INGIN IKLAN ANDA DISINI ?
Dapatkan Tawaran Menarik
Silahkan Kontak Admin
Terima Kasih


Sahabat Yang Mendapat Gelar Al-Muktsirun Fir Ar-Riwayah - Abu Hurairah (21 SH – 59 H = 602 M – 679 M) Nama “Abu Hurairah” adalah nama kunyah atau gelar, yang diberikan oleh Rasul SAW, karena sikapnya yang sangat menyayangi kucing peliharaannya. Sedangkan nama aslinya di masa Jahiliyah adalah ‘Abd Syams ibn Sakhr.

Kemudian ketika masuk Islam Nabi SAW, menggantinya dengan Abdurrahman ibn Sakhr Al-Dausi (dari Bani Daus ibn Adnan) Al- Yamani. Ia adalah salah seorang sahabat Rasul SAW yang diberi gelar kehormatan oleh para ulama dengan Al-Imam, Al-Faqih, Al-Mujtahid, dan Al-Hafidz. Dialah salah satu sahabatyang didoakan Rasulullah agar mempunyai kekuatan hafalan yang tinggi. Ia dilahirkan pada 19 sebelum hijriyah, sedang meninggalnya di Al-‘Aqiq pada tahun 59 H.

http://www.ponpeshamka.com/2015/10/biografi-singkat-tokoh-ulama-hadis.htm
Sejak memeluk agama Islam beliau selalu beserta Nabi dan menjadi ketua Jama’ah ahli al-shuffah. Abu Hurairah dikenal sebagai sosok sahabat yang sangat sederhana dalam kehidupan materi, wara’, dan takwa. Seluruh hidupnya diabdikan untuk selalu beribadah kepada Alllah SWT. Ia pernah diangkat menjadi pegawai di Bahrain pada masa khalifah Umar ibn Khattab, akan tetapi ia kemudian diberhentikan, karena keterbiasaannya yang terlalu banyak meriwayatkan hadis.

Kebiasaan ini bertentangan dengan kebijaksanaan Umar ibn Al Khattab yang pada saat itu sedang memperketat izin periwayatan hadis. Pada masa khalifah Ali ibn Abi Thalib ia menolak untuk diangkat jadi pegawai. Akan tetapi pada masa Muawiyah ia merima menduduki jabatan sebagai penguasa di Madinah.

Hadis-hadis yang diterimanya, diriwayatkan oleh sekitar 800 orang dari kalangan Sahabat dan Tabi’in. dari kalangan para sahabat antara lain, Abdullah ibn Abbas, Abdullah ibn Umar, Jabir ibn Abdillah, Anas ibn Malik. Sedang dari kalangan Tabi’in yaitu Sa’id ibn Al-Musayyab, Ibn Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid, dan Al-Sya’b. Menurut keterangan Ibnu Jauzy dalam Talqih Fuhumi Ahl Al-Atsar, bahwa hadis yang diriwayatkannya sebanyak 5.374 buah. Beliau adalah seorang perawi dari kalangan Shahaby yang paling banyak meriwayatakan hadis.

Di antara silsilah sanad yang paling shahih untuk hadis-hadis yang diterima dari Abu Hurairah ialah melalui Ibn Syihab Al-Zuhri, dari Sa’id ibn Al-Musayyab. Sedang silsilah sanad yang paling lemah ialah melalui Al-Sirri ibn Sulaiman dari Daud ibn Yazid Al-Audi dari Yazid (ayah Al-Sirri).

Dalam beberapa riwayat disebutkan, bahwa ia juga termasuk salah seorang sahabat yang memiliki catatan hadis-hadis dari Rasul SAW. Di antara hadis yang diriwayatkannya juga tercatat beberapa nama yang menulis hadis yang diterima darinya, antara lain Abu Shalih Al-Samani, Basyir ibn Nuhaik, Abd Al-Aziz ibn Marwan, Muhammad ibn Sirin, dan Marwan ibn Hakam.

