
QS. Ali-Imran : 154
§NèO
tAtRr&
Nä3øn=tæ
.`ÏiB
Ï÷èt/ ÉdOtóø9$#
ZpuZtBr& $U$yèR 4Óy´øót Zpxÿͬ!$sÛ öNä3ZÏiB (
×pxÿͬ!$sÛur ôs% öNåk÷J£Jydr& öNåkߦàÿRr&
cqZÝàt
«!$$Î/ uöxî Èd,ysø9$#
£`sß Ïp§Î=Îg»yfø9$#
(
cqä9qà)t @yd
$oY©9
z`ÏB ÌøBF{$# `ÏB
&äóÓx« 3
ö@è% ¨bÎ) tøBF{$# ¼ã&©#ä.
¬! 3
tbqàÿøä
þÎû NÍkŦàÿRr& $¨B
w tbrßö6ã
s9 (
tbqä9qà)t öqs9 tb%x.
$oYs9
z`ÏB ÌøBF{$# ÖäóÓx« $¨B
$uZù=ÏGè%
$oYßg»yd 3
@è%
öq©9 ÷LäêYä.
Îû
öNä3Ï?qãç/
yuy9s9 tûïÏ%©!$#
|=ÏGä. ãNÎgøn=tæ ã@÷Fs)ø9$# 4n<Î) öNÎgÏèÅ_$ÒtB
(
uÍ?tFö;uÏ9ur ª!$# $tB
Îû
öNà2Írßß¹
}ÈÅcsyJãÏ9ur
$tB
Îû
öNä3Î/qè=è%
3
ª!$#ur 7OÎ=tæ
ÏN#xÎ/
ÍrßÁ9$# ÇÊÎÍÈ
Artinya : Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah
menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari
pada kamu[241], sedang segolongan lagi[242] Telah dicemaskan oleh diri mereka
sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan
jahiliyah[243]. mereka berkata: "Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak
campur tangan) dalam urusan ini?". Katakanlah: "Sesungguhnya urusan
itu seluruhnya di tangan Allah". mereka menyembunyikan dalam hati mereka
apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: "Sekiranya ada
bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita
tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini". Katakanlah: "Sekiranya kamu
berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang Telah ditakdirkan akan mati
terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh". dan Allah (berbuat
demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa
yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.
[241] yaitu:
orang-orang Islam yang Kuat keyakinannya.
[242] yaitu:
orang-orang Islam yang masih ragu-ragu.
[243] ialah:
sangkaan bahwa kalau Muhammad s.a.w. itu benar-benar nabi dan Rasul Allah,
tentu dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.
Setelah Islam tersebar diberbagai
belahan dunia dan kondisi masyarakat dan negara telah kondusif dan aman, umat
Islam khususnya para ulama mempunyai waktu luang dan kesempatan untuk mengkaji
ilmu-ilmu agama, khususnya masalah ayat-ayat mutasyabihat yang membutuhkan
penafsiran sehingga pemahamannya membutuhkan akal fikiran, maka hal ini
mendorong terjadinya perbedaan pendapat yang berakibat lahirnya ilmu kalam.
Pengaruh politik umat Islam,
khususnya mengenai khalifah. Inilah yang sering melahirkan perselisihan dan
perseteruan dikalangan umat Islam. Spt : perang jamal, perang shiffin dsb.
Banyaknya umat Islam yang
sebelumnya penganut agama lain, bahkan ada yang telah menjadi ulama dalam
agamanya terdahulu. Maka setelah memeluk agama Islam, mereka kembali
mengingat-ingat ajaran agama lamanya danakhirnya bercampurlah ajaran
agamalamanya tersebut dengan ajaran Islam.
Untuk mempertahankan ajaran Islam
dari serangan filsafat dan ilmu lgika terutama tentang ketuhanan,maka umat
Islam khususnya Mu’tazilah memusatkan pikirannya dibidang ilmu ketuhanan ini,
dan mereka mengkajinya melalui filsafat, logika dan sebagainya.
Posting Komentar Blogger Facebook