INGIN IKLAN ANDA DISINI ? Dapatkan Tawaran Menarik Silahkan Kontak Admin Terima Kasih |
Sahabat Yang Mendapat Gelar Al-Muktsirun Fir Ar-Riwayah - Abu Hurairah (21 SH – 59 H = 602 M – 679 M) Nama “Abu
Hurairah” adalah nama kunyah atau gelar, yang diberikan oleh Rasul SAW, karena
sikapnya yang sangat menyayangi kucing peliharaannya. Sedangkan nama aslinya di
masa Jahiliyah adalah ‘Abd Syams ibn Sakhr.
Kemudian ketika
masuk Islam Nabi SAW, menggantinya dengan Abdurrahman ibn Sakhr Al-Dausi (dari
Bani Daus ibn Adnan) Al- Yamani. Ia adalah salah seorang sahabat Rasul SAW yang
diberi gelar kehormatan oleh para ulama dengan Al-Imam, Al-Faqih, Al-Mujtahid,
dan Al-Hafidz. Dialah salah satu sahabatyang didoakan Rasulullah agar mempunyai
kekuatan hafalan yang tinggi. Ia dilahirkan pada 19 sebelum hijriyah, sedang
meninggalnya di Al-‘Aqiq pada tahun 59 H.
Sejak memeluk
agama Islam beliau selalu beserta Nabi dan menjadi ketua Jama’ah ahli
al-shuffah. Abu Hurairah dikenal
sebagai sosok sahabat yang sangat sederhana dalam kehidupan materi, wara’, dan
takwa. Seluruh hidupnya diabdikan untuk selalu beribadah kepada Alllah SWT. Ia pernah
diangkat menjadi pegawai di Bahrain
pada masa khalifah Umar ibn Khattab, akan tetapi ia kemudian diberhentikan,
karena keterbiasaannya yang terlalu banyak meriwayatkan hadis.
Kebiasaan ini
bertentangan dengan kebijaksanaan Umar ibn Al Khattab yang pada saat itu sedang
memperketat izin periwayatan hadis. Pada masa khalifah Ali ibn Abi Thalib ia
menolak untuk diangkat jadi pegawai. Akan tetapi pada masa Muawiyah ia merima
menduduki jabatan sebagai penguasa di Madinah.
Hadis-hadis yang
diterimanya, diriwayatkan oleh sekitar 800 orang dari kalangan Sahabat dan
Tabi’in. dari kalangan para sahabat antara lain, Abdullah ibn Abbas, Abdullah
ibn Umar, Jabir ibn Abdillah, Anas ibn Malik. Sedang dari kalangan Tabi’in
yaitu Sa’id ibn Al-Musayyab, Ibn Sirin, Ikrimah, Atha’, Mujahid, dan Al-Sya’b. Menurut
keterangan Ibnu Jauzy dalam Talqih Fuhumi Ahl Al-Atsar, bahwa hadis yang
diriwayatkannya sebanyak 5.374 buah. Beliau adalah seorang perawi dari kalangan
Shahaby yang paling banyak meriwayatakan hadis.
Di antara
silsilah sanad yang paling shahih untuk hadis-hadis yang diterima dari Abu
Hurairah ialah melalui Ibn Syihab Al-Zuhri, dari Sa’id ibn Al-Musayyab. Sedang
silsilah sanad yang paling lemah ialah melalui Al-Sirri ibn Sulaiman dari Daud
ibn Yazid Al-Audi dari Yazid (ayah Al-Sirri).
Dalam beberapa
riwayat disebutkan, bahwa ia juga termasuk salah seorang sahabat yang memiliki
catatan hadis-hadis dari Rasul SAW. Di antara hadis yang diriwayatkannya juga
tercatat beberapa nama yang menulis hadis yang diterima darinya, antara lain
Abu Shalih Al-Samani, Basyir ibn Nuhaik, Abd Al-Aziz ibn Marwan, Muhammad ibn
Sirin, dan Marwan ibn Hakam.
Abdullah ibn Umar. Abdullah ibn
Umar (biasa disebut dengan “Ibn Umar”) lahir pada tahun 10 sebelum Hijriyah, setelah peristiwa
pengangkatan Rasul SAW dan meninggal pada tahun 74 H. Ia masuk Islam bersama
ayahnya pada usia 10 tahun (ada yang berpendapat 13 tahun), dan termasuk salah
seorang dari empat sahabat yang mendapat gelar “Abdullah”. Menurut Malik ibn
Anas dan Ibn Syihab Al-Zuhri ,
ia mengetahui sepenuhnya berbagai
urusan yang dihadapi Rasul SAW dan para sahabatnya. Kata Malik “Selama 60 tahun
ibn Umar, semenjak Nabi wafat, memberi fatwa dan meriwayatkan hadis.”