Abdullah ibn UmarAbdullah ibn Umar (biasa disebut dengan “Ibn Umar”) lahir pada  tahun 10 sebelum Hijriyah, setelah peristiwa pengangkatan Rasul SAW dan meninggal pada tahun 74 H. Ia masuk Islam bersama ayahnya pada usia 10 tahun (ada yang berpendapat 13 tahun), dan termasuk salah seorang dari empat sahabat yang mendapat gelar “Abdullah”. Menurut Malik ibn Anas dan Ibn Syihab Al-Zuhri, ia mengetahui sepenuhnya berbagai urusan yang dihadapi Rasul SAW dan para sahabatnya. Kata Malik “Selama 60 tahun ibn Umar, semenjak Nabi wafat, memberi fatwa dan meriwayatkan hadis.”

Dalam kehidupan sehari-harinya menurut pandangan para ulama, baik kalangan para sahabat maupun Tabi’in, bahwa pribadi Ibnu Umar mencerminkan seorang ulama yang hanya mengharapkan ridha Allah SWT semata, sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud, Jabir, dan Ibn Al-Musayyab. Begitu tidak mau campur tangan atas segala rupa fitnah yang terjadi di masanya. Dalam kalangan sahabat, ia dikenal sebagai orang yang terkenal meneladani segala gerak-gerik Rasul. Sehingga, sebagaimana dituturkan Ibn Syihab Al-Zuhri, bahwa di kalangan Tabi’in tidak pernah ada seorang pun yang berpaling dari pandangan-pandangannya.

Hadis-hadis yang diterimanya, selain langsung dari Rasul SAW, juga dari para sahabat lainnya, seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, A’isyah, Hafsah (saudaranya), dan Abdullah ibn Mas’ud. Para Tabi’in yang meriwayatkan hadis darinya banyak sekali, diantaranya ialah Sa’id ibn Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Basri, Ibn Syihab Al-Zuhri, Ibn Sirin, Nafi’, Mujahid, Thawus, Ikrimah. Dalam periwayatan hadis di kalangan para sahabat ia menududuki rangking kedua, dengan jumlah hadis yang diriwayatkannya sebanyak 2.630 buah, 1700 diantaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim. Bukhari sendiri meriwayatkan 81 buah, sedangkan Muslim meriwayatkan 31 buah.

Diantara silsilah senad yang paling shahih, yang sampai kepada Abdullah ibn Umar, ialah melalui Malik ibn Anas dari Nafi’. Sedangkan yang paling lemah ialah melalui Muhammad Abdullah ibn Al-Qasim dari ayahnya kemudian dari kakeknya.

Di samping menghafal hadis-hadis yang diterimanya, beliau juga menuliskannya dalam beberapa Risalah-nya. Hal ini di antaranya diketahui oleh Nafi. Diantara hadis-hadis yang diwatakannya ada juga yang ditulis oleh para ulama yang menerimanya, seperti Sa’id ibn Jubair, Abd Al-Aziz ibn Marwan, Abd Al-Malik ibn Marwan dan Nafi’ (maulanya).

Anas ibn Malik (10 s.H. – 93 612 H + 612 M – 912 M)Nama lengkap Anas ibn Malik adalah Anas ibn Malik ibn Al-Nadhar ibn Dhamdham ibn Zaid ibn Haram ibn Jundub ibn Amir ibn Ganam ibn Addi ibn Al-Najar Al-Anshari. Ia dikenal juga dengan sebutan Abu Hamzah.

Anas ibn Malik lahir pada tahun 10 sebelum Hijriah, dan wafat pada tahun 93 H di Bashrah. Beliau adalah sahabat yang paling akhir meninggal di Basrah.

Ia hidup bersama Rasul SAW dalam kedudukannya sebagai pembantu, yang dipersembahkan oleh Ibunya (Ummu Sulaim) pada usia 10 tahun. Ayahnya bernama Malik ibn Al-Nadhar, yang silsilah keturunannya sampai kepada Ibn’ Addi ibn Al-Naja. Rasul SAW sendiri memperlakukannya dengan sangat bijaksana, bukan sebagai seorang tuan kepada pembantunya. Dalam hal ini, Anas pernah bercerita bahwa Rasul SAW tidak pernah menyinggung perasaannya, bermasam muka, atau menegur apa saja yang dikerjakan atau yang ditinggalkannya, kecuali hanya menyerahkannya kepada Allah SWT.

Kepribadiannya yang dikenal di kalangan para sahabat adalah ketaqwaan dan kewaraan. Abu Hurairah pernah berkomentar, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang shalatnya menyerupai Rasul SAW, kecuali Ibnu Sulaim (Anas ibn Malik)”. Komentar yang hampir sama juga dikemukakan oleh Ibn Sirin.

