INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
Menjelaskan persoalan Isra’dan mi’raj - Pengertian Isra’ dan mi’raj. Isra’ adalah perjalanan
malam Nabi Muhammad saw. Dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha
yang juga sering disebut Baitul Maqdis, dalam waktu yang
sangat singkat. Adapun mi’raj adalah naik ke langit dunia dan terus ke Sidratil
Muntaha, untuk mengetahui sebagian dari kebesaran Allah dan untuk menerima
perintah shalat lima waktu. Sejak terjadinya, kurang lebih 124 abad yang lalu
isra’ dan mi’raj terud dikenal diseluruh dunia,
baik dikalangan umat Islam maupun dikalangan non Muslim
Bagi kaum muslimin, kebenaran
terjadinya isra’ dan mi’raj itu didasarkan pada firman Allah swt :
Artinya : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’ : 1)
Artinya : “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran)Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Al-Isra’ : 1)
Selanjutnya Allah swt juga berfirman dalam surat An-najm ayat 13. Artinya : “Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang
asli) pada waktu orang lain, (yaitu) di Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga
tempat tinggal. Muhammad melihat Jibril ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh
sesuatu yang meliputinya. Penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang
dilihatnya itu dan tidak (pula)melampauinya. Sesungguhnya dia telah melihat
sebagian tanda-tanda (Kekuasaan) Tuhan-nya yang paling besar.” (An-Najm:13-18)
Tentang terjadinya peristiwa
isra’ dan mi’raj tidak terdapat perbedaan pendapat dikalangan para ulama, sebab
peristiwa tersebut sudah jelas tercantum dalam Al-Qur’an surat Al-Isra’ ayat 1
dan surat An-Najm ayat 13-18. Walaupun ayat ini menceritakan Nabi Muhammad saw.
Melihat Jibril, tetapi karena ketika melihat itu berada di Sidratil Muntaha,
maka jelas saat itu Nami sedang mi’raj. Namun mengenai tempat dan waktu serta
cara keberangkatan Nabi, terdapat berbagai pendapat.
Ada yang menyatakan bahwa
perjalan Nabi yang hanya 2/3 malam itu hanya ruhnya saja, tetapi ada juga yang
menyatakan kedua-duanya, yaitu jasad serta ruh atau dalam bentuk manusia utuh.
Mengenai tempat sebagian besar
ulama berpendapat, bahwa Nabi Muhammad memulai isra’ dari Masjidil Haram
seperti tercantum dalam Al-Qur’an, tetapi ada juga ulama yang menyatakan bahwa
Nabi Muhammad diberangkatkan oleh Allah dari rumah Ummi Hani saudara sepupu
beliau di Makkah.
Sedangkan Anas dan Hasan Basri
berpendapat, terjadinya isra’ dan mi’raj itu lebih dari 13 tahun sebelum hijrah
yaitu sebelum Muhammad diangkat menjadi rasul, namun pendapat yang paling
terkenal dikalangan kaum muslimin yaitu bahwa peristiwa isra’ mi’raj terjadi
pada malam tanggal 27 Rajab, setahun sebelum hijrah.
Adapun mengenai cara isra’ dan
mi’raj, terdapat perbedaan pendapat diantara ulama. Sebaian Ulama berpendapat
bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj itu terjadi atas diri Nabi dalam keadaan sadar
sekaligus jasad dengan ruh, bukan merupakan mimpi sewaktu tidur. Ulama yang berpendapat
ini mengemukakan alasan sebagai berikut
Kata ( `»ysö6ß) (Maha Suci) pada permulaan ayat,
tersirat makna kagum, dankekaguman itu hany terjadi atas perkara-perkara
besar. Bila isra’ dan mi’raj hanya merupakan mimpi di waktu tidur, pasti bukan
perkara besar yang pantas dikagumi, karena mimpi adalah perkara biasa yang
dapat terjadi bagi setiap makhluk dimalam hari maupun siang hari.
Jika isra’ dan mi’raj itu hanya
mimpi, maka orang-orang Quraisy tidak akan teruru-buru menyatakan Muhammad
pembohong, tidak mungkin orang-orang yang sudah beriman kembali murtad pada
saat itu juga, Ummi Hani tidak akan melarang Nabi untuk menceritakan pengalaman
isra’ dan mi’rajnya pada orang lain tidak pula Abu Bakar mendapat keutamaan
“Ash-Shiddiq”karena beliau langsung percaya atas pengalaman Nabi itu.
Kalimat (عبده) hamba-Nya dalam
ayat 1 surat Al-Isra’ tersebut diatas jelas menunjukkan arti kesatuan ruh dan
jasad.
Kata ru’ya ( الرءيا )
dalam firman Allah surat Al-Isra’ ayat 60 yaitu :
Diartikan
“penglihatan mata” yang dialami Rasulullah saw, sewaktu beliau melaksanakan
isra’, sehingga ayat tersebut artinya :
“Dan Kami tidak menjadikan penglihatan mata yang telah Kami perlihatkan
kepadamu, melainkan sebagai ujian bagi manusia” (Al-Isa’:60)
Dengan pengertian ini diambil
kesimpulan bahwa Nabi ber isra’ itu dengan ruh dan jasadnya, bukan sekedar
mimpi, sebab mata itu jasmani bagian dari jasad
Kecepatan gerak seperti tersebut
dalam hadits isra’ itu mungkin terjadi, sebab Al-Qur’an pernah diceritakan
bahwa Nabi Sulaiman a.s. dibawa angina kebeberapa tempat yang jauh dalam waktu
yang sangat singkat. Tantang hal itu Al-Qur’an menyatakan :
Artinya :“Dan Kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman, yang perjalanannya
diwaktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan perjalanannya di waktu sore
sama dengan sebulan pula” (Saba : 12).