Dalam kehidupan
sehari-harinya menurut pandangan para ulama, baik kalangan para sahabat maupun
Tabi’in, bahwa pribadi Ibnu Umar mencerminkan seorang ulama yang hanya
mengharapkan ridha Allah SWT semata, sebagaimana dikatakan Ibnu Mas’ud, Jabir,
dan Ibn Al-Musayyab. Begitu tidak mau campur tangan atas segala rupa fitnah
yang terjadi di masanya. Dalam kalangan sahabat, ia dikenal sebagai orang yang
terkenal meneladani segala gerak-gerik Rasul. Sehingga, sebagaimana dituturkan
Ibn Syihab Al-Zuhri, bahwa di kalangan Tabi’in tidak pernah ada seorang pun
yang berpaling dari pandangan-pandangannya.
Hadis-hadis yang
diterimanya, selain langsung dari Rasul SAW, juga dari para sahabat lainnya,
seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, A’isyah, Hafsah (saudaranya), dan Abdullah ibn
Mas’ud. Para Tabi’in yang meriwayatkan hadis darinya banyak sekali, diantaranya
ialah Sa’id ibn Al-Musayyab, Al-Hasan Al-Basri, Ibn Syihab Al-Zuhri, Ibn Sirin,
Nafi’, Mujahid, Thawus, Ikrimah. Dalam periwayatan hadis di kalangan para
sahabat ia menududuki rangking kedua, dengan jumlah hadis yang diriwayatkannya
sebanyak 2.630 buah, 1700 diantaranya disepakati oleh Bukhari dan Muslim.
Bukhari sendiri meriwayatkan 81 buah, sedangkan Muslim meriwayatkan 31 buah.
Diantara
silsilah senad yang paling shahih, yang sampai kepada Abdullah ibn Umar, ialah
melalui Malik ibn Anas dari Nafi’. Sedangkan yang paling lemah ialah melalui
Muhammad Abdullah ibn Al-Qasim dari ayahnya kemudian dari kakeknya.
Di samping
menghafal hadis-hadis yang diterimanya, beliau juga menuliskannya dalam
beberapa Risalah-nya. Hal ini di antaranya diketahui oleh Nafi. Diantara
hadis-hadis yang diwatakannya ada juga yang ditulis oleh para ulama yang
menerimanya, seperti Sa’id ibn Jubair, Abd Al-Aziz ibn Marwan, Abd Al-Malik ibn
Marwan dan Nafi’ (maulanya).
Anas ibn Malik (10 s.H. – 93 612 H + 612 M – 912 M). Nama lengkap
Anas ibn Malik adalah Anas ibn Malik ibn Al-Nadhar ibn Dhamdham ibn Zaid ibn
Haram ibn Jundub ibn Amir ibn Ganam ibn Addi ibn Al-Najar Al-Anshari. Ia
dikenal juga dengan sebutan Abu Hamzah.
Anas ibn Malik
lahir pada tahun 10 sebelum Hijriah, dan wafat pada tahun 93 H di Bashrah.
Beliau adalah sahabat yang paling akhir meninggal di Basrah.
Ia hidup bersama
Rasul SAW dalam kedudukannya sebagai pembantu, yang dipersembahkan oleh Ibunya
(Ummu Sulaim) pada usia 10 tahun. Ayahnya bernama Malik ibn Al-Nadhar, yang
silsilah keturunannya sampai kepada Ibn’ Addi ibn Al-Naja. Rasul SAW sendiri
memperlakukannya dengan sangat bijaksana, bukan sebagai seorang tuan kepada
pembantunya. Dalam hal ini, Anas pernah bercerita bahwa Rasul SAW tidak pernah
menyinggung perasaannya, bermasam muka, atau menegur apa saja yang dikerjakan
atau yang ditinggalkannya, kecuali hanya menyerahkannya kepada Allah SWT.
Kepribadiannya yang
dikenal di kalangan para sahabat adalah ketaqwaan dan kewaraan. Abu Hurairah
pernah berkomentar, “Aku tidak pernah melihat seorang pun yang shalatnya
menyerupai Rasul SAW, kecuali Ibnu Sulaim (Anas ibn Malik)”. Komentar yang
hampir sama juga dikemukakan oleh Ibn Sirin.