Hadis-hadis yang diterimanya, selain langsung dari Rasul SAW juga dari para sahabat lainnya seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Fatimah Al-Zahra’, Tsabit ibn Qais, Abdurrahman ibn Auf, Ibn Mas’ud Ubay ibn Ka’ab, Mu’adz ibn Jabal, dan banyak lagi sahabat lainnya. Sedangkan dari kalangan para Tabi’in adalah Al-Hasan Al-Bisyri, Sulaiman Al Tamimi, Abu Qilabah, Ishaq ibn Abi Thalhah, Abd Al Aziz ibn Suhaib, Qatadah, Humaid Al-Thawil, dan Muhammad ibn Sirin. Dalam periwayatan Hadis di kalangan para sahabat ia adalah orang ketiga di antara ketujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, dengan jumlah yang diriwayatkannya sebanyak 2.286 buah. Sejumlah 166 hadis disepakati oleh Bukhari dan Muslim, 93 diantaranya diriwayatkan oleh Bukhari sendiri dan 70 diriwayatkan oleh Muslim sendiri.

Silsilah sanad yang paling shahih, yang sampai kepadanya, ialah melalui Malik ibn Anas dari Ibn Syihab Al-Zuhri. Sedangkan yang paling lemah, ialah melalui Daud ibn Al-Muhabbir dari ayahnya di hari Abban ibn Iyasy.

Karena keluasan ilmunya tersebut, Qatadah mengatakan bahwa di hari Anas wafat, Muwarrid berkata, “pada hari ini telah lenyap seperdua ilmu.”

Siti‘Aisyah Al-Shiddiqiah (9 s.H – 58 H = - 668 M)Siti A’isyah adalah isteri Rasul SAW, putrid Abu Bakar Al Shiddiq. Ia merupakan satu-satunya isteri Rasul SAW yang banyak meriwayatkan hadis, eminggal pada hari Senin, 17 Ramadhan 58 H.

Tentang kelebihan ilmunya, Ibn Syibah Al-Zuhri pernah memberikan penilaian, “Jika ilmu istri-istri Rasul SAW dikumpulkan ditambah ilmu wanita-wanita lainnya, tentu tidak akan mengunggulimu ‘Aisyah. Komentar yang sama juga dikemukakan oleh Urwah. Penghargaan yang sangat tinggi juga disampaikan, diantaranya oleh ayah Hisyam. Menurutnya, tidak ada sahabat yang sepandai Aisyah dalam mengetahui diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an, hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan, peristiwa-peristiwa penting, silsilah keturunan dan banyak hal lainnya. Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juga memberikan komentar tentang keluasan ilmu ‘Aisyah ini, “Sungguh, seperempat hukum syariat diriwayatkan darinya.”

Dalam menyampaikan sebuah hadis, Aisyah kerap kali menggambarkan perihal yang menyebabkan Nabi mengeluarkan hadis dan dalam kontek apa maksud dan tujuan yang hendak ditentukan. Itulah sebagian dari keluasan ilmunya.

Selain menerima hadis-hadisnya langsung dari Rasul SAW, ia juga menerima dari sahabat-sahabat lainnya, seperti Abu Bakar (Ayahnya), Umar, Sa’ad bin Waqas, Fathimah Al-Zahra dan Usaid ibn Khudhair. Sementara yang menerima hadis dari Aisyah bukan para Tabi’in tetapi juga para sahabat lainnya. Di antara para sahabat yang meriwayatkan hadis darinya adalah Abu Hurairah, Abu Musa Al-Asy’ari Zaid ibn Khalid Al-Juhni, dan Shafiyah binti Syaibah. Sedangkan para Tabi’in yang merima hadis darinya di antara ialah Said ibn Al-Musayyab, Al Qamah ibn Qais, Masruq ibn Al-Ajda’, Aisyah binti Thalhah, Amaran binti Abdurrahman, Hafsah binti Sirin.

Dalam jajaran para perawi di kalangan sahabat, ia adalah orang ke empat diantara tujuh sahabat yang meriwayatkan hadis dengan jumlah hadis yang diriwayatkannya sebanyak 2.210 buah. Bukhari Muslim menyepakati di antaranya sejumlah 174 hadis, Bukhari sendiri meriwayatkan 174 hadis dan Muslim meriwayatkan 63 hadis.