Dalam Al-Qur’an juga terdapat
sebuah cerita bahwa seorang alim tentang Al-Kitab, bernama Ashif bin Birkhiya
telah dapat mendatangkan singgasana Ratu Bulkis dari ujung negeri Yaman ke
ujung negeri Syam dalam sekejab mata, sedangkan firman Allah swt. Dalam surat
An-Naml ayat 40 :
tArtinya : Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari Al-Kitab : “Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip” (An-Naml:40)
Maka Ashif pun minta supaya
Sulaiman melihat keatas kemudian ketika Nabi Sulaiman melihat keatas itu, Ashif
berdo’a kepada Allah dengan “Ismul a’zhim” agar Allah mendatangkan singgasana
itu. Do’a itu dikabulkan kemudian muncul dihadapan Nabi Sulaiman. Jika hal itu
bisa terjadi pada sebagian oaring, pada semua orangpun bisa terjadi,
lebih-lebih nabi Muhammad saw. Seorang rasul.
Selain pendapat tersebut diatas
ada juga para ulama yang berpendapat bahwa peristiwa isra’ mi’raj itu hanya
dengan ruh saja. Alasan para ulama tersebut antara lain
Kata ( لرءيا ) dalam firman
Allah swt Al-Isra’ ayat 60 itu berarti mimpi
Sangat tidak dapat diterima akal,
kecepatan luar biasa yang diceritakan dalam perisiwa isra’ mi’raj itu, apalagi
terjadi sekaligus ruh dan jasad Nabi.
Jika kecepatan luar biasa itu
memang benar terjadi tentu merupakan mu’jizat yang terbesar dan harus dapat
dibuktikan dihadapan oaring banyak yang berkumpul untuk mendengar cerita Nabi tentang
itu, sehingga dapat dijadikan bukti atau dalil atas pengakuannya sebagai Nabi.
Naik dengan jasad kea lam hampa
udara itu, sangat mustahil karena bagaimanapun manusia tidak akan hidup atau
bernafs disana
Dibelahnya perut Nabi saw,
kemudian dicuci dengan air zam-zam hal ini sangat membingungkan, sebab yang
dicuci dengan air adalah najis-najis ‘ainiyah (fisik, bukan akidah yang salah
atau akhlak tercela).
Mondar-mandirnya Rasulullah untuk
meminta keringanan tengan shalat 5 (lima) waktu, yang pertam telah ditetapkan
Allah swt. Sebanyak 50 (lima puluh) kali sehari semalam, menurut Qadhi Abu
Bakar Al-Baqilani hal itu tidak mungkin, sebab mengganti (Nasakh) hukum sebelum
dikerjakan suatu hal yang mustahil bagi Allah swt.
Inti dari isra’ dan mi’raj yang
penting adalah yang diberikan Allah swt. kepada semua (orang Islam) untuk
shalat lima waktu, dimana kita
diharapkan untuk berkomunikasi langsung dengan-Nya sehingga kita dapat selalu
memperoleh bimbingan-Nya dan dijauhakn dari kesesatan, kemungkaran dan kemerosoan moral.
Bagaimanapun seseorang itu telah
merasa terpelajar dan maju, tentunya mereka harus mengakui bahwa kemampuan
akalnya terbatas.
Oleh karena itu unsure
keimanan/kepercayaan untuk memahami sesuatu masalah adalah suatu hal yang
sangat penting dan perlu kita punyai. Sebagi contoh, seorang insinyur yang
ingin membuat rancangan suatu jembatan yang akan dipergunakan di dalam
kontruksi dan ia percaya saja kepada si pembuat tabel. Ia membuka buku daftar
matematika serta mengambil angka-angka yang diperlukan dalam perhitungannya dan
ia percaya kepada kebenaran angka-angka itu; dan seterusnya. Tanpa memasukkan
unsur kepercayaan dalam pekerjaan kita sehari-hari, hidup didunia ini tidak
dapat digambarkan.
Dalam memahami peristiwa isra’
dan mi’raj juga memerlukan pendekatan keimanan sebab dalam peristiwa isra’ dan
mi’raj itu banyak hal-hal yang diluar jangkauan pikiran manusia biasa.
Dengan mewujudkan peristiwa isra’
dan mi’raj terhadap diri Rasulullah saw, Allah swt. telah menunjukkan kepada
Rasul-Nya tanda-tanda kekuasaan-Nya yang hebat dan dahsyat. Hal itu merupakan
peragaan praktis bagi rasul-Nya, suatu cara mengajar terbaik, sehingga walaupun
beliau tidak pernah belajar disekolah maupun pada seorang guru atau pun terbang
dengan menggunakan peralatan ilmiah, tetapi Nabi telah melihat/mengetahui
kejadian alam yang pada dasarnya tidak dapat dijangkau oleh pikiran manusia biasa.
Kecuali dengan ilmu pengetahuan, sedangkan pengetahuan manusia itu sendiri juga
terbatas. Manusia tidak dapat memikirkan kejadian semacam iu sebagaimanafirman
Allah swt
Artinya: “Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit.” (Al-Isra’
:85)
Apa yang dapat kita temui maupun
kita lihat tiap hari, berupa macam-macam alat perhubungan yang dapat
mempercepat perjalanan, misalnya pesawat terbang yang menjadi penghubung antar
benua atau antar Negara dan daerah, bahkan ruang angkasa sekalipun, menyebabkan
kita bertambah yakin bahwa peristiwa isra’ dan mi’raj itu masalah yang bisa
terjadi atau setidaknya bukan perkara yang mustahil bagi Allah swt.
Posting Komentar Blogger Facebook