Hadis-hadis yang
diterimanya, selain langsung dari Rasul SAW juga dari para sahabat lainnya
seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Fatimah Al-Zahra’, Tsabit ibn Qais,
Abdurrahman ibn Auf, Ibn Mas’ud Ubay ibn Ka’ab, Mu’adz ibn Jabal, dan banyak
lagi sahabat lainnya. Sedangkan dari kalangan para Tabi’in adalah Al-Hasan
Al-Bisyri, Sulaiman Al Tamimi, Abu Qilabah, Ishaq ibn Abi Thalhah, Abd Al Aziz
ibn Suhaib, Qatadah, Humaid Al-Thawil, dan Muhammad ibn Sirin. Dalam
periwayatan Hadis di kalangan para sahabat ia adalah orang ketiga di antara
ketujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, dengan jumlah yang
diriwayatkannya sebanyak 2.286 buah. Sejumlah 166 hadis disepakati oleh Bukhari
dan Muslim, 93 diantaranya diriwayatkan oleh Bukhari sendiri dan 70
diriwayatkan oleh Muslim sendiri.
Silsilah sanad
yang paling shahih, yang sampai kepadanya, ialah melalui Malik ibn Anas dari
Ibn Syihab Al-Zuhri. Sedangkan yang paling lemah, ialah melalui Daud ibn
Al-Muhabbir dari ayahnya di hari Abban ibn Iyasy.
Karena keluasan
ilmunya tersebut, Qatadah mengatakan bahwa di hari Anas wafat, Muwarrid
berkata, “pada hari ini telah lenyap seperdua ilmu.”
Siti‘Aisyah Al-Shiddiqiah (9 s.H – 58 H = - 668 M). Siti A’isyah
adalah isteri Rasul SAW, putrid Abu Bakar Al Shiddiq. Ia merupakan satu-satunya
isteri Rasul SAW yang banyak meriwayatkan hadis, eminggal pada hari Senin, 17
Ramadhan 58 H.
Tentang
kelebihan ilmunya, Ibn Syibah Al-Zuhri pernah memberikan penilaian, “Jika ilmu
istri-istri Rasul SAW dikumpulkan ditambah ilmu wanita-wanita lainnya, tentu
tidak akan mengunggulimu ‘Aisyah. Komentar yang sama juga dikemukakan oleh
Urwah. Penghargaan yang sangat tinggi juga disampaikan, diantaranya oleh ayah
Hisyam. Menurutnya, tidak ada sahabat yang sepandai Aisyah dalam mengetahui
diturunkannya ayat-ayat al-Qur’an, hal-hal yang diwajibkan dan disunnahkan,
peristiwa-peristiwa penting, silsilah keturunan dan banyak hal lainnya.
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak juga memberikan komentar tentang keluasan ilmu
‘Aisyah ini, “Sungguh, seperempat hukum syariat diriwayatkan darinya.”
Dalam
menyampaikan sebuah hadis, Aisyah kerap kali menggambarkan perihal yang
menyebabkan Nabi mengeluarkan hadis dan dalam kontek apa maksud dan tujuan yang
hendak ditentukan. Itulah sebagian dari keluasan ilmunya.
Selain menerima
hadis-hadisnya langsung dari Rasul SAW, ia juga menerima dari sahabat-sahabat
lainnya, seperti Abu Bakar (Ayahnya), Umar, Sa’ad bin Waqas, Fathimah Al-Zahra
dan Usaid ibn Khudhair. Sementara yang menerima hadis dari Aisyah bukan para
Tabi’in tetapi juga para sahabat lainnya. Di antara para sahabat yang
meriwayatkan hadis darinya adalah Abu Hurairah, Abu Musa Al-Asy’ari Zaid ibn
Khalid Al-Juhni, dan Shafiyah binti Syaibah. Sedangkan para Tabi’in yang merima
hadis darinya di antara ialah Said ibn Al-Musayyab, Al Qamah ibn Qais, Masruq
ibn Al-Ajda’, Aisyah binti Thalhah, Amaran binti Abdurrahman, Hafsah binti
Sirin.
Dalam jajaran
para perawi di kalangan sahabat, ia adalah orang ke empat diantara tujuh
sahabat yang meriwayatkan hadis dengan jumlah hadis yang diriwayatkannya sebanyak
2.210 buah. Bukhari Muslim menyepakati di antaranya sejumlah 174 hadis, Bukhari
sendiri meriwayatkan 174 hadis dan Muslim meriwayatkan 63 hadis.