Silsilah sanad yang paling tinggi derajatnya sampai kepadanya, ialah melalui Yahya ibn Sa’id dari Ubaidillah ibn Amr ibn Hafs dari Al-Qasim ibn Muhammad. Silsilah lainnya ialah melalui Ibn Syihab Al-Zuhri atau Hisyam ibn Urwah ibn Al-Zubair. Sedangkan silsilah sanad yang paling lemah, ialah melalui Al-Harits ibn Syubl dari Ummu Al-Nu’man.

Murid-murid ‘Aisyah di antaranya ulama generasi Tabi’in. setidaknya ada empat ulama besar yang lahir darinya, antara lain Urwah ibn Zubair, Al-Qasim ibn Muhammad, Umrah binti Abdurrahman dan Mu’adzah Al-Adawiyah.

Hadis-hadis dan fatwa-fatwa yang pernah diralat ‘Aisyah telah dibukukan, setidaknya oleh :

  1. Imam Badruddin Al-Zarkasyi dalam Kitab Al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu “Aisyah ‘ala Al-Shahabah
  2. Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Aina Al-Ishabah fi Istidrak ‘Aisyah ‘ala ‘as-Shahabah.

Abdullah ibn Abbas (3 s.H – 68 H = 616 M – 687 M). Abdullah ibn Abbas adalah anak paman Rasul SAW, Al-‘Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn Manaf AL-Makki Al-Madaniat Al-Tha’ifi. Sedang ibunya adalah saudara Maimunah istri Rasulullah SAW, yaitu Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Haris Al-Hilaliyah. Ia dilahirkan 3 tahun sebelum hijriah, dan meninggal di Tha’if tahun 68 H.

Tentang kepribadian dan kelebihan Ibn Abbas, di antaranya disebutkan bahwa Rasul SAW, pernah mendoakannya yang dikabulkan oleh Allah SWT, dengan do’anya “Allahumma faqqihu fi al-din wa ‘allamahu al-ta’wil”. (Ya Allah, semoga engkau memberi kepahaman kepadanya). Ubaidillah ibn Abdullah ibn Utbah pernah berkata, bahwa pengetahuan Ibn Abbas dalam fiqh, Tafsir al-Qur’an, Bahasa Arab, Sya’ir, ilmu Hisab dan ilmu waris tidak ada yang mengunggulinya.

Hadis-hadis yang telah diriwayatkannya di samping diterima dari Rasul SAW, juga menerima dari ayah dan ibunya, Abu Bakar, Utsman, Ali, Umar dan Ubay ibn Ka’ab, Muadz ibn Jabal dan sahabat-sahabat lainnya. Sedangkan para ulama yang meriwayatkannya hadisnya di antaranya ialah Abdullah ibn Umar, Abu Al-Thufail, Sa’id ibn Al-Musayyab, Anas ibn Malik, Sahal ibn Hanif, Ikrimah (maula-nya), dan lain-lainnya. Dalam jajaran para perawi hadis di kalangan para sahabat ia adalah orang kelima dari tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, dengan jumlah sebanyak 1.660 buah hadis 95 antaranya disepakati oleh Bukhari-Muslim, 29 buah di antaranya diriwayatkan Bukhari sendiri dan 49 diriwayatkan oleh Muslim sendiri.

Hadis yang langsung diterima dari Nabi SAW sendiri, sebagaimana yang ditemukan pada shahih Bukhari dan Muslim, adalah lebih dari 10 hadis. Sedang menurut para ulama lainnya, sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Asqalani, menyebutkan jumlahnya lebih kecil dari itu, menurut Al-Ghazali hanya 4 hadis, menurut Ghandar hanya 9 hadis, dan menurut Yahya Al-Qaththan hanya 10 hadis.

Silsilah sanad hadis yang paling tinggi nilainya yang sampai kepadanya, ialah melalui Ibn Syihab Al-Zuhri dari Ubaidillah ibn Abdillah ibn Utbah. Sedang silsilah yang paling lemah ialah melalui Muhammad ibn Marwan as-Suddi Al-Shaghir dari Al-Kalbi dari Abu Shalih.

Posting Komentar Blogger