Silsilah sanad yang
paling tinggi derajatnya sampai kepadanya, ialah melalui Yahya ibn Sa’id dari
Ubaidillah ibn Amr ibn Hafs dari Al-Qasim ibn Muhammad. Silsilah lainnya ialah
melalui Ibn Syihab Al-Zuhri atau Hisyam ibn Urwah ibn Al-Zubair. Sedangkan
silsilah sanad yang paling lemah, ialah melalui Al-Harits ibn Syubl dari Ummu
Al-Nu’man.
Murid-murid
‘Aisyah di antaranya ulama generasi Tabi’in. setidaknya ada empat ulama besar
yang lahir darinya, antara lain Urwah ibn Zubair, Al-Qasim ibn Muhammad, Umrah
binti Abdurrahman dan Mu’adzah Al-Adawiyah.
Hadis-hadis dan
fatwa-fatwa yang pernah diralat ‘Aisyah telah dibukukan, setidaknya oleh :
- Imam Badruddin Al-Zarkasyi dalam Kitab Al-Ijabah li Iradi ma Istadrakathu “Aisyah ‘ala Al-Shahabah
- Jalal Al-Din Al-Suyuthi, Aina Al-Ishabah fi Istidrak ‘Aisyah ‘ala ‘as-Shahabah.
Abdullah ibn Abbas (3 s.H – 68 H = 616 M – 687 M). Abdullah ibn
Abbas adalah anak paman Rasul SAW, Al-‘Abbas ibn Abdul Muthalib ibn Hasyim ibn
Manaf AL-Makki Al-Madaniat Al-Tha’ifi. Sedang ibunya adalah saudara Maimunah
istri Rasulullah SAW, yaitu Ummu Al-Fadhl Lubabah binti Al-Haris Al-Hilaliyah.
Ia dilahirkan 3 tahun sebelum hijriah, dan meninggal di Tha’if tahun 68 H.
Tentang
kepribadian dan kelebihan Ibn Abbas, di antaranya disebutkan bahwa Rasul SAW,
pernah mendoakannya yang dikabulkan oleh Allah SWT, dengan do’anya “Allahumma
faqqihu fi al-din wa ‘allamahu al-ta’wil”. (Ya Allah, semoga engkau memberi
kepahaman kepadanya). Ubaidillah ibn Abdullah ibn Utbah pernah berkata, bahwa
pengetahuan Ibn Abbas dalam fiqh, Tafsir al-Qur’an, Bahasa Arab, Sya’ir, ilmu
Hisab dan ilmu waris tidak ada yang mengunggulinya.
Hadis-hadis yang
telah diriwayatkannya di samping diterima dari Rasul SAW, juga menerima dari
ayah dan ibunya, Abu Bakar, Utsman, Ali, Umar dan Ubay ibn Ka’ab, Muadz ibn
Jabal dan sahabat-sahabat lainnya. Sedangkan para ulama yang meriwayatkannya
hadisnya di antaranya ialah Abdullah ibn Umar, Abu Al-Thufail, Sa’id ibn
Al-Musayyab, Anas ibn Malik, Sahal ibn Hanif, Ikrimah (maula-nya), dan
lain-lainnya. Dalam jajaran para perawi hadis di kalangan para sahabat ia
adalah orang kelima dari tujuh sahabat yang banyak meriwayatkan hadis, dengan
jumlah sebanyak 1.660 buah hadis 95 antaranya disepakati oleh Bukhari-Muslim,
29 buah di antaranya diriwayatkan Bukhari sendiri dan 49 diriwayatkan oleh
Muslim sendiri.
Hadis yang langsung
diterima dari Nabi SAW sendiri, sebagaimana yang ditemukan pada shahih Bukhari
dan Muslim, adalah lebih dari 10 hadis. Sedang menurut para ulama lainnya,
sebagaimana yang dikemukakan oleh Al-Asqalani, menyebutkan jumlahnya lebih kecil
dari itu, menurut Al-Ghazali hanya 4 hadis, menurut Ghandar hanya 9 hadis, dan
menurut Yahya Al-Qaththan hanya 10 hadis.
Silsilah sanad
hadis yang paling tinggi nilainya yang sampai kepadanya, ialah melalui Ibn
Syihab Al-Zuhri dari Ubaidillah ibn Abdillah ibn Utbah. Sedang silsilah yang
paling lemah ialah melalui Muhammad ibn Marwan as-Suddi Al-Shaghir dari
Al-Kalbi dari Abu Shalih.
Posting Komentar Blogger Facebook